Islam, Pembangunan dan Klaim Atasnya

Tulisan ini adalah keluaran dari berputar-putarnya isu dalam skripsi saya. Jangan mengharapkan wacana mainstream, dominan atau terbaru dari tulisan ini. Dimuat karena tujuan iseng saja, hehehe...

Sebenarnya, ketertarikan saya terhadap isu Islam dan pembangunan baru belakangan ini. Walaupun saya harus akui, pikiran saya seringkali terusik sedari awal kuliah oleh klaim-klaim intelektual Barat, seperti Weber, yang melihat Islam sebagai penghambat pembangunan. Weber mencapai konklusi ini karena menurutnya, Islam tidak memiliki karakteristik yang diperlukan untuk pembangunan/kapitalisme. Lho, kok bisa

Dari kajian Weber terhadap Islam itulah lahir puluhan, mungkin ratusan, kajian intelektual Barat tentang Islam. Ada yang menolak pendapat Weber, ada yang setuju dengan menambah-nambahi argumennya. Dari perdebatan ini, kadang saya terpingkal-pingkal sendiri. Ya, saya terpingkal-pingkal. Bukan karena saya melihat betapa lucunya argumen-argumen tersebut tetapi juga karena saya tidak memahami perdebatan yang berat itu. Saya pikir-pikir, menyenangkan juga ternyata mengikuti perdebatan Islam dan pembangunan ini. Yang lebih menyenangkan lagi adalah, karena ini jadi topik skripsi saya.

Pada pemetaan kajian sementara saya, isu Islam dan pembangunan terdapat dua poros yang ekstrem. Ada yang mengatakan Islam anti pembangunan dan sebaliknya. Pada isu ini, saya - mungkin juga anda - lebih tertarik pada proses berpikir dan epistemologi intelektual tersebut hingga melahirkan konklusi dan klaim-klaim pembangunan dalam Islam. Bahwa Islam memiliki semangat entrepreneur dan karenanya, Islam pro pembangunan Islam adalah satu argumen. Bahwa Islam adalah agama reaksioner terhadap kapitalisme neoliberal dan agama yang terbelakang, itu juga sah sebagai argumen. 

Pertanyaannya adalah, jika obyek kajiannya adalah Islam sebagai agama, secara common sense, kok bisa melahirkan konklusi yang kontradiktif?

Nampaknya, Intelektual Barat masih bingung membedakan Islam dan Muslim. Islam sebagai ajaran dan Muslim sebagai tindakan jelas berbeda. Saya melihatnya wajar dalam dunia sosial, dan bukan hanya terjadi pada Islam. Nyatanya, banyak juga ajaran agama lain yang disalahtafsirkan penganutnya. Mereka, para kaum terdidik Barat itu, yang melakukan penelitian kira-kira 12 - 36 bulan di lokasi, ternyata hanya melihat tindakan Muslim di lokasi tersebut. Andaikan tindakan Muslim yang ditelitinya itu anti pembangunan, memilih hidup sederhana dan mengagung-agungkan akhirat misalnya, maka konklusinya adalah Islam anti pembangunan karena Islam mengutamakan akhirat. 

Saya agak gimana gitu bacanya. Rasanya seperti minum teh tanpa gula, kurang pas. Dan dari situ juga, saya memberikan hormat berlebih terhadap intelektual yang berhati-hati dalam memberikan konklusi/pendapat.

Pertama, karena Islam itu luas ajarannya sehingga Muslim juga luas tindakannya. Bayangkan, dari Rasul Muhammad SAW yang mengajarkan pertama kalinya hingga jaman Ustadz Guntur Bumi dan Hizbut Tahrir, sudah berapa versi tentang Islam? 

Kedua, Muslim juga sulit, untuk mengatakan tidak mungkin, menyerap ajaran Islam secara sempurna. Jaman sekarang ini, siapa sih yang punya otoritas atas Islam? Otoritas sudah tersebar dimana-mana. Buat anda yang sering searching fatwa/hukum secara online, tidak apa-apa. Itu wajar sekali. Tapi, salah satu poinnya adalah bahwa sosialisasi Islam mengalami distorsi, entah karena faktor apa, yang membuat Islam dipahami berbeda-beda. 

Dari kondisi Islam di poin kedua, saya memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam Islam.

Dari kedua kondisi di atas saja, kita akan kesulitan menerima argumen bahwa Islam anti pembangunan. Selain buta secara mendasar (gagal membedakan Islam dan Muslim), konklusi tersebut buta secara historis dan institusional. Maksudnya, bagaimana kemiskinan yang terjadi pada Muslim di berbagai negara Islam misalnya, adalah karena imperialisme Barat yang mengubah secara mendasar institusi sosial Muslim. Muslim bukan hanya dijajah secara ekonomi tetapi juga secara keyakinan. Bahwa ketidakmampuan menerapkan syariah bagi Muslim adalah karena mereka menerapkan cara hidup Barat yang totaliter. Upaya untuk menegakkan syariah pun, menurut beberapa intelektual, agak sulit mengingat aspek idealistis dan praktikalnya.

Ah, saya tidak ingin terlalu serius disini. Tapi, isu pembangunan memang perlu dilihat secara mendalam. Bukan karena kepentingan saya tetapi kegagalan melihat kebenaran dalam Islam akan mempengaruhi bagaimana pembangunan ala Islam itu sendiri.

Sebaliknya, belakangan juga sudah berkembang counter-claim, terutama dari intelektual Islam, yang mengatakan Islam pro pembangunan, bahkan lebih menyeluruh konsepsinya dibandingkan pembangunan ala Barat. Jika pembangunan ala Barat hanya menyentuh aspek kuantitatif dan empiris saja, pembangunan ala Islam lebih falah: membangun untuk kemenangan dunia - akhirat. Dalam Islam, pembangunan akan dikatakan kurang membangun apabila hanya membangun infrastruktur saja misalnya, tanpa membangun aspek spiritual seluruh manusia. Pembangunan juga belum membangun kalau masih ada orang miskin yang kelaparan. Ribet juga ya?

Bukan maksud saya untuk narsis dengan mengatakan bahwa Islam adalah versi lengkap kapitalisme dan sosialisme. Tetapi, tujuan pembangunan dalam Islam mencakup keduanya. Islam mewajibkan tiap manusia menjadi insan yang produktif dan karenanya sejahtera (pro kekayaan) tetapi juga menekankan pentingnya keadilan sosial. Jika anda membaca beberapa pemikiran pembangunan Islam, katakanlah Ali Syariati dan Haji Misbah mewakili Islam kiri dan Yusuf Mansyur dan Ippho Santosa dari Islam kanan misalnya, anda akan terkejut bagaimana Islam bisa digunakan untuk kedua-duanya. Dengan kata lain, Islam beyond ideologies.

Kembali pada counter-claim bahwa Islam pro pembangunan. Saya menyayangkan counter-claim tersebut agak apologetik karena mengunggulkan nilai dalam Islam. Padahal, tantangannya bukan pada nilai/ajaran yang pro pembangunan lagi. Agar Islam mampu menjadi agama yang pro pembangunan dalam artian sebenarnya, Islam memerlukan lingkungan yang mendukungnya. Bayangkan saja, ajaran Islam yang pro entrepreneurship diajarkan pada lingkungan tradisional dimana jamaahnya terbiasa dengan ceramah-ceramah ustadz yang menjelaskan bahwa kekayaan dan uang adalah akar dari kejahatan. Mampukah Islam pro entrepreneurship hidup dan berkembang dalam lingkungan seperti itu? Bukankah, dengan ketidakmampuan Islam menghidupkan semangat pembangunan di lingkungan tradisional tersebut, klaim itu terdengar omong kosong dalam kajian empiris? Maksud saya, semua penganut agama juga akan mengatakan hal serupa, bahwa agamanya adalah agama yang pro pembangunan. 

Jadi, sekarang ini, saya melihat yang lebih penting bukan pada ada atau tidaknya nilai yang mendukung pembangunan. Itu sudah berlalu, dengan kajian-kajian intelektual Islam yang produktif dan komprehensif. Dan mereka memang intelektual tulen. Tantangannya sekarang adalah bagaimana bahasa Islam dapat masuk ke dalam bahasa kapitalisme? Dengan kata lain, bagaimana ajaran Islam bisa berbicara banyak ketika kita berbicara mengenai produktivitas dan finansial, dua kata utama yang mewakili beragam bahasa dalam kapitalisme modern. 

 Melihat ekspresi keislaman di Indonesia, memang terlihat adanya kesesuaian antara Islam dan kapitalisme. Keduanya bergandengan tangan dengan mesra. Saya tidak gombal, ini bisa dilihat dari program ESQ. ESQ adalah gambaran kecil dari ramainya Islam pasar di Indonesia. Bekerjanya Islam dan kapitalisme neoliberal ini menarik sekali untuk dikaji. Bukan karena logika agama dan ekonomi yang sama (penumpukan) tetapi karena legitimasi Islam atas praktek kapitalisme. Kapitalisme yang tadinya dilihat sebagai sistem ekonomi yang kosong secara religius berubah bentuk setelah mendapatkan legitimasi dari Islam. Lantas, sebagian dari kita bisa menyebutnya kapitalisme syariah, Sistem Ekonomi Islami dan lain-lain.

Kembali ke ESQ, yang unik sekali ini, dimana ajaran Islam dipadu dengan manajemen ala Barat mampu menciptakan para pekerja yang patuh dan menjadikan kerja bukan hanya permasalahan ekonomi; kerja adalah tanggung jawab spiritual. ESQ hendak berkata "Jika kamu Muslim yang baik maka kerja kamu produktif, akuntabel, transparan, rasional, efektif" dan berbagai bahasa kapitalisme modern. Para pekerja yang mendapatkan pemahaman seperti itu, akan lebih semangat bekerja. Lha wong kerjanya untuk Allah! Untuk Akhirat! 

Sampai disini, saya tertarik untuk mempertanyakan relasi sebaliknya: bagaimana Islam dan Sosialisme di Indonesia? Saya belum menemukan konklusinya. Jangankan konklusinya, kajian kontemporernya saja sulit didapat. Untuk sementara waktu, ya betul sementara waktu, bisakah kita mengatakan bahwa kapitalisme semakin menguatkan taringnya karena legitimasi Islam terhadapnya? 

Saya tidak ingin mengklaim seperti intelektual Islam dan Barat telah lakukan. Satu-satunya klaim yang bisa saya katakan, dan anda tahu bahwa klaim apapun bisa keliru, adalah bahwa tidak pernah ada sistem ekonomi maupun pembangunan yang tersurat dan baku di dalam Islam. Islam hanya mengajukan suatu petunjuk umum dan batasan-batasannya, yang karenanya, menjadikannya agama rahmatan lil alamiin yang tetap relevan sampai akhir jaman. Kita dan anak-anak kita nanti yang akan jadi saksinya. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang