Pembangunan

Tema ini terus bergulir, apapun dan bagaimanapun cara ahli merusak makna baiknya.

Citra pembangunan, yang digempur beberapa sisi oleh para pemikir postmodern itu, seakan terus memburuk. Seakan tiada ruang bagi agen pembangunan (jangan katakan pemerintah) untuk memperbaiki keadaan. Padahal, tujuan pembangunan kan baik?

Ternyata, kehidupan sosial tidak bisa direduksi sebegitu indahnya pada tujuan. Ia menyimpan cara (means) yang dalam beberapa waktu memang mempengaruhi masyarakat yang hendak dibangun. Sosialisme memiliki tujuan yang amat mulia, sangat amat mulia: social justice dan equality. Tapi caranya? Di Kamboja era Pol Pot, diberlakukan-lah yang disebut social engineering, perekayasaan sosial, dengan paksaan negara yang totaliter menyuruh (salah satunya) dokter-dokter menjadi petani desa. Rekayasa sosial ini tentu merugikan kepentingan beberapa kelas, sekaligus, menguntungkan beberapa kelas pada satu waktu. Intisarinya adalah, jangan melupakan cara dalam pembangunan, semulia apapun tujuannya.

Kapitalisme? Francis Fukuyama sudah mengatakan dengan terang, sejarah telah dimenangkan kapitalisme. Dan itu benar, itu sahih adanya dengan bukti yang dapat kita saksikan sendiri dalam infrastruktur perkotaan.

Tapi bukan kemenangannya, melainkan means-ends nya yang perlu dilihat. Kapitalisme, secara sembrono dan tidak terikat kepentingan apapun, memiliki ends bahwa kesejahteraan dan kebebasan individu berada di atas segalanya. Sekilas, tujuan ini juga mulia betul, sama seperti sosialisme. Sayangnya, kehidupan sosial tidak berhenti pada permasalahan ends (Kalau begitu, semua masyarakat pasti mati dan sudah di surga sekarang). Cara kapitalisme membangun ternyata memiliki kekurangan-kekurangannya, bahkan kecurangan dan kejahatannya yang amat jauh dari kata membangun masyarakat dunia. Alih-alih membangun kesejahteraan individu, kapitalisme justru membenamkan individu ke dalam kemiskinan terparah. Dan perdebatan pembangunan beserta pilihan kebijakan terus berjalan.

Pembangunan, jangan-jangan sudah tidak memerlukan ideologi. Yang diperlukan adalah kebaikan hati pemerintah kepada rakyatnya: cinta manusia. Wah, repot juga kalau sudah begitu. Persoalan kanan-kiri, neo-lib vs sosialis dan social order vs social justice, ternyata hanyalah second order reality. Hanyalah kenyataan kedua! Realitas kedua dalam kehidupan.

Apalagi.... kalau bukan cinta.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang