Read Between The Lines
Saya tidak percaya bahwa seorang pembaca bisa menemukan apa makna tersirat, dengan komprehensif, di balik setiap penulisan dalam sekali baca. Akan selalu ada renungan, pemikiran dan makna lain yang akan keluar dari setiap pembacaan terhadap suatu buku atau tulisan lain. Pasti, ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Tapi, saya hanya akan mencatat satu faktor saja, yaitu latar belakang pembacaan si pembaca.
Saya seringkali merasakan keanehan ketika buku yang biasa-biasa saja, terbaca luar biasa bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya. Buku-buku motivasi diri misalnya, akan sangat luar biasa pengaruhnya bagi anak muda yang sering galau. Walaupun secara substansi hampir nol, buku-buku sejenis itu mampu mempengaruhi banyak otak dan tindakan di luar sana. Tadinya, saya terheran-heran, mengapa jenis buku yang isinya merupakan pengulangan, repetisi, dari berbagai sumber yang disarikan, bisa menjadi buku best-seller. Dan anehnya lagi, orang begitu bangga dengan buku-buku seperti itu. Rupanya, buku bisa menjadi identitas.
Apa sih yang tanpa identitas?
Hingga akhirnya saya mafhum juga. Bahwa setiap buku akan selalu berkaitan erat dengan pembacaan masing-masing pembacanya. Dan saya harus menerima hal itu. Untuk teman-teman yang berasal dari ilmu astronomi misalnya, membaca buku-buku nasionalisme mungkin terbaca luar biasa. Karena pembacaan mereka terhadap isu tersebut tidak sesering teman-teman dari fakultas sosial atau budaya, misalnya. Begitu pun sebaliknya. Teman-teman yang sehari-harinya membaca ilmu sosial akan merasa bacaannya luar biasa ketika membaca buku-buku kebesaran alam semesta melalui ilmu astronomi. Padahal, itu remeh sekali bagi teman-teman astronomi.
Pengandaian saya di atas juga berlaku pada setiap isu. Dengan begitu, belakangan, saya menghindari menilai suatu buku. Bagus ataupun buruk berdasarkan kacamata saya, belum tentu begitu untuk orang lain. Orang lain memiliki pengalaman hidup, dan pembacaan, yang berbeda dengan saya. Dan saya yakin, di titik inilah apa yang dimaksud 'read between the lines' tidak akan pernah sama bagi setiap pembaca.
Bahkan, belum tentu semua orang diajarkan untuk membaca yang tersirat.
Dalam tulisan ini, sebenarnya saya ingin mendewasakan diri untuk selalu dalam kondisi memahami orang lain. Terkhusus, pembacaannya. Walaupun saya tidak mengetahui bagaimana kebijaksanaan hidupnya, seorang Sosiolog bernama Weber adalah Sosiolog yang amat bijak dalam hal mencari jawaban atas pertanyaan. Dengan kata lain, dalam menggunakan metode. Ia begitu ilmiah dengan menyuruh pengikutnya untuk memahami orang lain, untuk verstehen.
Saya kira, kebijaksanaan itu jangan berhenti untuk kepentingan penelitian saja. Kebijaksanaan itu harus dijadikan gaya hidup orang banyak. Untuk memahami orang lain, yang punya makna dan pengalaman yang berbeda, adalah suatu keharusan dalam alam hidup yang plural. Dengan singkat saya bisa katakan, jangan menilai orang lain dengan kacamata sendiri.
Bukan apa-apa, saya hanya merasa dampak dari penilaian terhadap orang lain sungguh besar. Dari pendefinisian kita terhadap suatu buku yang baik misalnya, akan ada suatu buku yang buruk. Meskipun, saya paham betul, bagaimana buku yang baik pun ada sisi buruknya. Dan buku buruk pun, ada sisi baiknya. Dan sampai titik ini, saya benar-benar belajar banyak dari Nabi Muhammad, yang mendorong pengikutnya untuk mengambil hikmah dimana-mana.
Saya tidak tahu mengapa ada sebagian pengikutnya yang menutup diri dari hikmah tersebut.
Lantas, apa?
Saya merasa, menilai suatu buku itu sah-sah saja. Di ruang privat maupun publik. Saya, yang masih awam pembacaannya terhadap buku-buku besar sepanjang peradaban manusia, seringkali menilai kualitas suatu buku berdasarkan kesan pertama saya membacanya. Dan saya sadar, bukan cuma saya yang menilai kualitas suatu buku berdasarkan kesan pertama. Kalau tidak percaya, silahkan tanya teman-teman dari goodreads.com
Yang tidak wajar adalah ketika kita memaksakan pandangan kita kepada orang lain. Memang, memaksakan pandangan tidak pernah wajar, karena, setiap manusia diberkati otak yang terus berpikir bebas. Ketika kita memaksakan pandangan dan penilaian kita mengenai suatu buku terhadap orang lain misalnya, kita telah menisbikan pengaruh buku itu terhadap orang tersebut. Saya tidak ingin memutar-mutar, bahwa menilai buku-buku Felix Siauw tidak berkualitas itu sah-sah saja. Tapi, merasa aneh dengan orang lain yang menilai buku itu bagus, atau mengata-ngatai mereka yang ngefans terhadapnya, adalah tindakan yang tidak bijaksana.
Bagi saya, mungkin juga anda, buku tersebut memang tidak memberi banyak insight dibandingkan Madilog-nya Tan Malaka. Tetapi, bagi remaja tanggung perempuan Muslim yang sedang mencari jati dirinya dalam arus modernitas yang tidak terhenti ini, buku seperti itu berharga layaknya mutiara. Nyatanya, buku itu, yang mungkin sekedar bacaan sambil lalu anda di toko buku, diperlakukan spesial oleh orang lain. ABG Muslim itu lantas berubah pikiran. Ia memilih menggunakan jilbab, shalat tepat waktu, dan yang lebih ekstrem lagi, memilih memutuskan pacarnya yang telah bertahun-tahun menemaninya. Menurutnya, dengan berlaku seperti itu, ia menjadi Muslimah yang berIslam secara kaffah.
Apakah kita masih bisa mengatakan buku itu tidak berkualitas, melihat pengaruhnya - yang positif - begitu besar terhadap satu anak perempuan Muslim itu?
Bagi saya, apa yang dimaksud dengan between the lines bukan sekedar omong kosong. Bukan juga sekedar makna tersirat. Memahami between the lines, adalah memahami pengaruh tulisan yang merubah kehidupan yang lain.
Komentar
Posting Komentar