SIM
Surat Izin Mengemudi merupakan lisensi resmi dari pemerintah kepada pengendara kendaraan bermotor. Tanpa SIM maka belum dapat dibilang pengendara resmi. Sekedar pengendara ilegal, pahitnya begitu.
Selama ini saya menjalankan roda dua tanpa SIM. Entah dorongan mana yang begitu kuatnya. Dorongan idealis seorang ayah atau dorongan malas mengurus SIM. Dorongan untuk tidak membuat SIM semakin menggebu-gebu karena ayah saya suatu ketika berkata "Udah gak usah bikin SIM. Kalo ketilang kasih aja gocap. Setaun sekali paling." Bagaimana mungkin, sejak saat itu saya semakin malas membuat SIM. Ditambah dengan lokasi pembuatan SIM yang jauh dan birokrasi yang ribet dan bertele-tele. SIM semakin buruk citranya di mata saya.
SIM pun tidak akan menjamin saya bebas dari kecelakaan. SIM cuma sebagai bukti keabsahan saya bahwa saya mampu mengendarai kendaraan bermotor. Bukti itu ada berdasarkan tes-tes (ya semua tahu, tes nya pun tidak semuanya fair, ada "jalan lain" disana). Menurut saya, tanpa di tes pun saya sudah mahir sekali menunggangi motor, jadi buat apa harus ada pengakuan? Buat apa harus ada SIM? Toh tesnya tidak berat dan saya mampu melewatinya dengan mudah.
Sekarang, mulai hari ini, saya tidak tahan juga. Saya membuat surat tanda saya sah dan mampu mengendarai kendaraan bermotor. Saya tidak ingin menceritakan lebih lanjut tentang pembuatannya, biarlah itu menjadi "rahasia negara". Tapi saya cuma ingin menceritakan bagaimana birokrasi yang berbelit-belit terjadi. Saya tidak mengerti letak saya sebagai orang awam di pembuatan SIM. Tetapi, dari penglihatan saya, pembuatan SIM tidaklah semestinya ribet seperti itu. Panjang sekali "ritual" yang harus dilewati. Atau mungkin saya yang terlalu malas dan membawa pandangan buruk saya selama pembuatan SIM. Maaf.
Saya sebenarnya tidak setuju dengan pembuatan SIM. Kalau sudah bisa menjaga diri dan mengendarai kendaraan dengan nyaman serta aman, walaupun otodidak, yasudah. Apa perlu lagi SIM kalau kita sudah merasa mantap dengan gaya tunggangan kita sehari-hari? Kalau kita jarang tabrakan? Kalau kita "pengertian" di jalanan. Toh, tes teori SIM juga sangat normatif sifatnya. Setidaknya begitu menurut saya.
Apapun keadaannya dan bagaimanapun kurang sukanya saya terhadap SIM, saya baru saja mengikuti rangkaiannya. Rangkaian membosankan. Walaupun di ujungnya ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa dijelaskan ketika melihat surat izin tersebut. Coba saja buat SIM, pasti puas. Saya sudah mengalaminya. Berkendara pun tidak takut-takut lagi. SIM membuat kepercayaan diri berkendara meningkat. Lantas, dimana posisi saya sebenarnya terhadap SIM? Mungkin hanya saya dan Allah yang tahu. Sebuah "Rahasia Negara".
Komentar
Posting Komentar