Renungan Senin Warga Jakarta

Terima kasih internet dan socmed. Berkat kalian, saya jadi tahu semesta renungan di Jakarta. Dan ini menarik sekali untuk diikuti, bukan apa-apa, karena saya salah satu yang menyumbangnya.

Semesta renungan Jakarta, mungkin begitulah kalau setiap renungan manusia Jakarta itu dikristalkan, dibendakan. Saya pastikan, kita akan terkejut melihatnya. Ada yang seneng banget, ada yang ngenes banget sampai ada yang biasa-biasa aja. Ya namanya juga renungan, sah-sah saja kan orang merenung apa saja tentang hidupnya?

Saya tuh merasa Socmed ndak banal-banal amat, kadang. Kadang spiritual juga. Saya suka melihat timeline Twitter, misalnya, karena kadang isinya adalah curahan hati yang jujur, tulus dan apa adanya. Nah, dari situ, saya paling suka merhatiin renungan orang lain tentang Jakarta, kota yang sangat digilai masyarakat se-Indonesia, sampai se-curut-curutnya. Kalau jawabannya adalah ya, mungkin kita bisa sebentar sepakat untuk sampai pada konklusi bahwa tiga renungan ini yang mendominasi semesta renungan Jakarta.

1) Jakarta adalah kota tanpa jiwa 

Biasanya, yang merenung seperti ini adalah mereka yang tergolong "anak-anak baru" di Jakarta. Biasanya lho ya, ndak menutup kemungkinan juga yang sudah bangkotan di Jakarta. Biasa hidup di kampus misalnya, yang damai tentram dan kondusif, eeh tiba-tiba ngerasanin jalanan Jakarta beserta kegilaannya. Atau, mereka yang biasa hidup di desa yang sejuk, tiba-tiba kepikiran pengen ngadu nasib di Jakarta. Kalau mereka mau jujur, mungkin mereka akan bilang: "Berasa banget jomplangnya!"

Gimana nggak, tiap hari ketemu orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Konon, di kereta para perempuan, terutama ibu-ibu, bisa begitu ganasnya apabila mengenai tempat duduk. Bahkan, saking egoisnya mereka, sampai ada perempuan muda yang memilih duduk di gerbong umum, bersama laki-laki lainnya. Sudah disediakan gerbong khusus perempuan saja, mereka masih memilih gerbong umum, perempuan benar-benar mistis.

Mungkin, di antara mereka ada yang heran dengan ibu-ibu. Ibu-ibu yang mereka kenal, biasanya ramah dan akrab dengan basa-basi sama tetangga rumahnya. Di kereta, logikanya kok berbeda? Mereka terkaget melihat ibu-ibu tanpa senyum, bahkan tanpa basa-basi! Sibuk aja mainin smartphone. Padahal, kalau kita mau jujur, apa sih yang mereka lakukan dengan smartphonenya? Jujur, saya pingin tahu aja. Kalau saya sih liatnya itu pengalihan perhatian aja. Soalnya males juga mereka merhatiin betapa seseknya kereta. Bukan hanya dengan orang-orangnya, tapi juga dengan masing-masing nasibnya.

Dengan pengalaman seperti itu, sampailah "anak-anak baru" itu pada konklusi bahwa Jakarta itu kota tanpa jiwa. Bahasa lainnya, mereka merasa terasingkan, teralienasi. Mereka tidak terbiasa dengan hidup yang ultra-individualistis seperti itu. Mereka kesepian, justru di tengah keramaian. Karena tidak bisa mengubah keadaan, mereka juga ikut-ikutan seperti yang lain, dengan tetap tenggelam menikmati renungannya. Mereka lalu memilih untuk menunduk, dan kita tahu kelanjutan dari orang Jakarta yang sibuk menunduk, update status di socmed tentang kegelisahan mereka, mungkin ditambah konsep yang agak ilmiah. 

Tapi, hidup ini memang jenaka rupanya. Asyik betul. Siapa nyana, ketika "anak-anak baru" itu sedang sibuk menuliskan kata-kata di smartphonenya, ibu-ibu yang daritadi megang smartphone di sebelahnya, sudah duluan update status yang secara isi sama. Mungkin bunyinya saja yang beda. Maka jadilah socmed sebagai semesta kegelisahan yang, walaupun jujur, banal.

Perempuan kok dibilang banal! Ngawur tulisan ini!

Mungkin ada juga ya jenis manusia yang berbeda dan unik. Biasanya, kalau kita perhatiin sebentar aja, mereka-mereka ini memilih menikmati betul perjalanan yang penuh sesak. Ndak apa-apa. Mereka anti-mainstream! Katanya sih. Mereka memilih untuk keluar dari kotak, out of the box. Jenis orang ini memperkaya khazanah renungan saya, tapi tidak menarik untuk dituliskan lebih lanjut. 

Adalah mereka yang rapi, klimis dan terburu-buru yang seru untuk dituliskan. Warga Jakarta sepakat menyebutnya eksekutif muda. Jujur, mereka tuh asyik banget dikomentarin. Karena mereka, konon, juga tiap hari ngomentarin orang lain di Socmed! Kita bisa lihat dengan sekilas gimana gaya-gaya mereka, pilihan kata dan tindak-tanduk mereka, yang kelihatannya kok diatur banget. Kita tuh rasanya tahu kalau mereka sedang ndak dalam kondisi formal. Kita bisa nerka-nerka, dan ini salah satu kesenengan saya, betapa katroknya mereka, betapa asyiknya mereka kalau jadi teman kita. Masalahnya, kita ndak kenal mereka. Mereka terkesan kaku, sombong, formal dan berbagai atribut resmi lainnya. Percaya deh sama saya, mereka juga asyik semua kok sejatinya. Mereka juga sama kayak supir taxi yang suka nganalisis politik di warteg (yang denger-denger, lebih seru dari analisa para analis politik beneran), tukang ojek yang "khusyuk" ketika gangguin perempuan dan bocah-bocah kampung yang konyol.

Walaupun begitu, mereka juga harus paham bagaimana harus bertindak. Mereka hidup dan menghidupi bahasa-bahasa "How to behave". Mereka paham banget tuh mana yang sopan, mana yang ndak. Tidak perlu-lah ya kita pertanyakan darimana definisi sopan santun mereka, udah ndak menarik lagi. Yang seru tuh kalau kita lihatin ekspresi mereka-mereka. Cemas-cemas gimana gitu. Cemas-cemas galak kali ya kata yang tepat. Mau bukti? Coba anda ganggu sedikit aja para eksekutif muda itu, usil dikit. Lihatlah respon mereka. 

Wuiiih, marahnya bukan main!

Kalau ndak marah, anda mungkin sedang beruntung. Coba lagi lain hari untuk buktikan kebenaran perkataan saya. Hehehe...

2) Mind Your Own Business (MYOB)

Renungan kedua ini, sedikit banyak, lahir karena renungan yang pertama tadi. Karena gagal mengubah kondisi aktual, seperti yang ditugaskan Marx pada filsuf sedunia, prinsip mereka berpaling. Dari yang tadinya kedesa-desaan, harmonis dan kebersamaan, menjadi kekota-kotaan, individualistis dan kesepian. Mereka menerima betul prinsip "MYOB" di tempat baru mereka. Prinsip yang diubah sedikit dengan "Emang gue pikirin" (EGP) di Jakarta. Andaipun ada di antara mereka yang rebel, yang tidak menerima prinsip itu, rebel mereka pun diterima sebagai business mereka.

"Oh, lo mau rebel? Yaudah, rebel gih!" 

Rebel bisa jadi jenaka juga ya kalau gitu...

Yang repot adalah, ketika ada orang-orang unik yang punya prinsip "My business is to mind you". Wah, gagah betul! Misalnya, ketika orang-orang unik ini dimarahi karena terlalu ngurusin mereka yang berprinsip MYOB, mereka mendebat dengan berkata "Ya tapi itu urusan saya untuk mengurusi tingkah laku anda, Mba". Saya bisa bayangkan bagaimana respons mba-mba eksekutif muda itu. Kalau benar ada kejadian seperti itu di kereta, anda bisa beritahu saya, karena jujur, saya tertarik banget dengan kelanjutan situasi itu.

Jenakanya adalah, kalau mba-mba eksekutif muda tersebut benar-benar berpaham MYOB, dia MYOB radikal gitu misalnya, sejatinya dia akan membiarkan apa urusan orang lain itu. Katakanlah orang lain itu sedang menilai cara berpakaian dan berdirinya. Kalau dalam pendapatnya, mba-mba itu lebih terlihat seperti sales door-to-door, bisakah mba-mba itu menerimanya dengan basis logika individualistis ala MYOB? Karena konon, perempuan itu cenderung emosi kalau penampilannya dihina. Dengan emosi dan mengatakan orang tersebut sebagai sampah masyarakat, atau pengangguran sok akrab misalnya, bukankah Mba tersebut tidak menerima prinsip MYOB secara prinsipil?

Ah, ini sih sama aja menghasta kain sarung, kata Tan Malaka. Muter-muter ndak jelas!  

3) Apa sih yang dicari? 

Nah, kita bisa dengan objektif mengatakan bahwa, minimal, salah seorang teman dari kita pernah merenung pas seperti ini di Jakarta. Baik itu isinya sampai bunyi katanya. Pertama kali dengar renungan kayak gini sih saya agak tersentuh juga. Tapi, hal-hal yang over itu kan bikin kita bosan ya. Saya bosan juga dengar renungan semacam ini. Dan biasanya, yang merenung kayak gini tuh, mereka-mereka yang ironisnya, lebih pantas ditanyakan.

Saya belum pernah sih menjalani gaya hidup ekstra modern "Senin - Jum'at" dan "8 - 4" di Jakarta. Tapi, baru sekali naik motor ke Slipi saja, dari Kalibata, saya sudah muntah-muntah ndak karuan. Saya bukan tipikal pekerja keras Jakarta kayaknya. Makanya, saya tuh salut dan hormat banget sama bapak-bapak yang nyari nafkah untuk anak istrinya di Jakarta. Ibu-ibu juga ya, walau lebih sedikit jumlahnya. Banyak sekali alasan saya untuk salut terhadap mereka - mungkin lain kali saya tuliskan lebih spesifik. Mungkin ada ya di antara mereka yang setiap harinya berangkat dari Depok ke Sudirman. Entah lewat moda transportasi apa, di Jakarta kan selalu ada resikonya. Dan mereka-mereka ini, setiap hari mempertaruhkan nasib mereka di jalanan Jakarta. Nama lain dari bentuk terhalus neraka. 

Itu baru satu alasan.

Saya pernah berhenti di lampu merah, iseng saja saya lihat keadaan sekitar. Wah, banyak ragam ekspresi tuh. Dari yang betein sampai bikin kita terharu, bahkan menangis. Ada lho, di antara bapak-bapak itu yang terkantuk-kantuk di atas motornya. Sungguh, saat itu juga saya berdoa supaya dia dilancarkan dan diselamatkan jalannya. Saya cemas sekali terhadapnya, kita semua juga. Bagaimana ndak, ngantuk bawa motor itu rawan sekali kecelakaan. Lengah dikit bisa jatuh, dan lain-lain lah yang menakutkan bila kita bayangkan.

Ibadah bukan hanya perkara shalat, gereja dan bentuk ritual keagamaan lainnya. Ibadah itu simpel. Ia bisa bisa sangat material sekaligus spiritual sifatnya: kerja untuk menafkahi anak istri.

Kembali pada semesta renungan. Sebenarnya, semesta renungan ini bisa terjadi kapan saja di Jakarta, bukan hanya hari Senin. Hanya saja, Senin tuh rasanya lebih mewakili kesibukan Jakarta, dan segala tetek-bengeknya, dibanding hari yang lain. Dan oleh karena itu, Senin jadi terasa horor bagi sebagian. Kalau saya bisa simpulkan sementara, mungkin sebagian dari orang yang takut Senin itu, ingin skip saja hari Senin. Mereka ingin minggu dimulai hari Selasa, atau bagaimanapun caranya, yang penting bukan Senin. Dari bunyinya saja (Senin) sudah bermakna banget ya.

Kalau inginnya saya sih, sembari mendoakan anda juga, skip hidup di Jakarta saja. Hehehe...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang