Teman

Berada di tengah teman-teman yang mendukung adalah suatu kesenangan dan kenikmatan. Banyak pelajaran hidup dapat dipetik dari teman. Apalagi teman dekat. Semakin baik teman terdekat, semakin baik diri. Semakin buruk teman terdekat, belum tentu semakin buruk. Tergantung bagaimana menyikapi hubungan pertemanan itu sendiri. Walaupun menurut kebiasaan, maka semakin buruk pula diri. Tapi api tak selalu dapat membakar. Hidup tak sesempit tentang kebiasaan.

Teman-teman yang memberi pengaruh, baik pengaruh ideologi, mental, pergaulan, serta sikap menghadapi hidup, akan membentuk pribadi seseorang dengan perlahan. Betapa banyak mereka yang berubah karena mengikuti kemauan teman. Saya tidak mengerti bagaimana hal ini terjadi. Mungkin perasaan-perasaan seperti tidak diakui keberadaannya, diacuhkan, dianggap kuno, dilabel culun, adalah sedikit sebabnya. Atas dasar perasaan seperti itu seseorang berubah, karena teman. Padahal, perasaan-perasaan itu tidak akan membunuh. Atau jangan-jangan perasaan-perasaan itu lebih menyakitkan dibanding dibunuh? Tidak menutup kemungkinan.

Saya bersyukur bagaimana saya didekatkan dengan teman-teman berkualitas olehNya. Sedari saya memulai belajar membaca, mencoba latihan musik, mengasah kemampuan berorganisasi hingga kini sedikit demi sedikit menekuni segelintir teori kemanusiaan. Semuanya hadir bersamaan dengan teman yang membantu. Dan menurut saya, belajar dengan teman itu berarti lebih dari belajar tentang satu objek saja. Belajar dengan teman juga belajar apa yang "tersembunyi". Dan saya tidak tahu, jangan-jangan yang "tersembunyi" ini yang lebih berguna bagi kehidupan. Hidup menyimpan berbagai rahasia.

Dengan teman, apa yang diperlukan dari pembelajaran mengenai kehidupan bertambah lengkap versi dan maknanya. Teman mengajarkan dan selalu menawarkan apa yang tidak diajarkan dan ditawarkan oleh guru dan orangtua. Teman memiliki suatu tempat yang berbeda: santai namun sakti. Pelan namun kadang menusuk. Seorang teman saya bisa mengajarkan tentang musik Beatles, seorang lagi bisa menuntun saya bicara dengan logat Jawa, seorang lagi sabar mengasah mental bertanding futsal. Dan banyak teman-teman lain, yang dengan santai namun pasti, menularkan "kesaktiannya" ke saya

Makan bersama dengan teman. Rasakanlah sensasinya. Ada kebebasan dan perasaan lepas dari kebiasaan. Jika dalam suatu keluarga makan diatur sedemikian rupa (misal harus di meja makan dan mendahulukan orang tua), makan dengan teman adalah hal yang berbeda. Karena sederajat, maka tidak perlu ada yang didahulukan. Juga tidak harus di meja makan. Itu baru makan dengan teman, belum yang lain-lain yang tentunya juga tidak kalah dalam menawarkan sensasi baru menikmati kehidupan.

Kadang saya menyesalkan bila ada sumpah serapah seseorang terhadap teman, bahkan sahabatnya sendiri. Sumpah serapah yang muncul akibat dikecewakan, dipermalukan, dikhianati, atau bahkan "dijilat". Letak penyesalan saya adalah sumpah serapah tidak bisa menyelesaikan perkara dengan cepat, bahkan memperkeruhnya.  

"Teman macam apa kamu!" adalah kata yang wajar diucapkan, wajar sekali kalau seseorang merasa dikecewakan. Dan itu ekspresi spontan yang jujur, tanpa ada pengaturan kesan sebelumnya. Sesuatu yang wajar namun membahayakan pertemanan juga. Saya bingung, tetapi amat menikmati hidup yang selalu memberikan banyak kemungkinan.

18 tahun kehidupan telah saya lalui. Banyak teman yang mewarnai dengan masing-masing tingkah lakunya. Semua berbeda. Bermakna. Dan tentu saja, bermanfaat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang