Bulutangkis
Cabang olahraga yang sering mengharumkan nama bangsa. Olahraga yang menghasilkan banyak atlit Indonesia mendunia. Olahraga yang bisa dilakukan di sepetak lapangan komplek. Olahraga yang mempererat silaturahmi antar warga. Dan olahraga yang sering dilombakan saat perayaan dirgahayu RI.
Olahraga ini menyimpan sedikit mitos yang terus membuat saya enggan untuk berada di lapangan dan berusaha untuk terus membalikkan shuttlecock ke area lawan. Mitos yang saya sendiri lupa darimana awal mulanya. Mungkin saja tetangga saat masa kecil dahulu, mungkin teman bermain futsal, mungkin teman diskusi, atau mungkin juga orang tua sendiri. Alangkah lucu dan konyol sebenarnya mitos tersebut.
Setelah cukup lama tidak bermain bulutangkis, pertimbangan bahwa mitos itu benar adanya semakin kuat. Bukan semakin kuat tepatnya, semakin "didukung". Ajakan-ajakan main bulutangkis adalah ajakan untuk memikirkan kembali mitos tersebut. Hingga sampai pada ajakan main bulutangkis yang terselubung yang akhirnya melunturkan mitos tersebut. Entah sebentar atau selamanya.
Mitos itu adalah bulutangkis akan menyebabkan masuk angin.
Entahlah, tapi saya cukup mempercayainya. Di luar kenikmatan bermain bulutangkis, biarlah mitos itu tetap ada. Toh, me-smash shuttlecock terlihat lebih menarik ketimbang memikirkan masuk angin. Bulutangkis lebih menarik ketimbang masuk angin. Bulutangkis lebih seru ketimbang mitos.
Hingga seorang teman pun berkata :"kita main indoor". Sedikit namun menggugurkan mitos yang telah lama saya ragukan.
Entahlah, tapi saya cukup mempercayainya. Di luar kenikmatan bermain bulutangkis, biarlah mitos itu tetap ada. Toh, me-smash shuttlecock terlihat lebih menarik ketimbang memikirkan masuk angin. Bulutangkis lebih menarik ketimbang masuk angin. Bulutangkis lebih seru ketimbang mitos.
Hingga seorang teman pun berkata :"kita main indoor". Sedikit namun menggugurkan mitos yang telah lama saya ragukan.
Komentar
Posting Komentar