Ayah
Di suatu makan malam yang akrab bersama keluarga, saya tiba-tiba ingin memperhatikan bagaimana interaksi ayah, ibu dan anak. Oh, mungkin inilah jiwa Sosiolog mulai berkembang: hanya ingin mencari tahu, menembus pandang akan fenomena yang terlihat biasa. Saya mulai terasuki alam-alam ketidaknormalan tersebut.
Pandangan mata seakan terus mencari, terus mencari. Namun, terlalu cerooboh rasanya melewati momen makan malam bersama keluarga untuk sekedar memperhatikan interaksi inter keluarga tersebut. Hingga datang mereka.
Tepat! Satu orang ayah, satu orang ibu dan satu orang anak. Juga satu buah Ipad dengan headsetnya.
Hampir tidak ada interaksi antara ayah dengan ibu, juga ayah dengan anak. Saya hanya melihat interaksi antara ibu dengan anak yang kadang tersenyum renyah menikmati canda. Tiga orang ini terlihat masih muda, modern, menengah dan hi-tech. Saya sudah menjelaskan sebelumnya dengan adanya Ipad dan headset. Hingga saya tidak habis pikir, seorang ayah begitu nyaman melewati momen bersama keluarga dengan menundukkan kepala dan jari-jemari yang tidak henti-henti menggulirkan layar. Entah apa yang dicarinya. Sebagai kepala keluarga, ia mencari dunia di luar sana, dunia abstrak, maya, yang menawarkannya kemewahan dan segala fasilitas yang mungkin ia anggap menarik. Ia mendapatkan kepuasan batinnya dengan internet, musik, video, atau apapun yang tersedia dalam layarnya. Yang tersedia juga dalam kediriannya sebagai ayah. Mungkin.
Sembari menikmati makanan tambahan, saya terus memperhatikan kesibukan manusia modern ini. Tentu, tanpa mengurangi nikmat makanan yang saya makan. Saya punya prinsip bahwa makan adalah momen yang tidak bisa tidak enak! Hingga saatnya, pesanan makanan mereka datang, lalu dengan segera sang ayah melepaskan dunianya. Ia kembali pada anak dan istrinya. Sesekali ia melempar senyum penuh arti pada anaknya, juga membalas pandangan bermakna istrinya. Oh, syukurlah. Teknologi tidak benar-benar mematikan peran ayah. Bagaimanapun modernnya, seorang ayah tetap-lah ayah, yang memberikan kehangatan, kedamaian sekaligus kesejukan dalam keluarga. Dan saya kembali melahap makanan dengan perasaan lega.
Komentar
Posting Komentar