Reaksi

Ada aksi ada reaksi. Hukum alam telah menunjukkan dengan gamblangnya. Kesadaran sebagai manusia untuk bereaksi atas suatu aksi merupakan hal yang alamiah terjadi. Semua memang begitu hukumnya.

Perguruan Tinggi Negeri adalah tempat dimana siswa-siswa se-Indonesia ingin melanjutkan pembelajarannya, dan meningkatkan "kasta". Dari siswa menjadi mahasiswa. Siswa-siswa itu banyak, sedangkan Perguruan Tinggi Negeri itu (bisa dibilang) sedikit. Kesempatan masuknya pun tipis karena memang banyak peminatnya. Disebabkan kesempatan untuk masuk yang tipis, siswa-siswa harus berjuang menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Dan saya melihat banyak reaksi yang bermunculan terhadap status "diterima" atau "ditolak" Perguruan Tinggi Negeri.

Saya lihat sebagian ada yang menyesal. Menyesal karena belum mengeluarkan kemampuan terbaik. Dan berjanji akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam jalur masuk lainnya. Wajar saja dan menurut saya bagus, semangat akan terjaga.

Yang saya sesalkan adalah semangat yang benar-benar hilang begitu tahu bahwa dirinya "gagal/"ditolak" PTN. 

Merasa bahwa belajar pun sia-sia karena tidak akan merubah. Apa yang diperlukan untuk sukses di ujian tertulis, yaitu semangat dan percaya diri, hilang disebabkan gagal pada tes tertulis pertama. Reaksi ini lumrah. Lumrah karena manusia kan beragam. Ada yang cepat putus asa, ada yang tahan banting, sampai ada yang mati rasa. Semua gara-gara Perguruan Tinggi Negeri. 

Sadarlah, bahwa setiap hal yang terjadi, sudah ada yang mengaturnya. Boleh kecewa, kesal namun tersenyumlah dan tidak perlu untuk terlalu larut. Kadang kita perlu untuk melihat diri kita lebih dalam. Dengan begitu, reaksi yang dikeluarkan adalah reaksi yang bijak. Usaha memang perlu, namun jangan sampai dengan mengatasnamakan usaha,  melewati batas kemampuan kita terhadap kemampuan dan kuasaNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang