Habitus
Karena semua fenomena dalam lika-liku kehidupan manusia merupakan semata-mata berlandaskan ekonomi. Begitu kata Marx: filsuf agung yang tiada henti-hentinya menghantui alam pikir para pejuang keadilan kelas.
Tidak ingin terlalu banyak tentang Marx (karena memang lebih nikmat membaca karya orisinil ketimbang interpretasi), juga tidak ingin terlalu banyak tentang filosofi perjuangan. Hanya tentang selera yang terbentuk secara tidak sadar akibat posisi sosial, dari adanya tempat, arena, dan kenyataan yang selanjutnya membangun cara pikir dan bertindak anak manusia. Habitus.
Bukan Marx yang berkata. Bordieu. Tapi berkaitan karena semata-mata masalah ekonomi-lah yang membentuk cara berpikir dan kebiasaan secara tidak sadar. Berkaitan karena dialektika, kena-mengenanya suatu fenomena pada fenomena yang lain. Dan disadari maupun tidak, kebenaran dalam kehidupan adalah proses dialektika. Disadari maupun tidak, kebenaran terus berhadap-hadapan dengan kesalahan, kesesatan, dan negasi dari benar itu sendiri.
Tengoklah bagaimana kena-mengenanya kelas sosial dengan gaya hidup. Bagaimana petani dan direktur dalam menanggapi kehidupan, bagaimana buruh dan bosnya dalam menghabiskan waktu luang, juga bagaimana ustadz dan santri mengkonsumsi barang dan jasa dalam kegiatan sehari-hari. Kelas seseorang menentukan seleranya. Bagaimanapun seleranya, secara tidak sadar dipengaruhi kelas sosial (Bordieu bilang posisi sosial - saudara kandung kelas sosial.) Economic-deterministic but sadly true.
Habitus juga tidak pernah berhenti. Sampai kematian seseorang: ujung dari pencarian makna akan kehidupan, ia terus bekerja. Ia adalah manusia itu sendiri, Bordieu.
Komentar
Posting Komentar