Beda
Kesempatan itu datang dan saya tidak menyia-nyiakannya. Kesempatan untuk menyadari adanya perbedaan. Semua tepat pada waktunya, rencanaNya begitu indah. Garis takdir yang mantap sanggup menyadarkan betapa indah dan beragam segala yang diciptakanNya.
Oh ternyata karyaNya begitu beda, dan sungguh imaji saya tentang dunia masih cetek. Mungkin perlu lebih pengalaman hidup untuk mencapai taraf kecocokan di antara imaji dangkal dengan kenyataan.
Oh ternyata karyaNya begitu beda, dan sungguh imaji saya tentang dunia masih cetek. Mungkin perlu lebih pengalaman hidup untuk mencapai taraf kecocokan di antara imaji dangkal dengan kenyataan.
Semua berawal ketika saya mengunjungi negeri tetangga. Gaya hidup, waktu, nilai tukar, jalanan, aturan hingga aspal yang berbeda. Semuanya menghasilkan serangkaian pemikiran kembali tentang negeri. Betapa berbeda, betapa indahnya hidup. Tanah yang terbelah birunya lautan adalah tanah dengan kehidupan yang berbeda. Dan kita harus menginjakkan kaki untuk benar-benar mampu merasakan perbedaan itu. Benar-benar berdiri dengan kaki sendiri.
Bukit Bintang dan segala keheranan saya.
Disana luar biasa. Disana langka roda dua. Disana roda empat akrab dengan pemuda. Disana pula lika-liku menghasilkan secercah harapan untuk hari esok. Bukit Bintang, adalah tempat dimana kemewahan dunia terasa begitu kuat dan menina-bobokan. Mobil-mobil futuristik lalu-lalang, dan jarang sekali terdengar suara klakson. Saya heran mengapa mobil-mobil tersebut bisa tertib, walaupun jalanan sangat ramai oleh lalu-lalang pejalan kaki. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya takjub dengan keadaan jalan tertib dan menyenangkan. Jarang terdengar bising klakson tanda emosi (atau mungkin saya yang terbiasa dengan kemacetan?)
Berdasarkan pengamatan sekilas saya, rata-rata pemuda di Bukit Bintang mengendarai mobil, bukan motor. Mobilnya terang, canggih. Seakan tidak sabar untuk berada dalam kecepatan maksimum. Ini menunjukkan betapa layaknya kehidupan mereka. Betapa dompet mereka pasti tidak hanya selembar ringgit. Saya tidak sanggup membayangkan pemuda jalanan Jakarta pada saat itu. Terlalu nyelekit.
Genting dan hiburan gila-gilaan.
Genting Highlands, tempatnya manusia (mungkin dari seluruh dunia) untuk menghibur diri di ketinggian gunung dan kedamaian udara yang menyejukkan. Ribuan manusia berlomba-lomba untuk meraih fasilitas yang disediakan di Genting Highlands (Resort World). Memanjakan sekali semua hiburan yang ada. Semuanya menyenangkan, termasuk pelayanannya. Pantas bila manusia penggila hiburan yang beragam warnanya itu betah.
Perjalanan menuju Genting Highlands bisa melalui Gondola (skyway) atau taksi. Saat itu saya menaiki Gondola. Sejak saat itu, saya mempunyai asumsi bahwa semua orang yang tidak mengakui eksistensi Tuhan (Atheis), akan mengakuiNya begitu menaiki Gondola tersebut. Sungguh, menaiki Gondola di atas ketinggian seperti itu adalah ketakutan yang spontan, yang muncul begitu saja. Biasanya, manusia akan memohon ampun kepada Tuhannya apabila ketakutan. Bukan begitu?
Dari semua fasilitas Genting Highlands, dapat dilihat bahwa Casino (tempat judi) adalah tempat favorit. Saya tidak ingin menulis tentang hal ini. Ini adalah hak mereka yang kelebihan duit dan kekurangan kebahagiaan. Hanya praduga, karena kenyataan disana tidak selalu berbanding lurus.
Kurang asiknya manusia di Singapore.
Sibuk.
Individualis.
Robot.
Hingga sadar saya menulis hal ini dengan blaka (blak-blakan). Kehidupan yang terjadwal rapi disertai dengan manusia yang super disiplin. Mungkin itulah gambaran utama saya tentang manusia di Singapore. Jarang sekali candatawa seperti percakapan menggelitik tukang ojek di beberapa sudut Jakarta. Oh, ini suatu pembelajaran tentang kedisiplinan juga tentang kemanusiawian. Disiplin berlebih (atau lebih tepat disebut orientasi tujuan), yang menyebabkan manusia terkonsentrasi pada tujuan semata, ternyata berpotensi terhadap berkurangnya rasa santai dan asik, juga sejuknya senyuman tipis dalam tiap aktivitas. Manusia hampir serupa dengan robot. Bergerak sendiri-sendiri dengan kesibukannya masing-masing mengejar mimpi. Menjemukan. Tapi itulah hidup.
Perjalanan kadang menyadarkan apa yang tidak disadari dari diri. Saya tersadar banyak hal, banyak sekali. Betapa kurangnya kemampuan bercakap Inggris, betapa kakunya sikap terhadap orang asing, juga betapa energi negatif masih sering menghinggap dalam kesempatan untuk maju. Perjalanan bisa menghasilkan perbedaan bagi beberapa. Dan mungkin bagi saya, perbedaan yang mencolok dan mengagumkan itu adalah orang sana cuek. Cuek dalam artian tidak peduli apa kata orang. Sungguh, ini berbeda dengan mental beberapa orang (sedikit orang mungkin) di Indonesia, yang dalam bertindak kadang terlalu memperhatikan apa reaksi orang terhadap tindakannya tersebut. Semacam jeruji yang bertindak sebagai pembatas agar bertindak tidak di luar harapan orang lain. Ragu-ragu tapi sah.
Beda adalah hal yang wajar. Malah terkadang diperlukan. Tapi bukankah ini menyakitkan ketika kelayakan hidup satu rumpun begitu timpang? Yang satu pemuda bermobil yang lainnya nenek mati mengenaskan berebut zakat. Beda.
Itulah hidup, dimana pelajaran sampai pelaksanaan kearifan akan diuji menghadapi yang beda tersebut.
Komentar
Posting Komentar