30 Tahun dan Petanda Ideologis
Belum pernah saya sebegitu tergelitik membaca buku, seperti membaca buku "Tuhan Ingin Anda Kaya" karangan Paul Zane Pilzer. God Bless Him and His Writings.
Kesan pertama saya terhadap buku ini begitu normatif - teologis. Tapi, semua tahu, kesan pertama bisa menipu. Buku ini berisi suatu filosofi ekonomi yang padat dari pengalaman hidup sang penulis yang berdiri di atas bahu para intelektual - ekonom yang besar. Saya yang tadinya merasa sendirian merenungi ideologi besar dunia, nowhere but between the ideology, merasa penulis hadir begitu dekat menemani renungan saya.
Dengan gaya bahasa yang santun, namun terkadang agak ketus juga, Paul Zane Pilzer menunjukkan bagaimana dunia tempat kita hidup adalah tempat yang tidak terbatas untuk kekayaan seluruh manusia. Tadinya, saya merasa klaim seperti itu amat oportunis dan penuh dengan bias orang kaya yang biasa dilebih-lebihkan oleh motivator. "Dunia kita adalah dunia berlimpah" adalah jargon banal motivator agar memotivasi orang miskin lepas dari kondisi aktualnya.
Tapi, jargon itu tidak lagi banal ketika saya membaca buku ini.
Buku ini menunjukkan kepada anda bahwa dunia berlimpah memang suatu kebenaran. Bisa saya yakinkan pada anda bahwa ia menjelaskannya dengan argumen yang amat logis, bukan emosi meledak-ledak khas motivator. Saya tidak mungkin menuliskan kebenaran keseluruhan argumennya disini, selain memang ada kritik saya terhadap pemikirannya. Tapi, seperti biasa, saya akan tuliskan bagian tulisan yang paling mengesankan saya.
Biasanya, bagian hidup yang mengesankan begitu membekas dalam alam ingatan kehidupan kita. Begitu juga dengan beberapa bagian kecil buku.
Saya terkesan atas analisisnya tentang ilmu ekonomi. Menurutnya, ilmu ekonomi konvensional mendasarkan pandangannya pada kelangkaan, suatu hal yang disebutnya ekonomi negatif. Pandangan seperti ini ditolak mentah-mentah oleh Pilzer. Ia menjelaskan bagaimana alkimia ekonomi, suatu ilmu ekonomi positif-nya, bisa mendasarkan pandangan pada dunia ini berlimpah. Ada satu analogi yang saya ingat, tapi tidak percis.
"Bumi kita ini bukan-lah mobil yang sewaktu-waktu bisa kehabisan bensin".
Pembacaan saya masih pada tahap awal. Saya jarang membaca buku-buku filosofi ekonomi seperti itu. Apalagi manajemen. Dan saya juga tidak mengetahui state of the art, perkembangan ilmu ekonomi, sehingga saya belum tahu bagaimana kritik para ekonom terhadap pandangan Pilzer tersebut. Tapi, saya bisa merasakan semangat perubahan yang ia bawa untuk ilmu ekonomi khususnya, dan manusia umumnya. Jangan-lah lagi mendasarkan analisa pada kelangkaan, karena itu bisa mengakibatkan konklusi hebat, tapi keliru. Fokuskanlah pada pandangan pada bumi itu berlimpah, yang akan mencukupi seluruh kebutuhan ummat manusia.
Tapi, anda bisa bertanya-tanya. Bagaimana caranya?
Yang mengagetkan saya, ia tidak menjelaskan argumennya dengan berbagai sistem politik - ekonomi dunia yang rumit. Argumennya cukup simpel, dan menjiwai hampir seluruh penulisan buku itu, bahwa teknologi-lah yang merupakan cara bagi manusia agar bisa hidup berlimpah. Dengan teknologi, manusia bisa mendefinisikan, mengeksplorasi, mendistribusikan sampai menyimpan Sumber Daya Alam. Pernahkah terbayang oleh anda saat ini, bahwa beberapa tahun lagi kita akan hidup dengan berlimpah seperti itu, dengan hanya mengandalkan teknologi?
Kita bisa kembali kepada makna teknologi. Tentu saja.
Pilzer memaknai teknologi bukan sekedar telepon, pesawat dan internet. Ia lebih luas, dan mendasar, daripada itu. Teknologi juga berarti manajemen yang efektif. Intinya, cara manusia agar lebih efektif memenuhi kebutuhannya. Apabila dengan memecat 800 karyawan, dan menggunakan 1 atau 2 komputer saja akan jauh lebih efektif bagi pertumbuhan dan pembangunan, maka itulah penggunaan teknologi.
Yang berkesan bagi saya, ia tidak menisbikan analisa tentang sosialisme dan gerakan sosial. Ia menjelaskannya dengan sekadarnya. Membaca tulisannya seperti dibimbing oleh senior yang malang melintang dalam membaca berbagai ideologi dunia, bukan sekedar mendalami, dan meyakini, salah satunya. Ia terlihat begitu matang dalam mendamaikan ide dan kenyataan. Sampai saya menemui tulisan, yang merupakan kata-kata dari ibunya, yang berbunyi:
"Jika kau bukan pengikut komunis sebelum berumur tiga puluh tahun, kau tidak punya jiwa; dan jika kau menjadi pengikut komunis setelah berumur tiga puluh tahun, kau tidak punya otak"
Saya tidak tahu apa makna tiga puluh tahun bagi ibu si penulis. Dan saya masih bertanya-tanya sampai sekarang. Apakah di umur tersebut, manusia mulai menyerah dengan sosialisme dan perjuangan rakyat sembari berpikir realistis dengan menerima hidup dalam era kapitalisme? Andaipun ibu si penulis mengigau saja, saya bisa pastikan igauan itu lahir dari ibu yang tulus. Yang lama tinggal di pusat kapitalisme, tentunya.
Kembali pada 'jin yang sudah dilepaskan dari botolnya' bernama teknologi.
Saya belum pernah membaca satu buku yang begitu menggugah mengenai peran penting teknologi dalam keberkahan dan keberlimpahan hidup manusia. Dengan teknologi-lah manusia bisa maju sekaligus mundur. Walaupun begitu, Pilzer memberikan penekanan pada kesenjangan teknologi dalam masyarakat yang berbeda. Kesenjangan teknologi lah yang menjadi pembeda pasar dunia, dan masyarakatnya. Saya bisa membayangkan mobil Jepang di Indonesia dengan sekilas. Atau, metoda komunikasi masyarakat kota yang sibuk dengan desa yang terpencil. Yang satu sudah menggunakan internet untuk menghubungi orang yang ribuan kilometer jauhnya, yang satu masih menggunakan pentungan dan berbagai alat tradisional lainnya.
Dalam tulisannya, ia juga mengemukakan bagaimana sejarah dan filosofi perusahaan, manajemen, karyawan, buruh sampai perdebatan Smith dan Marx. Belum pernah saya membaca buku yang memuaskan 'dahaga ideologis' level mahasiswa seperti saya ini. Apabila anda mengetahui dan memiliki buku yang anda rasa memuaskan dahaga ideologis anda, anda bisa pinjamkan saya.
Saya belum menamatkan buku ini. Dan saya sudah tidak tahan untuk menuliskan pengetahuan yang saya dapatkan darinya. Juga, saya hanya meminjamnya dari teman, yang juga meminjamnya dari perpustakaan. Tidak bisa tidak, ungkapan bahwa "setiap buku memiliki nasibnya masing-masing" adalah kebenaran yang tidak tertolakkan. Sama dengan ungkapan "alam ciptaanNya yang luar biasa, yang berkah dan berlimpah bagi seluruh ciptaanNya."
Komentar
Posting Komentar