Mahasiswa

Saya ingin meracau, tentang pemuda yang mengaku merdeka.

Seorang teman pernah berkata bahwa ia belum pantas menjadi mahasiswa. Ia mungkin merasakan beban yang ditampuk menjadi mahasiswa begitu mahaberatnya: entah beban intelektual maupun moral.

Saya tidak tahu bagaimana pemaknaan masyarakat Indonesia umumnya terhadap mahasiswa. Sepengalaman hidup saya,  yang sering sekali keluar dari kepolosan masyarakat adalah bahwa mahasiswa sebaiknya jangan berdemonstrasi. Ingat, ini setahu saya. Bukan setahu penguasa. Bukan pula setahu kapitalis. Meskipun berbau logika penguasa-kapitalis.

Menjadi mahasiswa itu harus pro-rakyat. Logika mahasiswa adalah logika rakyat. Mahasiswa harus mampu menyuarakan aspirasi rakyat kepada penguasa. Mahasiswa harus setia mengawal kebijakan pemerintah lantas mengkajinya dalam-dalam untuk menceritakan kebobrokan (mungkin saja keberhasilan, kalaupun ada) program pembangunan. Mahasiswa harus mengangkat derajat rakyat agar tidak terbelakang. Mahasiswa tidak boleh letih dan tertidur barang waktu 2 jam. Dan yang paling penting, mahasiswa harus berkontribusi! Mahasiswa tidak boleh hanya cerdas di kelas dengan IP tinggi namun tidak merakyat: mahasiswa tidak boleh membiarkan teorinya melayang-layang di angkasa tanpa aplikasi nyata di lapangan!

Menjadi mahasiswa itu juga harus cerdas. Sistem kuliah yang menuntutnya. Sebisa mungkin mahasiswa lulus 4 tahun. Mahasiswa itu harus mendengar ceramah dosen, mahasiswa harus diskusi di kelas tentang pelajaran, mahasiswa juga harus kritis dalam menyerap ilmu dari bahan bacaan. Mahasiswa harus menyelamatkan dirinya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain pada ujian akhir semester. Sebelum berkontribusi, mahasiswa harus mempunyai modal untuk dirinya sendiri. Mahasiswa jangan sok berkontribusi menjadi pembela rakyat, pahlawan kesiangan rakyat, padahal untuk dirinya sendiri masih terseok-seok di tengah perkuliahan. Menjadi mahasiswa itu harus berintelektual agar berkontribusi nantinya!

Menjadi mahasiswa itu tidak harus terdikotomi seperti dua di atas. Mahasiswa bisa berkontribusi nyata kepada rakyat dengan tetap mempunyai modal intelektual. Mahasiswa bisa mengkaji fenomena sosial-politik berhalaman-halaman sampai terkantuk-kantuk dengan tetap menelusuri pemikiran Marxisme. Mahasiswa pemuda yang dinamis, mahasiswa mampu merubah segala beban menjadi tantangan. Mahasiswa juga mampu merubah letih menjadi kontribusi. Mahasiswa harus tetap beraksi membela rakyat sekaligus membela dirinya sendiri. Mungkin juga mahasiswa berpandangan bahwa membela rakyat sama saja membela diri sendiri. Idealisme!

Mahasiswa mempunyai beban yang terlalu berat, hampir tidak berujung, dengan penyiksaan berkedok manis perkuliahan. Mahasiswa diiming-imingi pandangan menakjubkan oleh bentuk pergerakan-pergerakan yang radikal, fenomenal dan ngasal. Tetap, mahasiswa punya idealisme! Mahasiswa harus melawan kapitalisme sampai ke akar-akarnya, mahasiswa harus mampu membantu menciptakan pergaulan hidup seadil-adilnya untuk masyarakat. Lalu mahasiswa harus berdiskusi-berdebat meyakinkan bahwa kapitalisme telah menyeret masyarakat pada pemiskinan struktural, pada keadaan yang tidak manusiawi. Mahasiswa menyadari sepenuhnya dengan intelektualitasnya, dengan moralnya dan dengan kontribusinya.

Di arena lain, mahasiswa tetap saja (dengan intelektualitas, moral dan kontribusinya) menikmati budaya konsumerisme. Mahasiswa menolak terhegemoni secara budaya, mahasiswa menolak segala bentuk penindasan. Sadar atau tidak sadar, intelek atau tidak intelek, aktivis atau pasivis, mahasiswa melanggengkan hegemoni budaya, mahasiswa bahkan menciptakan penindasan baru di atas penindasan lama! Mahasiswa belum sanggup keluar dari sistem!

O, racauan tentang mahasiswa memang tiada habisnya. Idealis, aktivis, pasivis, oportunis, ekstrimis, agamis, Marxis, kiri dan tafsiran-tafsiran mahahebat lainnya disandangnya. Mahasiswa bisa bangga, bisa acuh, juga bisa tetap mengerjakan tugas dari dosennya. Faktanya, mahasiswa harus lulus cepat

Ah, menjadi mahasiswa buat mahasiswa seperti saya, adalah menjadi seorang pemuda yang terus-menerus berkelahi, lalu berdamai, lalu berkelahi lagi sampai akhirnya lelah sendiri dan sampai pada pilihan akan menerima, menolak atau bahkan membuat baru tafsiran-tafsiran kehidupan yang mahahebat itu. Menjadi mahasiswa itu menjadi peracau yang meracau dengan merdeka!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang