Berdiri di Punggung Motivator Besar
Belakangan, saya sering membaca buku-buku pengembangan diri. Menyenangkan rasanya baru membaca jenis buku seperti ini sekarang, setelah membaca teori sosial yang mulai menjemukan. Saya seperti menemukan dunia yang baru, bahasa yang baru, ranah yang baru dan hikmah yang baru pula. Saya masih percaya, di setiap perkembangan usianya, manusia memiliki kebutuhan pembacaannya tersendiri. Saya tidak mau telat untuk mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang dimiliki orang-orang hebat dalam sejarah peradaban.
Uniknya, orang-orang hebat itu selalu memiliki kebijaksanaan yang berbeda satu sama lain...
Saya tidak menerima begitu saja fakta sosial di social media yang seringkali menjelek-jelekkan profesi motivator. Tidak ada kebenaran di social media. Buat saya, menjadi motivator merupakan profesi yang mulia. Bagaimana tidak, motivator merupakan peneliti, penulis, pembicara dan pendengar sekaligus. Dalam diri mereka, hidup seorang Sosiolog, Psikolog, Budayawan dan Ulama. Kalau tidak percaya, silahkan baca buku-buku besar pengembangan diri dalam sejarah manusia. Isinya adalah kebijaksanaan yang dihimpun dari beragam disiplin ilmu. Yang membuatnya lebih menyenangkan adalah karena kesederhanaan penyampaiannya. Saya selalu percaya, karya yang bagus adalah karya yang simpel. Walau, kepercayaan saya itu bisa kapan saja disalahtafsirkan oleh para pemula motivator yang banal.
Saya tidak menutup mata bahwa kebanyakan motivator di Indonesia masih amatir. Buat saya, seorang motivator sejati adalah mereka yang memotivasi melalui pengalaman nyata, bukan nasihat banal. Saya bisa mendapatkan nasihat hidup dari kakek sebelah rumah tanpa perlu membayar mahal-mahal. Dan kakek itu lebih lama menjalani hidup! Mereka yang sudah memiliki pengalaman sukses-lah, yang telah jatuh bangun dalam kehidupan, yang pantas anda jadikan mentor. Makanya, saya agak aneh melihat sekelompok anak muda yang belum sukses apa-apa sudah berlagak layaknya Robert Kiyosaki. Baru bisnis 1 -2 tahun, tapi habitusnya sudah berubah drastis. Anda pasti memiliki teman seperti itu. Kita doakan saja mereka supaya bertambah kaya dan sukses bermanfaat. Kalau sudah kaya beneran, toh mereka akan sederhana lagi habitusnya.
Kembali pada motivator sebagai profesi yang mulia. Saya menyarankan anda untuk membaca buku-buku di website goodreads mengenai bisnis dan pengembangan diri. Menurut saya, buku-buku terbaik dalam kehidupan adalah buku yang meningkatkan kualitas hidup. Saya tidak bercanda, saya mengatakan bahwa buku terbaik adalah buku-buku motivasi! Saya memang terkesan beberapa novel ataupun textbook yang menarik, tapi saya tidak memasukkan jenis buku tersebut ke dalam buku-buku terbaik yang pernah saya baca. Novel adalah filosofi penulis yang dituangkan dalam cerita. Ia tidak berurusan dengan memperbaiki kualitas hidup. Novel adalah buku sampingan. Untuk anda yang masih berjuang menuju kesuksesan, kecuali anda tergolong rebel dan anti konsep sukses dunia akhirat, membaca buku-buku motivasi kelas dunia adalah keharusan. Saya berpikir, betapa ruginya mereka-mereka yang cerdas secara intelektual tetapi belum membaca buku-buku paling mendasar untuk kehidupan (di luar kitab suci). Tidak ada untungnya mereka yang mampu membaca, tetapi tidak membaca, dengan mereka yang tidak mampu membaca.
Sayangnya, kita hidup di Indonesia. Saya melakukan pencarian sederhana mengenai motivator kelas atas yang mumpuni dan diakui telah mengubah kehidupan banyak orang. Sampai saat ini, saya belum menemukan satu nama yang benar-benar membuat saya terpuaskan. Anda boleh beritahu saya kalau anda rasa ada satu motivator yang benar-benar hebat dan berpengaruh di Indonesia.
Saya juga sering melihat-lihat update social media para motivator. Entah mengapa, rasanya saya sudah pernah mendengar 95% update motivasi dari mereka. Mungkin, inilah yang menyebabkan warga social media rasanya anti betul dengan kata motivator. Wacana motivasi mereka banal, dangkal, rendah. Mereka tidak autentik, seakan-akan wacana motivasinya tidak berasal dari hati dan perenungan hidup yang dalam, tapi dari hasil copy paste. Mereka juga tidak jenius. Mereka berbicara motivasi hanya dengan bahasa motivasi. Anda bisa menebak keseluruhan tulisan-tulisan mereka pada kalimat pembukanya. Ini jelas beda dengan motivator di Amerika yang genius. Tulisan-tulisan mereka terasa 'bernyawa'. Membacanya membuat saya seperti ditemui langsung oleh sang penulis, dan sang penulis memang berniat mengubah hidup saya ke arah yang lebih baik. Mungkin, karena proses penulisannya yang benar-benar matang. Lagi-lagi, tidak seperti di Indonesia, yang menjadikan motivasi sebagai sarana mobilitas vertikal secepat-cepatnya.
Apakah karena secara struktural, Indonesia belum jelas jalur ideologinya sehingga merasuki alam berpikir motivatornya, untuk tidak secara blak-blakan berceramah tentang pentingnya kapitalisme bagi Indonesia dan rakyatnya? Saya membaca beberapa buku motivasi Amerika, jelas sekali darimana logika dan semangat gagasan mereka berasal. Karena sudah selesai dengan ideologinya, motivator Amerika tanpa malu-malu bercerita mengenai pentingnya kapitalisme dan kesejahteraan bagi tiap individu-individu di Amerika. Bahkan, seringkali mereka menyatakan betapa berbahayanya sosialisme.
Sementara di Indonesia, boro-boro berbicara ideologi. Motivator yang laris adalah mereka yang sering berbicara mengenai masalah galau remaja-remaja tanggung.
Saya selalu berdoa akan ada motivator kelas dunia yang lahir dari bumi pertiwi. Yang mampu mengubah jalannya peradaban yang semakin hedonis dan materialistik, seperti kata kaum konservatif keluhkan. Yang mampu mengubah mindset masyarakat Indonesia akan pentingnya kekayaan, kesejahteraan dan kemajuan individu, agama dan bangsa. Yang tidak ragu-ragu untuk mengemukakan pilihan ideologisnya. Yang tidak pragmatis menjadikan ranah motivasi sebagai ajang gaya-gayaan dan sarana cepat kaya (sungguh, mereka yang menjadikan motivasi sebagai ajang cepat kaya, biasanya isi motivasinya dangkal dan membosankan). Dan yang terpenting, yang mampu diakses masyarakat banyak!
Ah, saya merasa perlu sekali bagi manusia untuk berdiri di atas temuan motivator-motivator besar, dengan buku-buku besarnya. Saya membayangkan bagaimana hidup manusia dapat berubah seketika mengetahui temuan-temuan para motivator jenius tersebut. Apalagi, ketika membaca life changing content dijadikan suatu kebiasaan sehari-hari. Saya menyayangkan mereka yang hanya berdiri pada satu atau dua punggung intelektual, yang menyebabkan pandangan mereka terhadap kehidupan begitu sempit. Dunia ini sungguh sangat luas hikmah dan keberlimpahannya.
Membaca ulang satu paragraf di atas, rasanya saya berbakat juga menjadi motivator...
Komentar
Posting Komentar