Realitas

Dari sekian tradisi Sosiologi yang unik, salah satunya adalah kritis dan debunking/pembongkaran. 

Tapi, kritis dan pembongkaran itu hanya terbatas pada struktur ciptaan. Belum menyentuh realitas transendental dari masyarakat. Masih-kah Sosiologi memiliki tradisi tersebut?

Adalah rasionalisme yang menggerakkan semangat keilmuan Sosiologi. Dengan rasio, ditangkaplah kebenaran. Ditemukanlah teori yang menjelaskan gerak-gerik manusia. Sayangnya, perhatian berlebih pada rasio ini, pada empirisme ini, telah menina-bobokan masyarakat dari sumber pengetahuannya yang lain. Keyakinan. 

Keyakinan akan adanya Tuhan ini-lah yang oleh Sosiologi dibahas dalam batasan yang jelas. Sebagai ilmu pengetahuan, Sosiologi akan membatasi dirinya dalam upaya melihat realitas ultim ini. Bagi Sosiologi, agama beserta wahyunya hanyalah sekedar mitos, mungkin dalam kerangka yang lebih optimis sebagai pemerkuat kebersamaan masyarakat. Sosiologi tidak melihat kebenaran di luar struktur kemasukakalan, di luar empirisme! 

Padahal, masyarakat memiliki struktur kebenarannya sendiri, di luar empirisme itu. Struktur kebenaran itu adalah struktur Pencipta, dan struktur keduanya adalah struktur ciptaan dari Sang Pencipta itu sendiri. Sosiologi sibuk meneliti kebenaran via struktur ciptaan: dan mungkin menganggap Struktur Pencipta sebagai angan-angan manusia yang lemah dan membutuhkan figur yang maha kuasa untuk menolong kelemahannya. Dalam posisi kebingungan seperti ini, Sosiologi terus berjalan dengan keyakinan paradigmanya. Entah positivistik, interaksionis maupun yang lainnya. 

Sosiologi, pada perkembangannya, terus berbicara dan kritis terhadap realitas dalam masyarakat. Tanpa diketahui, realitas dalam Sosiologi adalah realitas dari struktur ciptaan. Masihkah hal tersebut dikatakan realitas? 

Dengan kata lain, apakah Sosiologi selama ini terjebak dalam permainan yang dibuatnya sendiri?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang