La mémoire
Di malam yang suntuk itu saya teringat akan kenangan. Kenangan indah, manis, lucu, idiot, muak, sakit, ceria, tertawa, bersama. Malam telah berhasil mengantarkan saya melewati satu per satu gerbang masa lalu yang menyimpan ceritanya. Sampai lupa berapa lamanya, karena memang nikmat mengingat kenangan itu.
Saya bertanya-tanya, sesungguhnya apa hubungan antara kenangan dengan hari ini? Mengapa pada hari ini muncul kenangan hari itu? Tanda-tanda apa yang coba menjerumuskan saya? Dan satu pertanyaan terakhir, kenangan itu membuat senang dan akhirnya menyenangkan atau justru malah menyakitkan?
Jika terlintas sedikit saja kenangan masa lalu, sebisa mungkin saya mencoba menikmatinya. Menurut saya, hal itu alamiah. Tak perlu dibuat pusing. Entah bagaimana cara menikmatinya, terserah. Yang penting, coba untuk berdamai dengan kenangan itu. Bukankah justru sebaliknya: bila kita memerangi kenangan masa lalu agar tidak mengingatnya, yang ada malah kenangan itu terus-terusan menghantui? Kenangan itu selalu melintas dengan gaya nakalnya? Dan ujung-ujungnya kita semakin tertekan dengan kenangan itu.
Pertanyaan-pertanyaan tadi biarlah menjadi pertanyaan bagi saya. Setiap kenangan adalah fakta masa lalu. Kenangan tidak bisa bohong dan membiarkan kita untuk menertawakan sepuasnya, mencerca separahnya, mengutuk sebisanya, dan mencintai setulusnya. Sayangnya, kadang kenangan tadi hadir di waktu yang tidak tepat. Inilah letak keunikan kenangan bagi saya. Kalau semua kenangan hadir di saat yang tepat, hidup tidak lagi misterius. Tidak lagi membuat penasaran.
Entah bagaimana, kenangan indah masa lalu, walaupun tidak relevan dengan keadaan kini, masih sering didengungkan dengan nada sombong. Saya pun terkadang melakukannya dan saya rasa perlu. Namun, hal ini justru menimbulkan satu masalah bagi diri saya: Buat apa mengagung-agungkan kenangan masa lalu buat orang lain yang sama sekali tidak peduli? Terkadang hidup menyakitkan, namun itulah faktanya. Saya tidak bisa menampik bahwa dengan mengagung-agungkan kenangan masa lalu, seseorang akan merasa "lebih". Dan pada beberapa, ada kesan yang diharapkan dari kenangan masa lalu tersebut. Kesan yang membuatnya berdiri lebih tegak, bicara lebih lantang, berlari lebih kencang, atau bahkan meninju lebih keras. Padahal, menurut saya, kesan yang coba diungkapkan dan disampaikan melalui jasa kenangan masa lalu itu, justru membuat pendengarnya bosan, mungkin acuh. Bisa juga sampah.
Setelah kenangan hadir, dengan masing-masing memori, kualitas, dan omong kosongnya, alangkah baiknya bila saat-saat berharga itu diisi dengan mendamaikan keadaan dengan kenangan. Maksudnya adalah tidak memperkeruh keadaan sekarang (realita detik ini) yang buruk hanya karena keindahan masa lalu yang mengusik dengan hebatnya. Sulit terkadang, namun hal itu sia-sia. Kenangan sulit (atau mungkin tidak bisa) dihapus. Apalagi kenangan itu terlalu manis. Lantas, saran saya adalah tertawakan. Terdengar gila dan aneh memang, namun tidak akan menyakitkan. Anggaplah kenangan itu cuma selintas saja ingin hadir dan eksis untuk terus menjadi penggoda realita. Karena kenangan tetaplah selamanya menjadi kenangan. Keadaannya tidak bisa dipaksakan untuk mengganti realita hidup sekarang.
Biarlah kenangan itu tetap ada dan menghibur. Saya tidak ingin larut dalam buaian indah kenangan, tetapi juga tidak ingin momen itu hilang. Kapan saja ingin hadir, datanglah kenangan. Aku ingin kita berdua saling bebas dan membebaskan.
Komentar
Posting Komentar