Imbang

Bacalah jika ingin tahu dunia. Tulislah jika ingin diketahui dunia. 

Kok biner? 

Jika ingin tahu dunia, ya keliling dunia. Empiris! Ingin tahu dunia dengan membaca itu idealis. Seakan-akan ide yang timbul akibat proses berpikir dari bacaan itu adalah realita. Dimana pengalaman empiriknya? Dimana kesempatan bagi mata, perut, kulit dan kaki untuk merasakan nikmatnya dunia? Dunia bukan hanya milik otak dengan idenya, dunia nyata jelas untuk dialami secara empirik. Dunia harus dicerap sempurna, begitu kata positivis. 

Jika ingin diketahui dunia, ya mencinta. Ya beraksi. Ya berkontribusi. Ya berjuang untuk diketahui, bukan cuma dengan menulis. Ya postmo - melihat banyak cara mencapai kebenaran "diketahui dunia". Ya terserah masing-masing. 

Tapi bukan itu. Adalah seimbang yang seakan-akan dibutuhkan bagi hidup. Sebaiknya, manusia harus tahu dan diketahui dunia. Itu sebaik-baiknya manusia, mungkin menurut entah. Laki-laki dan perempuan, satu saja contohnya, adalah bentuk keseimbangan. Kalau ada laki-laki yang keperempuan-perempuanan, dikatakan ia mengganggu keseimbangan. Entah keseimbangan psikologis individu atau keseimbangan masyarakat. Intinya, mengganggu keseimbangan. Apa yang manusia cari dari keseimbangan? 

Untunglah masih ada pertandingan sepakbola. Sepak bola mengajarkan bahwa keseimbangan tidak dibutuhkan. Yang dibutuhkan adalah kemenangan. Tapi kan untuk mencapai kemenangan butuh keseimbangan dalam elemen terkait dengan pertandingan? 

Jangan, jangan melawan keseimbangan. Cara berpikir yang paling radikal pun butuh keseimbangan. Kelahiran pemikiran kiri, radikal dan Postmo adalah buah dari perlunya keseimbangan pemikiran bagi manusia. Keseimbangan antara yang mapan dan anti-kemapanan, yang berkuasa dan oposisi. Mengikuti keseimbangan adalah hal terpenting: bahkan untuk membaca tulisan ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang