2012
Sampai juga waktunya.
2011 adalah tahun yang baik, sangat baik. Namun perpisahan tak terelak. Kenangan akan tetap bersama.
2012 dan awal Januari adalah hari-hari dimana kerja keras membunyikan gongnya, mengeluarkan unek-uneknya, menghancurkan batasnya. Kerja keras menyembul ke permukaan dengan dalih yang sah. Logis tersistematis membuat bagian diri menemukan jenuhnya. Letihnya. Kurang apalagi? Lemah tidak terlawan ketika siang terasa melemahkan. Semangat tidak terbawa ketika pagi terasa kurang. Mundur tidak terpikir ketika malam sampai.
Jari jemari bertemu kata-kata tercetak dengan lincah tarinya. Tatap muka dengan halus layar terbentang luas menutup dunia sesungguhnya. Salah siapa menganjur? Sungkan singkat saja tak terdengar anjuran.
Saat-saat banyak yang bicara akhir dunia. Menggumam saja tak apa. Tapi, 2012 tidak menghilangkan tawa canda. Gumam biarlah jadi gumam, prediksi sudahlah berhenti, nikmati saja apa yang jadi. Hidup, bukanlah tempat ideal untuk menilai sebentar kapan waktu berhenti. Kapan nikmati lagi? Kapan nikmati lagi?
Pikir mengungkap tanya. Atau sebaliknya? Massa tidak berhenti, seletih-letihnya, setakut-takutnya. Mereka tetap berlari mengurai mimpi disana. Positif mulai, negatif ada, netral banyak. Begitu ragam corak kehidupan ini. Malah mudah menerima yang seperti itu. Sederhana.
2012 tidak menutup kata dan rasa. Makna sebenarnya tetap ada. Masih ada cinta.
2012 terlihat menuntut hamba. Bukan apa-apa, memang waktunya, keadaannya, situasinya. Manusia kan makhluk kondisional? Wajar spontan. Manusiawi.
Apalagi? Tidak etis rasanya membahas yang ditawarkan nanti, saat nikmat belum dipahami.
Komentar
Posting Komentar