Poseur
Zaman terus berubah. Terkadang, perubahan diikuti oleh mereka-mereka yang sama sekali tidak/ mencari beridentitas.
Suatu waktu, mengagumi ini. Besok, karena banyak yang mengagumi itu, pindah lagi. Sesuatu yang membuat perasaan tidak nyaman, ketika idolanya digemari kebanyakan. Apa yang salah?
"Ah, udah gak asik lagi. Udah banyak yang tau"
"Dulu sebelum tenar sih masih enak lagu-lagunya"
Jadi, orang lain tidak boleh tau idolanya. Dan idolanya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Seperti tercipta suatu hubungan yang mengharuskan hanya dia seorang dengan idola. Sosok idola milik pribadi. Milik satu fans saja.
Perasaan tidak nyaman karena sang idola sudah terkenal dan banyak yang mengidolakan. Saya juga pernah mengalami hal ini. Berpindah-pindah aliran musik contohnya. Saya juga melihat banyak di luar sana yang menikmati sekali menjadi "poseur". Dandanan hari ini adalah celana pensil, rambut acak-acakan, baju ngejreng, dan dengarkan musik-musik yang nge-beat. Dandanan esok belum tentu sama. Dan tidak akan sama kalau idola-idola itu menjadi sosok yang mainstream. Sosok yang terkenal di masyarakat, sosok yang hadir tiap pagi di layar kaca dengan segala kebohongannya, juga sosok yang gampang diberitakan infotainment. Semua berubah begitu idola menjadi terkenal. "Poseur!"
Sepertinya, ada kepuasan tersendiri untuk mengagumi sosok yang orang lain belum kagumi, orang lain belum sadari. Sesudah merasa cukup tau sosok idola, dan di saat yang bersamaan orang lain mulai mengagumi perlahan-lahan sosoknya, saat itu pulalah para "poseur" bersikap. Enggan untuk mengidolai lebih lanjut, merasa lebih tahu tentang idola, dan memilih mencari idola baru. Suasana mainstream terlihat sangat tidak menarik. Indie lebih enak.
Suka tidak suka, banyak sekali "poseur". Dan saya tidak berhak menghakimi tingkah mereka. Asal jangan merasa paling tahu saja, cukup.
Komentar
Posting Komentar