Manut

Sering sekali saya alami mendapati Broadcast Message (BM) yang menjengkelkan.

"Smartphone" dengan pengguna, yang sayangnya, sulit untuk dikatakan smart. Sebaran-sebaran yang sama sekali tidak berguna, sifatnya memaksa, tidak tahu dari mana awal dan asalnya. Pokoknya, pesan harus terus bergulir dan ada ancaman bila berhenti di seseorang yang tidak meneruskannya. Ancaman yang kadang cukup menyeramkan. Cukup lucu, karena tidak masuk akal dan seakan membodohi. Dan banyak lain janji-janji manis yang disertakan berbarengan dengan ancaman menakutkan.

Suatu ketika saya dapatkan BM tentang bagaimana pemuda Indonesia itu menyalahgunakan trend. Saya sangat tidak habis pikir dengan BM seperti ini. (Tapi terima kasih, BM ini menghasilkan bahan untuk saya tulis disini). Dalam BM tersebut, dicantumkan beberapa "kesalahan gaul" remaja Indonesia. Saya ingat satu dan memang ini yang menurut saya menarik. 

"Di luar negeri, behel itu identik dengan orang culun"

Beberapa mungkin tahu, bahwa behel di Indonesia dewasa ini tidak hanya digunakan untuk fungsi memperbaiki gigi semata, tetapi juga fungsi estetis. Bahkan fungsi estetis melebihi fungsi kesehatan? Biarlah. Kira-kira seperti itu bunyinya. Saya tidak ingat betul.

Lantas, kalau memang di luar negeri behel identik dengan orang culun, di Indonesia juga harus patut mengikutinya? Saya kira tidak. Biar saja menjadi tren baru versi remaja Indonesia, mengapa harus selalu terpaku dengan tren luar negeri? Biar saja menjadi identik behel itu gaul, behel itu manis, behel itu cakep, atau apalah. Saya bukannya apa-apa atau pro dengan pengguna behel (lagipula saya belum pernah menggunakannya), tapi saya melihat mengapa perlu mengikuti Barat segitunya? Sampai-sampai, penggunaan behel pun bisa didikte.

"Manut" saja begitu. "Behel itu identik dengan culun" itu kan di Barat. Apa harus di Indonesia begitu juga? Malah, menurut saya, rata-rata pengguna behel bertambah manis saat tersenyum. Juga terlihat lebih asik. Masa yang manis dan asik itu dipaksa diidentikkan dengan culun?

Lihat saja faktanya, jangan memaksakan kehendak. Mungkin "behel itu gaul" lebih cocok di remaja Indonesia? Walaupun saya tahu banyak yang tidak setuju, tapi saya berbicara mengenai apa yang menurut saya memang begitu adanya. Subyektif sih.

Terasa betul, kebingungan untuk "berdiri dimana?" Tren telah berhasil mengombang-ambing sikap. "Manut" mungkin lebih baik, setidaknya bagi sebagian yang terombang-ambing tadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang