Merdeka
Saya artikan merdeka adalah bebas dari penindasan, pemaksaan, pembangkangan, dan segala hal yang bersifat mengekang. Kalau belum merdeka ya berarti belum bebas dari itu tadi. Masih ada ikatan/halangan. Masih ada bintil-bintil, belum bersih merdekanya. Seharusnya ya merdeka. Merasa bebas melakukan apa saja, dengan tanggung jawab tentunya.
Saya tidak mengerti banyak dan sampai batas mana sesungguhnya merdeka itu. Termasuk memerdekakan perasaan, pikiran hingga batin. Tak sedikit manusia di Indonesia, mungkin juga di Albania, Ceko, Etiopia, dan belahan bumi lainnya, yang mengalami pembatasan terhadap merdeka itu sendiri. Pikiran-pikiran merdeka nan liar banyak dicekal atas dasar norma dan nilai. Yang melanggar norma, yang dihukum. Pikiran/ide memang terkadang lebih berbahaya dan bersifat mengajak seseorang untuk hidup bersamanya. Saya tidak begitu fokus pada kemerdekaan pikiran pada tulisan ini.
Menurut pengalaman saya, banyak teman sebaya yang mengalami pembangkangan terhadap kemerdekaan perasaan itu. Kemerdekaan untuk menikmati indahnya perasaan mencintai dan mengagumi. Memang, perasaan tak cuma tentang dua hal tadi. Tapi saya hanya sedang ingin menuangkan pikiran saya pada kemerdekaan perasaan mencintai dan mengagumi.
Mencintai lawan jenis, atau sejenis, atau selain manusia, itu hak. Hak tiap-tiap individu. Semua orang berhak mencintai siapa saja. Tidak ada yang boleh melarang. Tetapi, kemerdekaan itu kadang dibarengi serta dibentengi oleh bayangan diri sendiri. Bayangan akan muncul kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima logika. Bayangan ini adalah musuh besar kemerdekaan. Eksis dan berkuasanya bayangan (yang anehnya justru dihasilkan pikiran sendiri) melangkahi kemerdekaan mencintai. Abstrak memang. Namun saya percaya dan meyakini hal ini.
Apa cuma bayangan tadi musuh kemerdekaan mencintai? Tentu tidak. Banyak sekali faktornya. Rambut pun kadang berpengaruh terhadap kemerdekaan mencintai. Boleh percaya boleh tidak. Maksudnya, gaya rambut seseorang pun akan mempengaruhi kemerdekaan tadi. Dengan gaya rambut seperti ini, muncul perasaan ragu untuk mendekati perempuan yang menghendaki gaya rambut seperti itu. Kemerdekaan mencintai, sedikit banyak, dipengaruhi hal-hal sepele.
Perangkat lain dari musuh kemerdekaan mencintai seseorang adalah perangkat pertemanan. Atas dasar "lebih baik menjadi teman", seseorang tidak bisa mencintai. Bisa sih mencintainya, tetapi mencintai sekadar teman. "Apalah itu mencintai teman, teman ya bukan untuk dicintai, teman untuk ditemani". Kecewa dan akhirnya hati tidak merdeka. "Kamu itu teman aku, Kita berteman aja ya". Betapa kecewanya hati. Memang ada beberapa yang merasa merdeka dengan ucapan seperti itu. Walaupun terdengar munafik dan tidak berprinsip.
Saya berhak mengagumi The Beatles, atau mereka berhak mengagumi Justin Bieber. Dalam hal ini, mengagumi juga bagian dari kemerdekaan. Yang terjadi adalah mengagumi karena dorongan luar diri yang lebih mampu menciptakan rasa kagum dibanding kagum karena memang kagum, tanpa ada dorongan eksternal. Dorongan eksternal bisa berupa trend. "Musik sekarang itu trendnya Jazz, maka yang lain kurang ngetrend". Dengan ucapan kecil seperti itu saja, saya memperkirakan banyak jiwa-jiwa menjadi tidak murni. Tidak merujuk nuraninya. Jiwa-jiwa yang luntang-lantung karena selalu bepergian ikuti trend.
"Tapi gue sukanya musik-musik Metal" Inilah yang saya sebut merdeka sepenuhnya. Mengikuti kata hati, bahwa baginya Metal adalah jiwanya. Tidak ada yang bisa membuat dirinya kagum selain Metal. Trend-trend yang sifatnya sementara itu tidak mampu menggugah kemerdekaan itu. Kemerdekaan yang berasal dari dalam hati yang tulus dan jujur. Bening tanpa distorsi pengaruh luar.
Saya menginginkan sekali tiap-tiap individu memiliki dan menjunjung tinggi tiap waktu kemerdekaan mencintai dan mengaguminya tersebut. Bayangkan, hati seseorang yang damai karena menuruti kemauan hati. Menuruti kemerdekaan yang dipunya. Saya juga berkhayal bila setiap laki-laki merasa bebas untuk mencintai perempuan manapun di seluruh dunia. Yang tentunya mengikuti kata hati tentang kemerdekaan dan bertanggung jawab. Sebab, merdeka bukanlah merdeka tanpa tanggung jawab. Merdeka tanpa tanggung jawab itu sengsara.
Komentar
Posting Komentar