Foucault

Siapa punya kuasa, ia mampu mengkonstruksi kebenaran kepada masyarakat. 

Tidak ada kebenaran sesungguhnya yang berdiri sendiri seperti Positivistik katakan. Hanya kebenaran mereka yang berkuasa, yang ditanamkan kepada tiap-tiap individu, termasuk mereka yang kalah dalam perang kekuasaan. Membuka cara pandang terhadap dunia ala Foucault ini berarti membongkar pengetahuan untuk menciptakan bentuk pengetahuan baru: Pengetahuan, kebenaran, yang murni. Autentik. Tapi, apa memang seperti ini? Apakah Foucault, mungkin juga sebagian dari kita, menginginkan kebenaran murni di luar konstruksi penguasa? 

Sebentar. Biarkan kebenaran terus diperjuangkan, diperdebatkan dengan cara masing-masing.

Atau jangan-jangan, kebenaran sebagai capaian malah melihat dan menikmati dialektika tersebut di suatu ruang yang tak berwaktu, yang terus-menerus manusia pertanyakan. Satu waktu kebenaran dicapai, ia berubah. Satu waktu kebenaran tergilas, ia balik menggilas. Satu waktu disalahkan, ia muncul dalam bentuknya yang baru. 

Apa mungkin kebenaran seperti itu? 

Ia menari, ia bebas. 

Ia dicari, ia lepas. 

Ia sepi, sendiri sekaligus ramai.

Sampai pada penghayatan tertinggi Foucault, ia memang belum memunculkan diri selain kebenaran yang mampu dikonstruksikan sebagian manusia: penguasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang