MPS

Untuk yang satu ini,  tidak ada kata yang mampu menggambarkannya. Kata seakan habis. Kata terlalu letih, terlalu berat untuk mengungkap. Suatu pemikiran yang linear, yang saklek, yang tidak bisa diubah-ubah. Sekalipun bisa diubah, perlu mempertimbangkan beberapa bagian yang lain. Seakan satu sistem. Seakan tidak ingin ditinggal. Seakan se-iya sepikiran. Metodologi Penelitian Sosial. Kuantitatif. 

Ada beberapa bagian memang yang menuntut kerja keras, dan menikmatinya adalah menikmati hidup juga. Namun, MPS bukan hanya menuntut kerja keras, kerja keras saja tidak cukup. MPS juga mencari kebersamaan. Kebersamaan saja tidak cukup. MPS memerlukan adanya keberlanjutan, istiqamah, bahwa pengerjaannya dari waktu ke waktu akan secara runut dan sistematis dikonstruksi, dekonstruksi, hingga akhirnya mendapatkan suatu hasil yang benar-benar bisa diterima akal positivis. Kekuatan yang bagi sebagian merupakan kelemahan. Tergantung tafsirnya, tergantung kepentingannya.

Setelah melalui berbagai diskusi, perdebatan dan penerimaan akan suatu usulan, pemikiran, konsep dan variabel apa dan mana saja yang akan digunakan, MPS berarti telah memberikan suatu pelajaran. Pelajaran yang tidak bisa dituliskan, tidak pula mampu diberikan lewat komunikasi verbal non-verbal. Hanya, pelajaran ini akan didapat oleh mereka yang istiqamah, terus-menerus, secara sabar dan ikhlas mengikuti alur pemikiran yang ketat, mendalam dan pasti. Pelajaran yang tidak semuanya akan mendapatkannya. Pelajaran yang berharga, pelajaran yang amat sesuai dengan kesulitannya. 

MPS, adalah suatu kesungguhan akan makna. Namun, kesungguhan tersebut terhalangi suatu kabut, suatu debu yang membuatnya begitu menyebalkan. Yang demikian tersebut, akan mengantarkan pada pemikiran bahwa yang tersisa tinggallah perasaan untuk berdamai dengannya: Mencoba untuk mencintai pemikiran yang mengagung-agungkan penghitungan, logika dan kekuatan hubungan. 

Mungkin memang MPS seperti buah durian: luarnya memang menyakitkan, tapi isinya begitu manis. 

Seakan seperti itu. 

MPS seperti dodol? Membuat produknya memang sulit dan melelahkan, tapi produknya memuaskan.

MPS memang seakan memuaskan. 

Sekejam, sehina, sebaik, seindah apapun, MPS adalah kehidupan itu sendiri. Benar bahwa ia sederhana, benar bahwa ia sulit. Yang pasti, orang rela berkeringat untuk mendapatkan hasil akhir beserta esensinya.

Ah, keinginan mengkonstruksi makna biarlah dimana-mana. MPS tetaplah MPS yang dapat dipahami berbeda. Suatu pemikiran yang netral akan berkata bahwa dimanapun MPS masih MPS. Bahwa MPS tetaplah MPS:  Konstruksi rekonstruksi, kadang dekonstruksi, yang hampir tidak pernah berhenti. Dan tetap ada candatawa di dalamnya. 

Siapa yang tahu kalau MPS ternyata bermakna Masih Penuh Senyum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang