Tentang Bahasa dan Ranahnya
Rasanya, tiap bahasa tidak pernah berdiri sendiri, ia berfungsi mewakilil ranah sosialnya.
Terdapat suatu permainan, suatu kode, atas dunia sosial yang diwakili oleh bahasanya. Apabila ingin menguasai suatu ranah, katakanlah kapitalisme dan bisnis, kuasailah bahasa dan kata-kata di dalamnya. Kuasailah bahasa turunannya seperti investasi, entrepreneurship dan tentu saja, modal.
Apabila berada dalam ranah politik, kuasailah bahasa pembangunan dan rakyat. Karena memang disitulah letak permainannya, letak wacana yang membentuk kenyataan sosial. Feel for the game, kata Bordieu. Mereka yang sudah dapatkan feel itu, adalah mereka-mereka yang berkuasa di ranah yang diincarnya. Jangan mengharapkan menguasai suatu ranah tanpa menguasai wacana yang ada di dalamnya.
Belakangan, saya suka sekali membaca penjelasan struktur sosial ala Bordieu. Ia membuat struktur terlihat nyata dan riil. Kalau saya tidak salah memahami, struktur adalah gabungan dari ranah-ranah di masyarakat. Jadi, masyarakat menurut Bordieu adalah kumpulan kelompok-kelompok yang mewakili masing-masing ranah.
Struktur sosial, adalah gabungan antara ustadz dan jamaahnya, politikus dan rakyatnya, pengusaha dan karyawannya dan ibu dengan anak-anaknya. Ranah itu, keluarga sampai pada ekonomi, memiliki bahasa yang berbeda. Saya menemui kesulitan menggunakan bahasa-bahasa ilmiah dalam keluarga saya, karena, dalam keluarga saya bahasa yang utama adalah kehangatan, bukan perdebatan dan bahasa tinggi, misalnya. Begitupun, ketika saya berada di komunitas ilmiah, saya akan kesulitan menggunakan bahasa-bahasa informal, seperti yang saya gunakan dalam keluarga saya.
Penjelasan bahasa dan ranah ini, saya tidak tahu apakah terinspirasi Bordieu semata atau bukan. Yang jelas, Bordieu membagi kehidupan sosial ke dalam 'kotak-kotak' yang sama riilnya dengan pembagian kelas ala Marx. Kotak-kotak itu berbeda sedikit dengan Marx, yang melihat masyarakat sebagai bangunan, dan lebih horizontal sifatnya. Kalau saya tidak salah memahami, ya.
Kalau ingin bukti, cobalah kunjungi wilayah-wilayah yang sama sekali berbeda ranahnya dengan ranah objektif anda. Misal, cobalah kunjungi dan observasi bahasa yang digunakan ibu-ibu muda di Jakarta di mall-mall yang mewah, apabila anda seorang aktivis kiri yang anti dengan segala bentuk kapitalisme. Observasilah bahasa yang mereka gunakan, dan jangan heran, anda akan mendengar bahasa yang aneh, alien dan tidak berguna.
Tapi, itulah bahasa mereka, di ranah objektif mereka sebagai ibu-ibu muda kelas menengah Jakarta. Mereka tidak perlu, untuk tidak mengatakan tidak bisa, keluar dari bahasa tersebut. Selain tidak nyaman, bahasa tersebut tidak ada gunanya bagi mereka. Realitas mereka adalah belanja sampai mati, dengan bahasa diskon sebagai penawarnya. Mereka akan segera terasingkan kalau anda, dengan penuh semangat revolusioner, membahas relevansi sosialisme dan perjuangan kelas bagi keluarga dan tetangga mereka. Percaya dengan saya, mereka juga akan meninggalkan anda dengan segera, kalau anda menerangkan bahaya konsumerisme dan hedonisme. Lha wong buat mereka, belanja sehari 10 juta itu normal saja.
Dari bahasa mereka saja, nampaknya, realitas anda berbeda jauh.
Dari bahasa mereka saja, nampaknya, realitas anda berbeda jauh.
Anda tidak perlu menyesal.
Saya kira, saya belajar banyak dari Bordieu. Selain konsep sejuta ummat-nya, Habitus, Ranah juga amat berguna untuk memahami masyarakat. Saya mengaitkannya dengan bahasa, meskipun saya lupa Bordieu menyertakan bahasa atau tidak dalam pembahasan ranahnya, yang lebih riil dan dapat diobservasi. Karena dengan memahami bahasa yang digunakan, biasanya, kita dapat memahami dari ranah mana bahasa tersebut.
Katakanlah, anda seorang mahasiswa. Apabila teman anda seorang Islam yang taat, bercelana bahan dengan mengendarai motor ke kampus, anda biasanya sudah dapat menerka, dari ranah mana mereka berasal. Hal ini berlaku untuk semua: kita bisa menebak seseorang dari ranah mana hanya dengan penampilannya. Hanya saja, tebakan kita akan lebih tepat kalau kita mengetahui bahasa dan wacana apa yang sering ia kemukakan. Kalau teman anda, dengan karakteristik percis di atas, banyak berwacana tentang dakwah, akhi dan pernikahan, anda dapat menebak dengan presisi 'siapa' orang yang anda hadapi, dan bagaimana ekspektasi teman anda terhadap bahasa yang anda gunakan. Mungkinkah anda menggunakan bahasa postmodernisme? Bahasa Derrida, Foucault dan Zizek? Mungkin saja. Tetapi, kemungkinannya akan lebih besar kalau anda berbahasa syariah, ibadah dan segala hal yang Islami.
Saya buat tulisan ini karena merasa perlu. Apa ya, mungkin karena saya gemes melihat pola pikir beberapa orang di jaman socmed. Kok memaksakan logika terhadap mereka yang beda ranah? Bukan bermaksud nihilis dan meniadakan arti penting propaganda, hanya saja, memaksakan logika terhadap mereka yang beda ranah akan sia-sia. Kalaupun berhasil, saya ucapkan selamat.
Mungkin, analogi ini bisa menjelaskan. Bahasa Islam yang mempengaruhi pemikiran dan tindakan Anu dan Ani. Anu, karena belajar banyak dari buku Quraish Shihab dan Haidar Bagir misalnya, cenderung memahami Islam secara moderat, inklusif dan damai. Ani, karena belajar Islam dengan bahasa tertekan dan provokatif, memahami bagaimana kondisi (objektif) Islam dalam struktur sedang terancam. Karena Islam, yang dipahaminya sedang terancam, Ani lalu membenci kelompok lain. Lalu ia menutup diri dari pergaulan yang lebih luas, dari hikmah yang tercecer dimana-mana. Ia tidak lagi berfokus menampilkan Islam sebagai agama yang damai, sebagaimana fokus Anu. Ia fokus mempertahankan Islam dari serangan lawan-lawan Islam, yang mungkin saja yang diciptakan dari bahasa Islam yang ia anut.
Nah, sekarang, bisakah Anu memaksakan pemahaman Islam yang moderat itu terhadap Ani? Saya pikir, sulit sekali. Sulit sekali bukan karena Ani bebal tetapi karena Ani memiliki keyakinan yang berbeda terhadap Islam. Keyakinan dan pemahaman yang berbeda itu, lantas membentuk pola pikir dan tindakan yang berbeda pula nantinya. Anu, setidaknya, harus dengan sabar juga menjelaskan versi Islam yang sabar, yang tidak dimengerti oleh logika Ani.
Nah, sekarang, bisakah Anu memaksakan pemahaman Islam yang moderat itu terhadap Ani? Saya pikir, sulit sekali. Sulit sekali bukan karena Ani bebal tetapi karena Ani memiliki keyakinan yang berbeda terhadap Islam. Keyakinan dan pemahaman yang berbeda itu, lantas membentuk pola pikir dan tindakan yang berbeda pula nantinya. Anu, setidaknya, harus dengan sabar juga menjelaskan versi Islam yang sabar, yang tidak dimengerti oleh logika Ani.
Sekarang, mungkin sudah terlihat lebih jelas bagaimana ranah dan bahasa tidak bisa dipaksakan, setidaknya dalam waktu dekat. Untuk mengubah pemikiran seseorang, yang diperlukan bukanlah logika semata. Apalagi paksaan terhadap logika, toh semua orang punya otak yang berbeda isinya kan? Yang diperlukan adalah memahami dari ranah mana pemikiran dan tindakan tersebut berasal sehingga bisa menghasilkan bahasa dan turunannya berupa keyakinan dan tindakan. Lagipula, saya kira siapapun yang diyakinkan dengan paksaan tidak akan senang. Tidak ada kepuasan berkeyakinan karena tekanan, ya?
Ah, saya terlalu banyak meracau tentang ranah dan bahasa. Tapi, tolong percayalah (lho ini kan memaksa), terutama teman-teman saya yang sedikit lagi lulus dari Sosiologi, pemikiran Bordieu tentang ranah itu berguna. Saya belum banyak membacanya sih tetapi membacanya merupakan kepuasan tersendiri.
Yah, dibanding membaca dan mengulas Bab 1 skripsi sendiri. Hehehe...
Komentar
Posting Komentar