Ngapain Setelah Lulus?

Menjelang akhir-akhir perkuliahan, anda mungkin seringkali mendengar "kapan lulus?" yang biasanya disertai dengan "kapan nikah?" Santai saja. Jangan dianggap serius, itu basa-basi kok. 

Basa-basi tapi nyelekit juga...

Saya belakangan perhatikan beberapa lulusan yang saya kenal. Setelah lulus nggak langsung kerja juga kok. Biasanya, ada post kuliah syndrome gitu. Biasanya sih, semoga saja saya dan anda ndak. Gejala post kuliah syndrome ini agak ngeri ya. Males-malesan, ngelamar kerja, dan males-malesan lagi. Yah, kadang juga nyari beasiswa. Siapa tahu dapet, lumayan kan. 

Dari observasi sekilas saya itu, saya bisa konklusikan tantangannya bagi kita, para mahasiswa tingkat akhir, bukan lagi terletak pada "kapan lulus?" tapi pada "mau ngapain setelah lulus?". Saya pernah baca tulisan pengantar Pak Menteri BUMN kita, Dahlan Iskan, yang isinya pidato kelulusan mahasiswa. Saya lupa Universitas apa. Tapi intinya adalah beliau diberi ruang untuk memberikan pidato kelulusan. Beliau mengaku tidak biasa memberikan pidato itu, seingat saya. Karena tidak biasa, beliau nanya aja sama lulusan yang lagi seger-segernya itu. 

"Siapa di antara kalian yang sudah punya rencana besok pagi?"

Jika saya ada di antara lulusan itu, saya merinding. Jangan sampai anda juga. 

Anda sudah bisa menebak, sedikit sekali yang sudah tahu rencana besok paginya. Dari ratusan atau ribuan mahasiswa, ternyata hanya 3 orang yang menjawab sudah punya rencana. 3 orang saja! Yang semuanya, setelah ditilik-tilik, ternyata berencana menjadi pengusaha!

Bahasa kerennya, seorang entrepreneur! 

Waah, saya terinspirasi banget jadinya. Bener juga sih ya, setelah lulus kita biasanya, bingung. Berapa banyak di antara kita yang berpikir 'nanti dulu lah, lulus dulu yang penting, bikin nyokap bangga punya anak sarjana' . Ndak ada yang salah dengan pola pikir seperti itu, saya juga gitu kok. Bukannya 'nanti gimana', tapi 'gimana nanti'. Hehehehe...

 Easy going itu asik, tapi hidup ini kan harus seimbang. Yin dan Yang. Membosankan kan berteman dengan teman yang terlalu easy going? Rasanya gak tanggung jawab banget sama hidupnya. Meminjam bahasa teman saya "ndak suami-able banget!" laki-laki yang ndak tanggung jawab. Saya ngikik-ngikik bacanya pertama kali. Suamiable, gimana gitu bunyinya.

Omong-omong, kalau menyangkut perempuan idaman, laki-laki sih mana yang ndak mau berubah. Serius lho ini. Coba tanya teman anda yang anda kenal baik, tiba-tiba suatu hari berubah pesat. Dari tadinya cuek rambutnya jadi klimis misalnya. Dari sepatu yang katrok jadi Brodo yang gentle. Prediksi saya, dari 100% kemungkinan jawaban yang benar, ya 50% pasti karena perempuan. Pasti dia lagi pendekatan. Mistis betul memang perempuan itu. 

Tapi yo punya teman kaya gitu jangan dibetein karena udah beda. Didoain aja biar dapet. Kan kalau udah dapet, kita juga yang seneng? Ntar juga dia balik lagi, apalagi kalau bukan mamer!

Kembali pada lulus dan pasca lulus. Saya tahu, pilihannya banyak sekali. Tapi, bisa kita petakan lah, mana yang riil mana yang ndak. Mana yang langit mana yang bumi. Untuk anak Sosiologi misalnya, yang mulai lelah dengan fenomena sosial, mulai berpaling ke riil dan mungkin banyak yang ingin 'khianat' ke Ekonomi, terutama manajemen. Argumen yang seringkali saya dengar adalah "Ah yang riil riil aja lah hidup!". Oke juga...

Saya jadi agak empati dengan Sosiologi. Tapi jujur deh, apa kontribusi Sosiologi sejauh ini untuk Indonesia? Santai dulu, bukan mau merendahkan Sosiologi. Saya malah mau objektif. Berapa Sosiolog, dibandingkan pengusaha, yang lebih dibutuhkan Indonesia? Saya kira, gak sampai ribuan Sosiolog (dalam artian Sosiolog sesungguhnya ya, bukan Sosiolog Socmed) yang dibutuhkan Indonesia untuk mewakili masalah sosial masing-masing provinsi. Ndak usah banyak-banyak lah, yang penting hadir saat dibutuhkan. Secukupnya, seperti sambal untuk soto.

Dengan logika itu, saya hendak mengatakan bahwa Indonesia, memang, butuh pengusaha yang banyak berlimpah. Yang bukan hanya bermodal, tapi bermoral.

Toh, dengan menjadi pengusaha, kita tidak berhenti menjadi 'Sosiolog'. Malah lebih besar kemungkinannya bukannya pengaruh pemikiran kita ya? 

Tapi, di sisi lain, agak gimana gitu kalau ada teman saya yang bilang mau lanjut kuliah di Sosiologi. Rasanya, wuih banget! Anda pernah naik motor malam-malam, tidak ada satu pun kendaraan di jalan raya, terkibas angin malam? Atau, ketika anda lagi bete banget, tiba-tiba gebetan SMS? Nah, seperti itu. Wuih lah pokoknya! Kata tidak bisa terjemahkan lagi. 

Untungnya, hidup ini kita bisa memilih. Dari beberapa pilihan, sikap yang bijak itu mendoakan. Tentu saja saya dan anda mendoakan pilihan masing-masing teman. Kan enak nanti, 10 - 20 tahun mendatang, kalau teman saya semuanya "sudah jadi orang". Dengan kata lain, jadi manajer, jadi dosen, jadi aktivis LSM, atau jadi pengusaha. Atau, sekedar jadi istri pengusaha. Ndak apa-apa, sing penting anak-anak gemuk-gemuk, belanja lancar dan tetangga ramah-ramah. Wuah, idaman tiap perempuan banget tuh! Hehehe...

Nah, setelah anda baca tulisan ini, terutama yang sedikit lagi lulus, saya harap anda siap esok pagi setelah hari kelulusan. Saya ndak ingin bergaya layaknya motivator, ndak. Hanya saja, masa depan itu realitas anda. Anda tidak bisa menghentikan masa depan yang menanti anda, dengan segala kemampuan anda. Se-rebel-rebel-nya anda dengan konsep modernitas, anda tidak bisa mengalahkan waktu. Waktu terus berjalan, the clock is ticking.

Jadi, sebagai insan kamil, sebaik-baiknya manusia, ya akan lebih berguna memikirkan dan berfokus pada mau apa setelah lulus, bukannya bete pada saudara atau senior (atau bahkan junior yang terkadang tengik itu) yang bertanya kapan lulus. Lulus (lolos) itu kepastian kok, bener! Yang ndak pasti itu, mau apa setelah lulus. Tanya saja kepada wisudawan-wisudawan itu.

Iya sih. Tapi... fokus skripsi kamu mau kemana? kata dosen pembimbing itu, bertanya-tanya...




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang