Marx
Belakangan, ia menjadi sahabat saya. Saya terus menerus berdekatan dengannya. Ia hadir dalam setiap pembelajaran di kelas yang saya dapat. Pikirannya begitu merajai pikiran saya. Karl Marx, sesosok yang mengubah pandangan masyarakat terhadap dunia tempat tinggal mereka.
Entah saya harus kagum atau empati terhadapnya. Idealismenya sangat ia junjung tinggi. Ia tidak ingin menjadi buruh, walaupun ia sangat amat miskin. Ia rela miskin, rela susah, rela melarat demi ide-ide utopisnya. Sungguh, saya tidak habis pikir dengan orang-orang seperti ini. Rela menyulitkan diri sendiri demi melawan sistem yang tidak adil. Saya kagum sekali dengan orang-orang yang tidak cuma bicara, tapi juga praktek langsung atas ide-idenya. Karl Marx adalah contoh orang yang konsisten, sangat konsisten dengan pendiriannya. Seorang Sosiolog yang anti-borjuis.
Saya juga empati terhadapnya (bukan menyebut kasihan), bahwa penderitaan yang dia alami adalah buah dari kekonsistenannya melihat dunia. Pada saat pertama mendengar kisahnya yang melarat itu, saya terheran-heran. Bagaimana mungkin ia tidak mau bekerja (sengaja menjelekkan tulisannya pada saat melamar kerja agar ditolak perusahaan) padahal keluarganya melarat? Ia sangat bertanggung jawab kepada idenya, tapi bagaimana bentuk tanggung jawabnya kepada keluarganya? Ia memang konsisten mengatasnamakan tidak mau menjadi sekedar "labor", namun dimana konsistensi pemikiran ia terhadap kehidupannya yang terancam? Keluarganya?
Ide lebih bertahan lama ketimbang umurnya. Mungkin, hanya mungkin.
Saya pernah suatu waktu berandai-andai menjadi Engels, karibnya. Apa yang dilakukan Engels menghadapi karibnya yang susah? Apa yang saya lakukan seandainya berteman dengan Marx yang bebal? Pasti menjadi pelajaran kesabaran tingkat atas untuk berteman dengannya. Juga mendapat kecerdasan pertemanan yang tidak ditemui di tempat lainnya.
Ide-idenya memang gila, saya akui yang paling gila dari ide Sosiolog lain yang pernah saya dapat. Idenya selalu membuat saya melihat dunia sebagai arena ketidakadilan, arena ketimpangan. Dunia yang tidak pernah saya lihat saat dulu. Mempelajari pemikirannya berarti berani untuk melihat dunia secara lebih baik (atau semakin seram? itu pilihan). Dengan kecerdasan dan ketekunannya, ia berhasil mengungkap suatu pandangan yang mengantarkan siapapun yang mempelajari pemikirannya menjadi lebih kritis, bahkan skeptis. Ia menunjukkan hal tersebut dengan menolak menjadi buruh. Hebat sekali perjuangan dia.
Ide-idenya sulit sekali untuk dicerna. Sama saja seperti praktek untuknya.
Namun, Marx. Sekali lagi, Marx. Menjadi sahabatmu adalah suatu kesenangan tersendiri.
Komentar
Posting Komentar