Sembilan Belas
Waktu berlalu dengan asyik dan seru. Tiap hembusan nafas coba kunikmati dengan sederhana, walaupun tidak nyatanya. Lalu, sampai pada waktunya sekarang. Waktu dimana mencoba menjadi pribadi yang tentunya tidak berseberangan dengan harapan pribadi. Menjadi pribadi matang. Semestinya begitu.
Sembilan belas dan melihat sejenak ke belakang.
Oh nikmatnya bermain-main dengan teman-teman sebaya. Alangkah tidak terjemahkan rasa. Sungguh menyenangkan dan sanggup membuat rindu, pasti. Suatu saat nanti.
Banyak yang terlewat dari masa lalu. Setidaknya menyebut ilmu. Mengakui membuat lega memang. Tak apa, masih ada kata-kata penyemangat, walaupun kadang basi. Beruntunglah yang punya sifat santai. Saat ini, susah merasa seperti itu. Alibi tidak bisa menyembunyikan kegalauan hati. Berandai-andai beberapa waktu, namun tidak sanggup dan sepertinya tidak akan pernah sanggup merubah satu penyesalan itu.
Setelah semua berlalu, syukurlah masih banyak ruang dan waktu untuk berbagi senyum. Selalu itu. Perasaan yang sanggup membuang jauh-jauh apa yang terlewat di masa lalu. Suka atau tidak, kesempatan itu menyelamatkan dari rasa ketakutan akan masa mendatang. Kesalahan sejarah, singkatnya.
Sekian, karena sejenak saja.
Sembilan belas dan melihat jauh masa mendatang. Letak ketidaktahuan paling mendasar saat ini.
Imaji akan sosok seperti apa yang tampil merubah sosok saat ini belum pernah terpikirkan. Adalah waktu yang paling pas untuk menjawabnya. "There will be an answer, let it be" begitu kata John Lennon. Dan untuk saat ini, saya masih belum memikirkannya. Atau tidak usah sama sekali? Jangan begitu. Tapi memaksa diri juga tidak baik bukannya? Lantas memaksa santai atau memaksa tidak santai? Ya nanti jawabnya ya.
Sembilan belas dan faktanya.
Ucapan selamat mengalir dengan masing-masing gayanya. Ucapan-ucapan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Dan saya menikmati itu, sepenuhnya. Semoga ucapan yang baik-baik itu berhasil saya jadikan kenyataan. Saya sudah sembilan belas tahun, dengan segala tantangan yang ada. Ucapan-ucapan itu berhasil membarukan semangat hidup. Saya merasa "baru" kembali.
Ada yang bilang, laki-laki baru cocok disebut dewasa apabila umurnya mencapai 21 tahun. Entah saya harus percaya atau tidak dengan model-model seperti ini. Menjadi tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Dewasa tidak selamanya ditentukan dengan umur.
Dan faktanya, saya telah berumur 19 tahun. Tahun yang saya harapkan menjadi tahun dimana saya beranjak dewasa dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk saya untuk beralih ke kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa menghasilkan perilaku super dalam mencapai tujuan hidup. Semoga saja saya mengerti itu.
Sembilan belas. Dan segala tantangannya.
Komentar
Posting Komentar