Wallerstein

Kajiannya yang kontroversial itu telah membuka cakrawala pemikiran ilmu sosial, yang tanpa disadari, telah memendam bias-bias tradisional teori sosiologi. Wallerstein dengan metode analisa sejarah yang menyeluruh telah memampukan pembacanya untuk membuka kemungkinan kerjasama lintas ilmu, dalam hal ini sosiologi dan ilmu sejarah. Sejarah yang nomothetic dan Sosiologi yang ideographic, menurut Wallerstein, harus mampu memberikan penjelasan atas fenomena masyarakat secara menyeluruh. Dengan kata lain, Wallerstein mengkritik Sejarah karena terlalu memberikan perhatian pada periode kesejarahan sementara Sosiologi terlalu sibuk dengan pola-pola umum dalam masyarakat. 

Lelah betul memang untuk mengerti Sosiologi. 

Tapi karenanya, menjadi kenikmatan sendiri.

Wallerstein memberikan beberapa pemikiran yang sekiranya menjadi bahan renungan bagi negara-bangsa kontemporer. Salah satu pemikirannya yang mencolok adalah bahwa negara sosialis hanyalah secuil dari luasnya sistem kapitalis (world-system). Selama negara sosialis tetap mengandalkan perdagangan dengan luar negeri, selama itu pula ia menjadi bagian dari sistem kapitalis dunia. Selama itu pula ia telah meleburkan ideologi ekonomi-politiknya: sosialisme palsu. Wallerstein memperjelas pemikirannya dengan mengatakan bahwa di negara Sosialis dimana peran negara begitu kuat, maka fokus pembangunan akan berada di kuasa negara sepenuhnya. Ini berarti negara sama saja dengan kapitalis-kapitalis besar itu, andaikan negara memang benar berfokus pada perdagangan. Namun, sepertinya Wallerstein masih berbaik hati dengan tidak (belum) mengatakan bahwa negara sosialis adalah musuh bagi masyarakat yang mengidam-idamkan sosialisme itu sendiri. 

Wallerstein, Kapitalisme, Sejarah, Sosiologi, Tri-kutub, Sosialisme. 

Wallerstein, jangan benam terlalu dalam dunia dalam teorimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang