Sepakbola
O, sepakbola kurang menarik belakangan. Salah satu alasannya adalah karena begitu kuatnya keyakinan bahwa Madrid sengaja mengalah dari Muenchen kemarin. Madridista seperti saya dapat melihat banyak kejanggalan dalam pertandingan seperti itu. Juga dari luar pertandingan.
Namun, bukan sepakbola namanya kalau berhenti menarik hati. Sepakbola bukan lagi permainan, ia merupakan kehidupan itu sendiri. Artinya, bukanlah kehidupan tanpa ada sepakbola. Sama dengan tangis perempuan, tidak ada kehidupan bila tidak ada tangis perempuan.
Saya hanya berada pada titik dimana saya merasa bosan berkutat dengan kehidupan akademis. Apalagi penelitian, yang sistematis itu. Memuakkan sekali rasanya tidak bisa keluar dari ikatan (o ada yang tidak setuju mungkin dibilang ikatan) berkedok positivistik ini. Alasan mengapa saya sampai sekarang tidak memberi atensi berlebih pada gaya berpikir sistematik, saklek, linear. Monoton.
Dan saya tahu apabila saya bosan, musik dan sepakbola tidak pernah berhenti menyejukkan. Kali ini, saya sungguh merindukan tontonan akbar Piala Eropa. Katakanlah saya korban kapitalisme global, katakanlah saya korban Barat, dan katakanlah saya korban lain-lain yang hebat tafsirnya itu. Saya terima semua vonis itu, dan saya tetap bisa menikmati hidup. Sepakbola adalah kehidupan!
Saya tidak begitu galau divonis apapun.
Saya galau Portugal tidak memiliki striker oportunis!
Saya merindukan sekali sosok Pedro Pauleta, yang dengan dinginnya selalu menyenangkan hati ketika Luis Figo, Deco Souza dan Simao Sabrosa mengirimkan umpan matang padanya. Tentang Nuno Gomes, saya tidak begitu menaruh perhatian. Ia tidak mematikan seperti layaknya Pauleta di mata saya.
Sekarang, Liedson dan Hugo Almeida adalah dua nama yang sering saya keluhkan. Saya hanya melihat pertandingannya bersama Portugal ketika melawan Spanyol di piala dunia kemarin. Ia terlihat bersenang-senang sendiri tanpa ada usaha mempertahankan bola. Di tengah kesulitannya pemain Portugal merebut tiki-taka Spanyol, ia dengan mudahnya melepaskan bola. Sama halnya dengan jagoan baru, Cristiano Ronaldo. Entah, saya tidak melihat masa depan Portugal cerah dengan kepemimpinannya.
Satu hal yang membuat saya begitu bersemangat menonton Portugal adalah lini tengah yang diisi pemain-pemain standar, model Joao Moutinho, Raul Meireles, Miguel Veloso dan Tiago. Nama ketiga adalah favorit saya. Saya menyukai keberaniannya. Ia juga tipikal pemain yang mampu menaik-turunkan tempo, layaknya Pirlo di Italia dan Alonso di Spanyol.
Kebosanan (yang tengah dilawan dengan penantian kemegahan, kemewahan dan keceriaan Piala Eropa) memang tidak pernah mati. Ia hadir dalam ruang dan waktu, terutama ruang dan waktu yang terbuai rutinitas. Ia eksis menanti. Namun, sejauh mana ia mampu mempengaruhi keceriaan hidup, itulah masalahnya. Ia bermasalah dengan saya ketika ia mampu memberikan pengaruh bahwa sepakbola itu membosankan, bahwa Piala Eropa itu membosankan. Pada saat itulah, kehidupan membosankan.
Dan saya tetap bersyukur sepakbola tetap ada.
Komentar
Posting Komentar