UAS
Singkat memang, dua minggu saja. Tidak lebih tidak kurang, hanya dua minggu waktunya.
UAS menarik porsi lebih perhatian kehidupan pengikutnya. Perhatian sepenuhnya tertuju untuknya. Ia tiba-tiba menjadi dewa yang diikuti banyak doa, raksasa yang merusak banyak usaha, juga bulan yang mencerahkan suramnya hati. Tergantung bagaimana sikap masing-masing pengikutnya.
Bijaklah menghadapi UAS.
Jujurlah pada diri sendiri.
Mantapkan dan sadari apa tujuan mengikuti UAS.
Walaupun tidak perlu juga petuah-petuah itu. UAS punya gayanya yang otoriter.
UAS adalah ajang dimana kemampuan dipertanyakan, diulas kembali melalui soal yang sifatnya umum terhadap materi yang diberikan. Ternyata, karena memfokuskan perhatian kepada hal yang sifatnya khusus, banyak kesulitan untuk menjawab hal yang umum. Hal yang umum luput dari perhatian, ketika kesulitan mendapatkan inti dari hal-hal khusus tersebut menjadi bumerang dari materi. Begitu juga kehidupan.
Inti dari kehidupan itu luput dari perhatian, karena manusia terlalu sibuk memperhatikan hal lebih spesifik dari inti kehidupan tersebut. Beragamnya hal spesifik itulah yang menyebabkan kesulitan ketika manusia dihadapi dengan kenyataan tersulit dalam hidupnya (seperti UAS saja). Manusia lupa, bahwa pada hakikatnya ia sedang menjalani apa yang inti dari hidupnya dengan mempelajari spesifik keintian tersebut. Lupa yang banyak mengakibatkan kegagalan kehidupan manusia. Hanya saja, tidak mungkin untuk mempelajari inti tanpa mempelajari khusus. Disinilah letak kesulitan fokus tersebut. Manusia, tidak bisa membagi-bagi fokusnya dalam beberapa bagian. Penglihatan manusia pun hanya bisa fokus ke satu objek.
Melihat UAS berarti melihat inti dari kehidupan. Setidaknya, akan ada ujian untuk kenaikan derajat.
Komentar
Posting Komentar