Jakarta
Di hari ulang tahunnya, Jakarta terus berbenah sekaligus merusak. Jakarta masih bingung berada pada fase mana dalam kehidupan: Ia siap lepas landas menuju megapolitan sekaligus takut dengan berbagai tantangan di dalamnya. Ia juga masih dipenuhi masalah sosial. Sebagai kota, Jakarta masih terus berbenah dan berbenah.
Tidaklah sulit untuk menemukan keanehan di Jakarta. Yang terutama dan mudah dilihat adalah masyarakatnya yang terdiri dari berbagai kelas. Atas yang atas sekali tidak manusiawi, menengah yang apatis dan ngehek, dan bawah, yang bahkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Dari ketiga kelas ini, kelas menengah adalah kelas yang banyak omong dan sabodo teuing. Mereka apatis, tapi kritis. Kritis tapi apatis. Entahlah, kelas menengah tidak pernah berhenti mengkritisi sekaligus mempertanyakan segala sesuatu yang tidak berkenan dengan jarangnya solusi. Pokoknya, yang terenak buat kehidupan, yang ternyaman yang termewah dan segala-gala yang ditawarkan dunia dengan kenikmatannya.
Keanehan lainnya adalah penduduknya yang sangat hobi, bahkan menjadi kebiasaan, akan konvoi. Setiap harinya sepeda motor konvoi bersama dengan semangat yang tiada matinya. Penduduknya memiliki kekuatan yang belum bisa ditemukan di kota lain di Indonesia. Penduduknya dengan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk konvoi, untuk bersama-sama menikmati debu jalanan sehingga usia tidak lagi jadi pertanyaan: mereka habiskan untuk hobi mereka. Mereka jalani bersama dengan kekuatan mereka.
Itu keanehan atau bukan, tidak menjadi masalah. Menjadi masalah ketika dipermasalahkan. Termasuk melalui tulisan ini.
Tidak berhenti disitu, Jakarta nyatanya bukan kota yang normal bagi masyarakatnya ketika pemilihan pemimpinnya, gubernurnya, menunjukkan beberapa keganjilan dalam kampanyenya. "Coblos batiknya" "Coblos kumisnya" dan lainnya yang menyuruh untuk mencoblos pada saat pemilihan. Pencitraan macam apa dalam suatu kampanye yang menghendaki masyarakat untuk memilih langsung, langsung mencoblos tanpa pengetahuan visi-misi, niat membangun-membenahi-mengurus-dan lain-lain yang intinya adalah mengatur kehidupan Jakarta agar ideal, agar menjadi kota yang dicita-citakan masyarakat heterogennya. Mungkin, hanya mungkin, visi-misi tidak lagi menjadi penting ketika pencitraan akan tokoh, akan suatu figur politik menjadi lebih utama untuk mendapatkan simpati masyarakat ketimbang visi-misi, janji-janji palsu. Ini sepenuhnya wilayah politik, wilayah mendapatkan dukungan dan kekuasaan. Dan Jakarta, sebagai ruang, adalah ruang yang sesak, hampir tidak bisa bernafas dan bergerak, hampir tidak ada bala bantuan, dan menjebak manusia di dalamnya.
Di ulang tahunnya, Jakarta jangan hanya berbenah dengan satu arahan. Jakarta harus berdaya bareng-bareng masyarakatnya. Jakarta harus, mesti, untuk mendayagunakan masyarakatnya. Jakarta harus sadar akan pemimpin yang mengutamakan collective will masyarakatnya, yang mengutamakan peran aktif masyarakatnya dalam membangun dan membenahi Jakarta. Jakarta harus sadar yang terbaik untuknya.
Dan yang patut disadari manusia-sentris tentang Jakarta, baik maupun buruk, etis maupun estetis, materiil maupun immateriil, adalah kesadaran bahwa Jakarta hanyalah suatu ruangan yang di dalamnya harus mampu memenuhi kebutuhan (dan keinginan) masyarakatnya.
Komentar
Posting Komentar