Esensi
Di suatu malam yang membosankan, saya terdiam. Saya sangat bosan. Bosan dengan perdebatan esensi.
Manusia seakan tahu apa itu esensi dari kehidupan dengan terus mengomentari esensi. Esensi bermacam-macam, esensi busana, esensi agama, esensi hidup, esensi konflik dan yang paling sering, esensi konsumsi. Apa makna, apa esensi, bagi mereka yang terjebak (ada yang tahu dan malah memilih untuk menikmati) budaya konsumerisme. Seakan mereka yang terus-menerus mengkonsumsi itu tidak mengerti esensi dari barang, jasa, yang dikonsumsinya. O, memang hidup penuh tafsir. Memang pandangan manusia berbeda. Tapi haruskah kita bicara esensi, ketika esensi hidup mungkin berbeda satu dengan yang lain?
Sampai disini, saya terus terdiam.
Saya mungkin tidak mengerti banyak konsumerisme, tapi bukankah esensi itu netral? Bukankah esensi itu dapat dimiliki oleh siapa saja? Bukankah esensi itu menyimpan maknanya sendiri dalam alam pikiran manusia? Atau, esensi itu merupakan hasil dari konstruksi beberapa kaum, beberapa golongan, beberapa manusia yang memaksakan esensi kepada manusia lainnya. Dengan adanya order, dengan adanya keteraturan agar esensi yang dimaksud tetap utuh, tetap dijunjung tinggi dan manusia menghormatinya. Seperti itu-lah esensi seharusnya, seperti itu-lah manusia menganggap esensi dan mengutamakan esensi dalam tiap jejak hidupnya.
Sejauh ini, saya menganggap esensi hidup itu adalah untuk mencinta. Mungkin terlalu luas, mungkin terlalu sempit. Tergantung keberagaman makna terhadap esensi itu sendiri. Dan saya memilih dan menikmati untuk hidup dengan esensinya yang saya junjung tinggi. Esensi yang mempengaruhi tindakan saya.
Esensi, yang selalu manis sekaligus pahit, untuk dibicarakan.
Komentar
Posting Komentar