Logika

Sudahkah sampai pada saatnya, manusia modern berhenti mengagung-agungkan rasionalitas? Kalau belum, tidak apa-apa. Yang penting rasio belum menggusur cinta: nama yang tidak berposisi, tidak terlalu rendah juga tidak terlalu tinggi. Memposisikan cinta berarti menempatkannya pada kategori buatan manusia bernama bahasa, padahal cinta di luar bahasa. Cinta di luar kemampuan manusia mendefinisikan maknanya. 

Saking pasrahnya, manusia mendefinisikan cinta sebagai Tuhan itu sendiri. Berlebihan? Cinta merupakan kesucian yang tiada tara dari perasaan manusia. Bukan, cinta bukan itu. Cinta adalah kemerdekaan. Cinta adalah keberanian. Cinta adalah ketulusan. Bukan, cinta bukan itu. 

Cinta bukanlah logika. Yang bisa didefinisikan tepat, yang bisa disederhanakan melalui proses berpikir. Ia di luar kemampuan berpikir manusia. Mendefinisikan cinta sama saja merendahkan cinta. Sama saja mereduksi ke dalam beberapa kata yang mungkin tidak dialami manusia lain. Parahnya, sama saja menganggap cinta sebagai bahasa, sebagai struktur komunikatif atas dirinya sendiri. Celakalah manusia yang terlalu berani. 

Cinta dikatakan berdiri sendiri sebagai ding-an-sich. Sebagai fenomena, ah bukan. Lantas, bagaimana manusia mengerti cinta kalau tiada bahasa yang menjelaskannya? Bisakah matematika menjelaskan cinta? Kemampuan yang seperti apa dari manusia untuk mengerti cinta? Dan tiga pertanyaan tadi bukanlah untuk merendahkan cinta. 

Gibran sebagai penyair, sebagai pujangga, apakah memiliki definisi tertepat tentang cinta? Kalau ia memang mempunyai kemampuan mendefinisikan cinta, me-logika-kan cinta, maka ia begitu hebat. Atau, cinta menurutnya serendah itu. 

Cinta tidak terjelaskan. Tapi akan terus ada. Cinta tidak termaknai. Manusia terus berusaha memaknai. Kalau begitu, kasihan manusia. Cinta justru menjadi bebannya, sama seperti kebenaran. Karena terus dicari ia malah merepotkan. Manusia malah meniadakan cinta dalam upaya mencari kebenaran. Kebenaran tanpa cinta, apa mungkin? Tidak mungkin. 

Kebenaran tanpa cinta adalah logika. Kebenaran selalu bergandengan tangan dengan cinta. Cinta terus menjadi pedoman menuju kebenaran. Oh, indahnya.

God is love. For you who belief, me and God love you. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang