Curug

"Buka mata, buka telinga, banyak yang indah di luar Jakarta". 

Mungkin kata-kata seperti inilah yang mendasari saya belakangan ini untuk ingin keluar dari Jakarta. Kesibukan selama liburan (mungkin belum bisa disebut sibuk bagi sebagian), telah berhasil membuat diri penat sepenuhnya. Saya ingin liburan dan mengembalikan semangat. Saya butuh udara segar. Saya butuh perenungan diri, setelah melalui kerasnya beberapa bagian dari kehidupan.

"Rencana saya adalah tidak merencanakan".

Mungkin liburan kali ini bukanlah liburan yang baik. Bahkan bisa dikatakan tidak direncanakan. Tetapi cukup untuk memenuhi dahaga, betapa hausnya akan pemandangan alam yang memanjakan mata. Saya capek dan jengkel kesibukan saya selalu saja berhadapan dengan kemacetan ibukota, polusi buskota, juga rongrongan tetek bengek lainnya. Liburan adalah harga mati!

Liburan tanpa rencana ini akhirnya menempatkan saya pada sebuah air terjun. Air terjun yang sederhana, akrab, dan selalu ramah menyambut. Seakan selalu merindu. Seperti "orang jauh" saja rasanya. Walaupun kali ini berbeda, tentunya. Curug Nangka tidak henti-hentinya membuat saya merasa nyaman. Suka atau tidak, warga Jakarta harus berterima kasih kepada salah satu air terjun terdekat ini. Sungguh, suasana Jumat kemarin itu damai mendamaikan. Hingga tidak terasa membawa saya pada beberapa lamunan masa lalu. 

Curug Nangka semakin bersahabat. Semakin singkat saja rasanya untuk mencapai puncaknya. Atau saya yang semakin kuat? Tidak usah dijadikan masalah, karena utamanya adalah air terjun ini berhasil membuat saya bahagia. Merasakan air terjun menepuk-nepuk punggung, mematuk-matuk dengan nakalnya ke tiap helai rambut, juga mengusap wajah dengan airnya yang jernih adalah kenikmatan yang tidak terjemahkan. Setidaknya, hal itu tidak saya temukan di kota dan kesibukannya. 

Mungkin, liburan memang patut untuk dijadikan kebutuhan primer manusia. Manusia, segila-gilanya dia terhadap kerjaannya, membutuhkan suatu celah dimana rasa akan memiliki alam semesta yang luar biasa indahnya. Lewat liburan juga manusia akan mendapatkan selintas pencerahan/renungan/pemikiran liar lain, yang sebelumnya tidak pernah melintas, bahkan terpikirkan. Karena itulah, liburan adalah suatu porsi spesial dalam hidup. 

Tapi, keindahan Curug Nangka tidak sepenuhnya berhasil membius dan memuaskan rasa keinginan saya untuk terus mendekat ke alam. Hal ini ditepis dengan halus oleh ucapan teman saya. Selama perjalanan mendaki menuju puncak air terjun, dia terlihat diam dan menikmati sepenuhnya keramahan alam Curug Nangka. Begitu sampai puncaknya, dia berkata seperti ini kira-kira: "Ah, ini sih belum ada apa-apanya". Simpel dan cukup membuat saya penasaran akan liburan yang menurutnya "ada apa-apanya". 

Curug Nangka adalah alternatif mengisi liburan yang sederhana, santai, dan (hampir) tidak terencana. Curug Nangka memang tidak menjanjikan apa-apa, tetapi bagi saya, selalu mampu melepaskan kepenatan dari hidup. Apa yang hidup disana, naturalnya, memanjakan seluruh jiwa dan raga. 

Lain waktu akan kucoba nikmati lagi keramahanmu dengan cara yang berbeda. Santai saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang