Karena Pasar Hidup 24 Jam
Sore itu, saya menghadiri seminar Liberalisme. Menarik sekali acaranya, menghadirkan filsuf Mas Rocky Gerung dan 3 pembicara lain yang juga insightful. Mereka bicara tentang kemerdekaan.
Mendengar liberalisme, apa sih yang ada di kepala kita? Apakah liberalisme begitu menyeramkannya, atau menjijikkannya, sehingga beberapa orang memilih sama sekali menutup hikmah dari liberalisme?
Saya perhatikan liberalisme dikupas dari berbagai perspektif, mulai agama sampai ekonomi. Salah satu pembicara dari Fakultas Ekonomi, Mas Berly, memaparkan sejarah perkembangan pemikiran liberalisme. Filsafat Ekonomi mungkin tepatnya. Mulai dari Adam Smith dengan Wealth of Nationsnya (bukan Wealth of Individual/Family lho judulnya) sampai Frederik Hayek yang mempelopori neoliberal. Seru sekali memang membahas pemikiran orang-orang ini, selain pemikiran tersebut memang mempengaruhi secara langsung kualitas hidup jutaan umat manusia.
Saya tidak begitu tertarik liberalisme dari sisi agama (Islam). Rasanya kok saya sering mendengar hal itu, dan sedikit bosan gitu. Tapi, saya akan ceritakan bagaimana liberalisme dari sisi Islam, tentunya sebatas ingatan dan pemahaman saya.
Islam ternyata tidak begitu asing dengan liberalisme. Semangat pembebasan Islam justru terlihat nyata sedari awal lahirnya. Kalau dikatakan semua agama revolusioner, memang begitu nyatanya. Islam pada awalnya ingin mengubah keadaan masyarakat Arab yang jahil, yang bodoh itu. Kalau dalam perkembangannya agama menjadi konservatif, itu lain hal. Tapi semangat semua agama, rasanya, memang revolusioner pada awalnya.
Saya lupa bagaimana pendapat pembicara sore itu mengenai liberalisme dari sudut pandang Islam. Saya tidak terlalu berfokus mendengarkannya. Saya banyak memperhatikan liberalisme dari sudut pandang filsafat dan ekonomi, yang disampaikan dengan jenaka dan penuh lelucon oleh Mas Rocky dan Mas Berly. Dari sekian banyak hikmah yang disampaikan, saya ingat betul satu kalimat Mas Rocky yang menggugah saya berpikir mengenai keterbatasan sosialisme dan negara dalam membatasi pasar.
"Negara hidup hanya 8 jam. Mungkin hanya 5 jam efektifnya, dengan istirahat, dengan kegiatan yang lain. Sedangkan pasar hidup 24 jam. Bursa Efek Indonesia tutup, Bursa Efek Amerika baru saja mau buka. Bagaimana bisa negara mengawal pasar yang hidup 24 jam?" - dengan perubahan.
Dari situ, saya bertanya kembali mengenai proyek sosialisme yang mengandalkan politik dan negara sebagai panglimanya. Sore itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi akan terus berjalan, apapun kebijakan yang diambil negara dan think-thanknya. Saya masih awam terhadap bacaan-bacaan kiri. Tapi, saya tahu sedikit prinsip-prinsip bekerjanya.
"Ideologi berhenti di depan metodologi"
Lagi-lagi, Mas Rocky mengajak kita berpikir.
Saya kira, membicarakan liberalisme tidak mungkin melepaskan dirinya dari pasangan lamanya, sosialisme. Meskipun sore itu sedikit sekali pembahasan mengenai sosialisme, dengan sendirinya, kita akan teringat pada sosialisme ketika prinsip-prinsip liberalisme itu dibicarakan. Misal, ketika liberalisme membicarakan salah satu tujuannya yaitu memerdekakan pikiran dan tindakan orang lain, kita akan segera teringat mengenai relasi kelas yang objektif disana. Bagaimana buruh bangunan, tukang becak dan proletar yang lain, bisa berpikir merdeka kalau saja kondisi mereka tidak memungkinkannya? Boro-boro mikir, buat makan saja susah! Paling begitu kata mereka. Lha wong mereka harus patuh sama juragannya kalau mau makan.
Sampai saat ini, saya amat tertarik mengikuti segala perdebatan mengenai ideologi. Bukan apa-apa, tapi membahas pemikiran yang mempengaruhi orang banyak itu rasanya gimana gitu. Bisa serius tapi bisa juga jenaka. Sing penting ojo jotos-jotosan yo, kalau kata penyanyi dangdut di Pantura. Asyik lah pokoknya mengomentari kehidupan masyarakat ini.
Kalau logikanya begitu, profesi paling asyik berarti Sosiolog ya? Yang kerjaannya ngomentari orang lain, katanya ilmiah sih, hehehe...
Kembali kepada ideologi yang berhenti di depan metodologi. Mengapa kapitalisme dan demokrasi bisa berjalan lancar, salah satunya, adalah karena ideologi ini, secara metodologi, dapat diterapkan. Saya tidak mengatakan bahwa sosialisme tidak bisa diterapkan, tidak. Hanya saja, jarak antara mimpi yang dipropagandakan dengan kenyataan praktikal kehidupan terlalu jauh. Saya tahu, banyak varian sosialisme yang rumit itu. Anda mungkin membela bahwa ada sosialisme yang bukan mimpi saja, sosialisme ilmiah. Apapun lah itu.
Tapi buat orang banyak, apakah kehidupan seperti yang diajukan sosialisme itu relevan? Saya sendiri membayangkan hidup di bawah sistem sosialisme itu sehari-harinya amat politis. Maksudnya, apa-apa jadi politis gitu. Main bola di lapangan futsal di Pancoran misalnya, yang sejam-nya saja bisa 500ribu, nanti dikait-kaitkan ke sosialisme juga lagi.
"Bubarkan lapangan futsal yang mahal! Lapangan futsal untuk semua! Pemain futsal se-Jakarta, UNITE!"
Yah kalau gitu pusing juga ya hidup. Riweuh, kata ibu-ibu di kampung Jakarta, yang kenyataannya lebih memilih menonton Yuk Keep Smile bersama anak-anaknya. Mau main futsal aja revolusi dulu, kapan sehatnya! Hehehe...
Terus terang, sebelum saya lulus dari Sosiologi, dan menghadapi kehidupan yang nyata, yang jauh dari omongan sosialisme, saya harus bisa terpuaskan secara pemikiran. Sampai sekarang, saya mengikuti betul perkembangan sayap kiri di socmed. Yah, walaupun basis massa yang tertarik tidak ada 20% dari basis massa Cowboy Junior, saya kira berawal dari socmed ini sayap kiri bisa berkembang nantinya. Dengan pemikir yang masih muda-muda dan menggebu-gebu - semoga mereka konsisten ya - kekuatan ini bisa berkembang pesat apabila mendapatkan momentumnya. Hidup rasanya tak asyik tanpa pemikiran kiri.
Saya pernah diskusi iseng tentang para pemikir kiri itu. Sebenarnya, banyak aktivis yang belok arah itu, bukan hanya karena pengkhianatan ideologis. Tapi, karena hal yang lebih mendasar dari ideologi: keluarga!
Saya agak serius waktu itu. Ya bagaimana dengan nasib istri dan anaknya dengan tetap mengandalkan kiri? Kan anak istri butuh makan. Apalagi istri jaman sekarang ya. Gak cukup rasanya dikasih Smartphone, mereka juga minta suami yang mampu membimbing mereka ke surga lho! Yah, makin sulit aja rasanya kalau mengandalkan kiri. Apa sih profesi yang memungkinkan dengan itu? Aktivis? Wartawan? Jurnalis? Budayawan? Maafkan keterbatasan saya, tapi jujur, saya kok belum melihat yang lebih dari itu ya?
Saya sampai pada pemikiran bahwa, menjadi kiri yang sejatinya itu, ketika kita bebas finansial. Jadi, marxist sejati adalah mereka yang sudah kaya raya sehingga sehari-harinya tidak perlu-lah kerja keras banting tulang seakan menghamba pada kapitalis dan kapitalnya. Jadilah kapitalis itu sendiri, yang dengan kekuatannya, menyebarkan 'obat' yang disebut kiri. Buatlah modal sendiri, yang dengan modal itu, mampu menghentikan propaganda kapitalisme. Pertanyaannya, bisa ndak bebas finansial? Lha wong untuk menuju kesana kan butuh belajar bahasa dan angka dari kapitalis yang gendut-gendut itu. Bisa ndak belajar ngitung dan akrab dengan angka-angka itu?
Ah itu cuma renungan sambil lalu saya. Habis, saya melihat konsepsi keluarga-lah yang membuat para aktivis akhirnya nyerah juga. Yaudahlah, sudah lewat momen saya, saya berharap masih ada yang lebih muda yang setia pada rakyat. Saya harus menghidupi rakyat saya yang terdekat, keluarga saya yang tercinta.
Dengar-dengar, belakangan lagi hips menjadi motivator. Entah bagaimana ya posisi dan peran motivator dalam sistem sosialisme itu. Ada nggak sih model-model Golden Way di sosialisme? Soalnya saya gak banyak baca tentang keadaan masyarakat sosialisme secara riil. Tapi, saya agak gimana gitu kalau ada aktivis kiri waktu mahasiswa eeeh pas lulusnya jadi motivator kekayaan. Agak ngilu aja sih sedikit. Saya cuma ngilu, bukan menghakimi lho ya. Bebas aja lah. Kalau kata motivator Barat yang saya ikuti di Facebook "You, and only You, are responsible for your own life!" Apakah kita bisa menilai bahwa kata-kata itu berasal dari ranah kapitalisme dan para borjuisnya, yang amat individualistis itu? Huaduh, sempitnya hidup kalau begitu. Dikit-dikit kapitalisme. Sama kayak feminis, dikit-dikit patriarki. Seakan-akan hidup sesimpel itu. Hehehe, peace. Sing penting ojo jotos-jotosan yo.
Saya akan senang sekali kalau ada di antara anda hendak membicarakan ideologi secara santai. Tidak usah emosi gitu maksudnya, tidak ngubah keadaan juga. Eeeh maaf, saya pesimis nih malah sama perjuangan rakyat. Tapi dalam hati terkecil setiap orang, sampai biangnya kapitalis sebesar bernama Bill Gates pun, pasti punya lah keinginan keadilan sosial. Dia tuh penyumbang terbesar se-jagat raya lho. Hebat betul dia, kita harus akui itu bahwa dia memiliki jiwa yang besar.
Jadi, jangan sampai perspektif kita dalam melihat dunia sosial tertutupi oleh ideologi. Modal misalnya, jangan dikatakan mereka-mereka yang memiliki modal pasti buruk juga gitu. Mereka kan bisa juga menggunakannya untuk kebaikan rakyat. Hidup ini kan butuh biaya ya. Kita menerima konsepsi biaya itu, yang katanya ilusi, bernama uang. Dengan uang yang banyak, toh Cristiano Ronaldo gemar sekali menyumbang hingga ia makin berkah saja rasanya. Begitu juga dengan Bill Gates.
Lagipula, sepertinya ada yang missing dari penjelasan Marxist. Sepemahaman saya, diktator proletariat itu bisa kapan saja menyalahgunakan kekuasaannya lho. Bayangkan saja, misal dengan sekali pukul revolusi, para tukang becak dan buruh bangunan menjadi politisi PKI, menjadi presiden dan menteri-menterinya. Huaduh, saya kok gak terbayang ya gimana rasanya negara ini? Mereka yang tadinya marjinal tiba-tiba menjadi manajer masyarakat, wah apa nggak puber kekuasaan tuh mereka? Apa mekanisme yang bisa digunakan untuk mengawal kekuasaan mereka ya? Terus, kemana mereka-mereka yang tadinya berkuasa itu, para kapitalis dan anak buahnya?
Diem Mas, kita liatin aja. Kita lagi ngatur strategi baru lagi! Paling-paling kekuasaan mereka gak selama perhelatan Piala Dunia! Hehehe.
Mungkin begitu kata kapitalis dan para manajer masyarakat sebelumnya...
Ah, saya jadi melantur kemana-mana. Yang penting, kata penyanyi dangdut Pantura yang baru saja membaca Gandhi, "Apapun ideologinya, sing penting ojo jotos-jotosan yo".
Komentar
Posting Komentar