Lenong
Tawa dan canda ala Betawi, yang tidak bisa ditunda-tunda. Spontanitas manusia yang sangat lucu, unik, dan menghibur. Saya bersyukur hidup seperti ini.
Budaya Betawi seperti ini mulai luntur. Pemuda Jakarta terlihat seperti lebih memilih pergi ke Mall ketimbang melestarikan budayanya. Padahal, Lenong itu mulia sekali. Sangat mujarab membuat tawa dalam suatu adegan yang singkat dan tidak terduga. Lenong itu perlu. Hidup tak selamanya serius, detil dan semangat. Hidup perlu untuk santai, lepas dan apa adanya. Namun, hidup adalah pilihan. Kalimat yang begitu saya benci.
Menampilkan lenong di atas panggung adalah suatu kesenangan tersendiri. Tidak peduli bagaimana, melihat penontong tertawa ceria sambil terus melawak melepas beban-beban yang menyakiti pikiran, mental dan raga. Lenong menjadi salah satu alternatif untuk jiwa yang ingin bebas dari segala bentuk kehidupan yang kaku, tanpa canda tawa. Kehidupan yang tawar, bahkan pahit.
Mungkin, hanya mungkin, apa yang ditawarkan Lenong sebagai hiburan jiwa kurang mengena dewasa ini. Atau, hanya atau, Lenong tidak mampu menembus budaya populer sebagai suatu bentuk hiburan yang luas sebarannya dalam masyarakat. Lenong terlalu konvensional. Apapun, Lenong terlalu penting buat saya.
Miskinnya spontanitas adalah indikasi bahwa kehidupan modern terencana dengan mantap sehingga tidak ada lagi ruang untuk berkreasi secara tiba-tiba. Semua telah diatur, sakit diatur sembuhnya, main ditetapkan waktunya, sampai gaya berjalan pun dibuat sedemikian rupa. Dalih rasional, logika, common sense begitu membahayakan nilai penting untuk hidup. Spontanitas terancam, begitu juga kemanusiaan. Bagaimana jika nanti robot justru hidup dengan spontanitasnya? Rela?
Lenong menghidupkan spontanitas itu. Lawakan tidak satu arah. Penonton pun boleh menjadi aktor. Inilah yang saya kira membuat Lenong sebagai bagian kecil dari beragamnya budaya Indonesia yang menghidupkan nilai kemanusiaan. Sungguh, penonton yang menjadi pelawak itu adalah buah dari spontanitas. Lawakan tidak terstruktur, tidak ada aturan-aturan tentang itu. Semua bisa jadi bahan tertawaan. Semua bisa tertawa. Seperti itulah hidup yang benar-benar nikmat, mantap. Benar-benar mantap.
Saya cukup jengah dengan kategorisasi lawakan. Rasanya, sampai hati saya menyebut benar-benar tidak manusiawi orang-orang yang seperti itu. Bagaimanapun, lawakan adalah murni untuk menghibur. Manusia modern malah mengkategorisasikan lawakan ini untuk kelas ini, lawakan itu untuk kelas itu. Hebatnya, manusia modern justru tidak mau melihat lawakan sebagai bagian yang utuh. Mereka justru membatasi apa yang mampu membahagiakan mereka. Memang, tidak ada anjuran untuk menghentikan kategorisasi itu. Biarlah kebahagiaan terkotak-kotak, bukan menjadi satu bagian yang utuh.
Masyarakat, sebagai pemegang kuasa, dapat membatasi kebahagiaan tiap individunya dengan kategorisasi seperti itu. Lenong (dari beberapa pengalaman saya) dapat dikategorisasi sebagai lawakan kelas bawah. Lantas, lawakan kelas atas yang bagaimana sebenarnya? Darimana munculnya kategorisasi seperti ini? Saya malah melihat upaya ini sebagai bentuk penghancuran budaya bangsa. Entahlah benar atau tidak, kekhawatiran akan terus ada.
Biarlah Lenong tetap menjadi Lenong. Tidak ada kategorisasi untuknya. Biarkan ia menjadi budaya bangsa yang menghibur secara jujur, tulus, spontan serta menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan yang luntur justru karena manusia modern semakin sok rasional.
Komentar
Posting Komentar