Batas

Baru-baru ini, saya mendengar dari kedua orang tua saya bahwa ada salah satu pekerja yang meninggal di Malaysia. Entah apa penyebabnya, saya tak begitu memperhatikan. Yang saya tahu hanyalah sebatas ada seorang pekerja yang meninggal. Saya tidak tahu namanya, bentuk wajahnya, sifatnya apalagi hobinya.

Seorang pekerja tersebut meninggalkan beberapa kerabat/keluarga. Dan saya pun kaget ketika diceritakan lebih lanjut bahwa kematiannya justru disyukuri oleh sebagian keluarganya. Mendengarnya pertama kali saya merasa ada yang ganjil. Aneh tapi nyata. Masa sih, ada seorang dari suatu keluarga yang meninggal malah disyukuri? 

Selidik punya selidik, berangkatnya pekerja tersebut untuk bekerja di Malaysia memang sangat dianjurkan keluarganya. Saya mendengar sedikit dari Ibu dan mengira-ngira bahwa pekerja tersebut sewaktu di Indonesia sering mengancam akan membunuh keluarganya. Dia stress. Dan keluarganya tentu mendukung kepergiannya (yang malah menjadi selamanya) ke Malaysia. Sampai meninggal pun justru disyukuri.

Saya menghargai sepenuhnya apapun reaksi yang dikeluarkan keluarga pekerja tersebut. Itu hak mereka. Saya pun tidak tahu dan mengerti betul bagaimana sesungguhnya sejarah kehidupan mereka. Jadi saya tidak memiliki cukup kepahaman atas "mensyukuri kematian" tersebut. Tapi, saya melihat ada batas disini. Batas antara anggota keluarga dengan kematiannya.

Dan saya terlintas berpikir dan menanyakan hal tersebut. Dimana letak kesedihan dan kehilangan seperti yang keluarga lain alami ketika kehilangan salah satu anggotanya? Apa hanya karena ancaman tersebut semua kasih sayang yang dibina dalam keluarga hilang? Saya tidak ingin menduga-duga apa yang keluarga tersebut lakukan setelah kematiannya. Tapi mensyukuri kematian adalah hal yang paling aneh yang pernah saya dengar. (Saya sering mendengar tentang mensyukuri kematian oleh teman-teman, tapi hanya sekedar becanda)

Batas antara anggota keluarga dengan kematiannya yang saya maksud adalah semacam alarm kepuasan bagi keluarga tersebut (Setidaknya ini analisa saya, betul atau tidaknya tidak tahu). Alarm yang sudah di-setting sedemikian rupa sehingga begitu sampai waktunya, keluarga merasa terbangun dan puas. Sampai waktunya adalah kematian pekerja tersebut. Merasa terbangun berarti tidak ada lagi ancaman pembunuhan, yang membuat mereka (keluarga) takut dan "tertidur" sementara. Puas berarti lega. Lega hidup jadi lebih nyaman.

Sungguh saya tidak bisa membayangkan, dan terlalu menyedihkan membayangkannya jika ternyata pekerja tersebut belum mati, sementara di luar sana sebagian keluarganya mensyukuri kematiannya. "Lemas darah" (istilah yang sering digunakan ayah saya untuk menyebut tidak punya lagi gairah hidup) mungkin cocoknya. Sebagian keluarga tidak mengharapkan kehidupannya, malah seakan menyuruh untuk cepat-cepat mati. Cepat-cepat pergi dari dunia. Sebagian keluarga! Ironis.

Saya, yang bukan siapa-siapanya, merasakan suatu "tembakan" mendadak yang membuat saya kembali lagi memikirkan kehidupan saya. Selama ini saya merasa aman bersama keluarga yang sangat dicintai dan mencintai saya. Tapi, belum tentu masyarakat luas mencintai saya. Bagaimana jika ketika suatu saat nanti, kematian saya disyukuri masyarakat? Bagaimana jika masyarakat memiliki "alarm kepuasan" tadi? 

Hidup tidak selamanya ideal. Keluarga tak selamanya berisi kumpulan orang-orang yang mencintai kehadiran kita. Semoga perkara ini menjadi perkara ironis yang pertama dan terakhir kalinya saya dengar dalam kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang