Angkot
Saya belakangan sering bertanya-tanya: "Apa mungkin jumlah angkot justru lebih banyak daripada penumpangnya?"
Terdengar konyol memang. Tapi saya suka hidup yang kadang konyol.
Pertanyaan ini tidak muncul begitu saja. Saya melihat sendiri bagaimana angkot-angkot di rute Pasar Minggu-Depok (rute yang rutin saya lalui ke kampus) begitu banyak, tapi sedikit penumpangnya. Sebenarnya, kemana penumpang-penumpang itu? Dan angkot yang saya maksud di keseluruhan tulisan ini adalah angkot dengan penumpang kosong. Angkot yang ngetem, angkot yang bergagah-gagah di belahan jalan.
Saya akui saya lelah setiap hari berkutat dengan kemacetan. Mungkin semua warga Jabodetabek juga.
Lantas, sebenarnya bagaimana pengaturan angkot-angkot itu? Bagaimana sistem yang menjalankannya? Kok warga Jakarta seperti saya ini justru terganggu dengan kehadiran angkot?
Oh tidak. Mungkin memang harus seperti itu. Ini jawaban kaum pesimis.
Oh ya, itu bisa diperbaiki. Kita semua bisa memperbaiki sistem angkot agar tidak mengganggu. Angkot yang efektif! Angkot yang dinamis bergerak seirama dengan sistem yang baik. Ini jawaban optimis, atau nihilis di Jakarta. Dan saya lebih memilih menjadi optimis sekaligus nihilis.
Angkot sejatinya memudahkan mobilitas warga, bukan justru menghambat mobilitas warga. Warga yang saya maksudkan adalah keseluruhan warga! Bukan cuma warga pengguna angkot, karena jumlah pengendara bermotor juga tak kalah banyak, dan kebanyakan dirugikan!
O, sistem angkot yang kejar setoran. Sistem angkot yang harus nyetor. Ini kata orang banyak, orang umum, common sense yang berkembang di masyarakat Jakarta. Termasuk ayah saya. Supir angkot terpaksa ngetem, terpaksa keadaan bahwa ia harus mendapatkan sebanyak-banyaknya uang, sebanyak-banyaknya uang yang entah dialokasikan untuk apa olehnya. Titik-titik rawan kemacetan itu pun adalah titik-titik keramaian warga: warga yang biasanya menggunakan angkot. Saya dan pengendara bermotor lainnya kena imbasnya. Klakson terus-terusan bersahutan dengan pemanis umpatan terhadap sang supir. Hampir sulit sekali membayangkan jalanan Jakarta dengan klakson sahut-sahutan tanda keakraban.
Terserah apa jawaban dari pertanyaan di atas. Saya cuma kadang kalut dan berpikir bahwa "populasi angkot sudah terlalu banyak di Jakarta!" dan bukan berpikir bahwa ada sistem yang membuat pertanyaan saya tadi muncul. Angkot: suatu bentuk moda transportasi dimana populasinya sendiri mengalahkan populasi penggunanya. Saya: seorang yang hanya membenci sistem tersebut harus dijalankan di kota tercinta.
Apapun keadaannya, tidak arif bila tidak melihat sisi positifnya. Dan mungkin saya memang kurang (peduli pada) ke-arif-an.
Komentar
Posting Komentar