Arkeologi

28 tahun yang lalu, Michel Foucault meninggal. Tetap dengan misterinya. Tetap dengan penafsiran masing-masing. Tetap dengan arkeologinya.

Kabarnya, ia meninggal karena AIDS. Ia memang dikenal homoseksual. Baik AIDS maupun homoseksual, bukankah suatu arkeologi pengetahuan yang ditulis oleh ahli sejarah yang mengetahui keberadaannya? Suatu bangunan pengetahuan yang mengkonstruksikan pandangan masyarakat terhadapnya? Adanya power untuk mengatakannya? 

Foucault berhasil mendekonstruksi pengetahuan secara positivis, untuk melihat kemungkinan lain dari pengetahuan. Untuk melihat bahwa pengetahuan manusia itu beragam, relatif dari sudut pandang mana manusia melihatnya. Berani, segar dan menghentak. 

Foucault juga berhasil menambah derita setelah ia menjelaskan bahwa ada arkeologi pengetahuan yang dibentuk oleh pihak penguasa. Derita sebagai manusia bahwa sejelas dan seterang-terangnya pengetahuan, adalah pengetahuan yang berdampingan dengan kuasa untuk membuatnya menjadi pengetahuan, mengkonstruksinya sebagai pengetahuan, juga sekaligus menutup mata masyarakat bahwa pengetahuan (ala penguasa) adalah pengetahuan murni. Sampai pengetahuan disampaikan kepada masyarakat, maka ia pengetahuan murni. Tapi Foucault juga murni. Murni dalam artian bahwa pengetahuan harus dikembalikan pada bagaimana tempatnya yang sesungguhnya, pada bangunan arkeologinya sehingga kemampuan masyarakat melihat, memaknai dan menyetujui pengetahuan dapat terbangun lebih kritis. Bahwa Foucault juga menambah derita pengetahuan manusia, itu adalah sudut pandang juga. 

Michel Foucault. Yang hidup matinya untuk membingungkan pengetahuan masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang