Ramadhan
Tiga tahun lalu, 2009, tulisan tentang Ramadhan berkisar tentang harapan. Tahun ini, Ramadhan akan dipahami berbeda. Sepertinya.
Seperti 2009, harapan masih terjaga. Selalu ada harapan yang berbeda di bulan super spesial ini. Menyebut super spesial karena kata spesial, istimewa saja tidak mampu menggambarkan betapa penuh kasihNya dalam bulan ini.
Tulisan ini tidak ingin mempunyai makna apa-apa. Hanya sebuah curahan dari ketakutan akan palsunya ibadah. Bahwa puasa kadang masih dipahami sekedar hari yang berat dengan banyaknya peraturan-peraturan. Bahwa puasa kadang masih dipahami sekedar tidak boleh makan minum dan berhubungan seksual.
Apakah itu esensinya?
Atau jangan-jangan, manusia terlalu sibuk mencari esensi? Termasuk dari puasa Ramadhan?
Dan tulisan ini berhenti ketika esensi mengemuka. Biarlah ibadah manusia dipahami dan dijalankan dengan caranya masing-masing.
Yang pasti, Ramadhan menjanjikan kebahagiaan bagi hambaNya yang ikhlas.
Komentar
Posting Komentar