Babi

Oh ya, untuk diketahui bahwa hidup masih menyisakan manusia untuk bebas dari tekanan makna. Bukan anjing, bukan kuda, bukan juga sapi. Tapi babi. 

Hiduplah manusia dengan berbagai jenisnya. Salah satunya dengan kesibukannya, gaya-gayaannya, hampir lupa kalau ia sungguh-sungguh telah memiliki ruang yang beragam. Ruang yang menyediakan berbagai keberbagaian yang ada. Ruang untuk apa saja. Apa saja untuk kehidupan. 

Manakala pagi datang maka ia berkata-kata sumringah pada dunia sembari merapikan bajunya. Tuntutannya. Manakala sampai senja maka ia berkata-kata lagi pada dunia sembari mengeluh-bersyukur, bersyukur-mengeluh, bahwa ia masih hidup. Dengan atau tanpa cinta, dengan atau tanpa ruang. 

Dan tatkala menyelesaikan suatu kegiatan, ia masih menerka-nerka makna. Setidaknya, sekurang-kurangnya dari apa substansi serta intinya. Sekurang-kurangnya, ia harus selesai dengan suatu pemahaman yang memuaskannya. Seburuk-buruknya, ia harus efektif memanfaatkan waktunya: ia telah merelakan waktunya yang maha dahsyat itu untuk dibuang-buang melakukan suatu kegiatan tertentu. Memang, manusia jenis ini telah menjadi budak waktu yang tidak pernah berhenti menariknya ke dalam pusaran efektivitas. Manusia jenis ini tidak bisa tidak berlandaskan rasionalitas. 

Menjadi manusia jenis ini, masihkah manusia? Masihkah pantas?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang