Jadwal
Bukan dengan jadwal saya pada awalnya membenci. Pada gigi. Geraham kanan tepatnya. Perlakuan terhadapnya sudah cukup baik. Menggosoknya dua kali sehari. Cukup kan? Geraham kanan mengganggu malam ceria ini. Geraham kanan, susah sekali dicarikan obatnya.
Tidak tahu asal muasal mengapa geraham tidak bersahabat. Cek mendadak dan sederhana menunjukkan memang harus ada yang dicopot. Geraham tidak kuat lagi. Saya juga tidak kuat mendengarnya. Mau berapa banyak gigi yang harus gugur. Makin menjadi-jadi di malam hari. Tidak apa lah berkorban demi geraham, setidaknya untuk malam ini (melewatkan babak kedua Indonesia vs Turkmenistan).
Untuk urusan gigi, saya memang menaruh kepercayaan tertinggi pada ilmu kedokteran. Saya rasa tidak masuk akal dan membuang-buang waktu jika saya percaya terhadap pengobatan tradisional (pengobatan saat saya balita dahulu, saat-saat sakit gigi terjadi sering sekali). Tetapi, kepercayaan saya terhadap dunia kedokteran ini sedikit dikecewakan oleh satu hal, jadwal.
Dimana-mana sudah terjadwal.
Hari ini saya sudah terlalu malam, dan rata-rata dari petugas kedokteran menyuruh saya untuk kembali dua hari lagi. Saya kecewa. Saya butuh sekarang, bukan dua hari lagi. Menunggu dua hari lagi sama saja membiarkan dua hari saya terlewat dengan teriak, meringis, merepotkan orang lain, emosi, dan segala hal buruk lainnya. Ah, mengapa semua terjadwal mirip? Saya cuma butuh satu dokter yang bisa mengatasi masalah gigi saya. Dokter yang jadwalnya berbeda dengan kebanyakan, mungkin.
Dimana-mana sudah terjadwal.
Hari ini saya sudah terlalu malam, dan rata-rata dari petugas kedokteran menyuruh saya untuk kembali dua hari lagi. Saya kecewa. Saya butuh sekarang, bukan dua hari lagi. Menunggu dua hari lagi sama saja membiarkan dua hari saya terlewat dengan teriak, meringis, merepotkan orang lain, emosi, dan segala hal buruk lainnya. Ah, mengapa semua terjadwal mirip? Saya cuma butuh satu dokter yang bisa mengatasi masalah gigi saya. Dokter yang jadwalnya berbeda dengan kebanyakan, mungkin.
Jadwal memang penting. Dengan jadwal, aktivitas teratur. Lancar dan mengalir dengan disetujui oleh masyarakat. Tanpa jadwal, bingung. Linglung, karena tidak tahu kapan saat seorang dokter hadir dan bersedia memberikan pelayanan terbaiknya. Jadwal memberikan kemudahan hidup. Tapi jadwal juga mempersulit. Saya merasakannya, dan mungkin sedikit disana juga merasakan apa yang saya rasakan. Ketika membutuhkan satu saja dokter gigi begitu sulitnya, karena semua sudah terjadwal. Dari 24 jam yang disediakan, maka saya harus mengikuti beberapa jam yang di dalamnya dokter bersedia melayani keluhan saya.
Tapi gigi geraham saya ini sakitnya tidak terjadwal.
Tapi gigi geraham saya ini sakitnya tidak terjadwal.
Susah sekali untuk melanggar jadwal, kecuali dengan perjanjian sebelumnya. Ah, saya ini kan tidak janjian juga sebelumnya dengan sakit gigi. Bagaimana caranya agar jadwal yang paten dan pasti ini bisa lentur, mengikuti kebutuhan saya? Bagaimana caranya agar dokter gigi itu yang dijadwalkan praktek pukul sembilan pagi sampai sembilan malam, mau melayani saya pada pukul sepuluh malam? Dan saya tidak mau mengeluarkan uang lebih banyak untuknya.
Malam ini, dalam hati terdalam saya kesal sekali dengan jadwal. Apabila dengan adanya jadwal para dokter (yang capek-capek mengeluarkan tenaga, pikiran juga biaya untuk meraihnya) tidak dapat melayani keluhan pasiennya. Buat apa capek-capek. Toh tidak ada gunanya kalau penyakit saya berlawanan dengan jadwal itu. Jadwal bisa membunuh pelan-pelan kalau begini caranya.
Saya memang tidak bisa menemukan alternatif lain selain adanya sistem penjadwalan itu sendiri. Semoga di lain waktu, ada seseorang dengan pemikiran luar biasa hebatnya yang mampu mengeluarkan sistem lebih handal dan berguna ketimbang jadwal. Ya, karena jadwal saya harus menahan nyeri geraham kanan sepanjang malam, sepertinya. Semoga tidak.
Komentar
Posting Komentar