Milik

Saya sadar, saya tidak pernah memiliki apa-apa.

Sempurna sudah kepemilikan itu. Jelas bagi kaum-kaum tertentu. Pertanyaan baiknya dan harusnya memang terus bergulir, untuk apa itu hak milik. Karena jelas, tidak ada kepemilikan total. Salah langkah sedikit dapat membuat hati congkak, tak siap. Rendah hati juga bukan obat utama. Kesadaran itu yang penting. 

Hampir semua senang memiliki apa yang dibutuhkan, diinginkan. Saya juga begitu, dengan beberapa ketentuan dan artian. Tetapi, suka tidak suka, Dia maha Kuasa. Mudah memutarbalik. Hidup akan menjadi lebih hidup apabila misteri tidak statis, tetap mengalir deras melewati riangnya hari. Alangkah sedapnya. 

Bersyukur dan ikhlas terkadang merupakan ilmu tersulit. Jauh lebih sulit ketimbang matematika dengan hitung-hitungannya itu. Apalagi dengan pengaruh-pengaruh luar sana, kadang memaksa diri melewati batas. Sombong, angkuh, merasa benar sendiri. Penyakit hati punya obat yang berbeda, dengan takaran tertentu. Juga tak bisa disembuhkan secara instan.

Kadang saya memaksa diri untuk secara tidak langsung terus-terusan berada dalam zona tidak sadar. Zona dimana saya hanya merasakan kebahagiaan tak terjemahkan. Lantas, kemana zona sadar saya? Bahwa di setiap kebahagiaan, akan ada kesedihan. Pasti, pasti. Memikirkan sisi lain dari kebahagiaan yang pasti akan datang. Menyesal, terlalu memandang hidup seperti ini. Tetapi, ada gunanya juga untuk berada dalam kesadaran yang dalam tentang hidup. Bersyukur. 

Semua mungkin berubah. Yang terpenting, kesadaran itu. Saya tidak memiliki apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang