Tuhan
Semata antropodisi ada kelirunya. Semata teodisi, apalagi.
Habermas berkata bahwa Tuhan adalah struktur komunikatif dalam masyarakat. Durkheim berkata Tuhan adalah fakta sosial: masyarakat itu sendiri. Berkuasanya mereka mendefinisikan Tuhan. Jadi, siapa yang berkuasa sebenarnya? Manusia atau Tuhan? Manusia pada faktanya "membahasakan" Tuhan, yang Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Besar. Durkheim dan Habermas, dua orang itu saja mampu membahasakan Tuhan.
Mereka berbicara dalam konteks. Mereka juga membahasakan Tuhan dalam konteks. Konteksnya beragam dan selalu menarik. Pembahasan mengenai Ketuhanan memang selalu menarik bagi mereka yang berpikir. Bagi mereka yang tidak puas hanya dengan taklid terhadap dogma agama. Tuhan nyatanya, sadar atau tidak sadar, terus dibicarakan. Kalau ada perspektif yang memberi penekanan bahwa "apa yang dibicarakan" itu yang ada, maka barang tentu Tuhan ada.
Tapi, antropodisi saja tidak memberikan penjelasan yang imbang. Bagaimana teodisi menjelaskan bahwa manusia adalah lemah, yang tidak berdaya di bawah kekuasaan Tuhan juga perlu diperhatikan. Orang yang bijak adalah orang yang membuka pengetahuan dari segala sumber: bahkan dari oposisinya. Bagaimana kalau kemampuan manusia untuk "membahasakan" Tuhan adalah suatu kemampuan yang diberikan secara penuh kasih oleh Tuhan, untuk sekedar mampu mengenalnya lebih dalam. Bagaimana kalau Tuhan hanya memberikan satu jenis pengetahuan saja untuk manusia; yaitu pengetahuan yang bersumber dari bahasa, yang sejauh ini diyakini merupakan landasan berpikir? Adakah manusia mampu berpikir di luar bahasa?
Dalam pandangan Islam, Tuhan berbeda dengan makhluknya. Sedikit dari banyaknya perbedaan ini tentulah perbedaan kemampuan untuk mengetahui. Apapun.
Antropodisi dengan semangat kemanusiaan itu baik kalau diletakkan pada konteks. Teodisi dengan kesadaran keterbatasan manusia juga baik, kalau diletakkan pada konteks. Manusia adalah makhluk yang tidak sadar dipersulit konteks. Manusia, kanak-kanak maupun dewasa, selalu mengeluh dan berpaham pada konteks yang diyakininya sebagai kebenaran. Padahal, ia hanyalah konteks!
Komentar
Posting Komentar