Mentalitas Instan
Agaknya, manusia modern tidak ada yang tidak setuju dengan konsep-konsep percepatan. Percepatan menjadi kebenaran tersendiri bagi kita yang tidak lagi betah dengan konsep menunggu. Kalau tidak percaya, lihat saja apa yang dilakukan mba/mas di halte atau stasiun lain. Menunggu bus atau kereta datang rasanya lama sekali. Sebagai jalan keluar, mba/mas tersebut memilih menunduk, dan setelahnya adalah social media.
Sudah banyak sekali rasanya yang berkomentar tentang mentalitas, pelarian, dan apapun yang sifatnya instan. Saya teringat bacaan Tony Robbins di bukunya, Awaken The Giant Within. Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa masyarakat modern rasanya kebingungan menentukan mana yang pleasure, mana yang pain. Pain dan pleasure dimaknai dengan salah. Misalnya, ketika sedih, mentalitas instan yang butuh jalan keluar itu memilih untuk bermain play station atau makan junkfood. Ajaibnya, kesedihan pun hilang! Padahal, kata Robbins, ini adalah kesalahan kepercayaan/belief. Dengan memilih jalan keluar junkfood misalnya, manusia lupa bahwa pleasure-nya hanya bersifat sementara dan jangka pendek. Dalam jangka panjang, long-term, pleasure itu berubah menjadi pain. Bagaimana tidak, keseringan makan junkfood akan mengakibatkan obesitas dan berbagai masalah lainnya, yang merupakan pain bagi manusia.
Tapi, masyarakat modern melihat kata instan sebagai keniscayaan.
Mereka tetap memilih untuk mampu mendapatkan pleasurenya secepat mungkin. Sebenarnya, banyak sekali temporary pleasure di luar junkfood dan playstation. Anda yang menyukai belanja, juga termakan penyakit sedih yang baru hadir di era modern ini. Kita jadi mudah sekali murung, sedih, terasingkan. Karena murung dan terasingkan itu, kita memilih kesenangan. Hanya saja, kesenangan sementara, dalam waktu jangka pendek. Pendek sekali. Padahal, apa sih yang didapat dari instant pleasure itu?
Kita tidak bisa menghilangkan masalah deadline skripsi dengan makan yang banyak, atau bersikap layaknya seorang escapist dengan jalan-jalan ke gunung yang hijau. Atau, kita tidak bisa meniadakan tugas rutinitas hanya karena kita ingin mendapatkan pleasure menonton bioskop. Bagus, kalau film yang ditonton menggugah dan menjadi momen perbaikan kualitas hidup. Kalau tidak? Kita akan tetap terjebak pada tugas kita sebagai manusia berjangka panjang.
Nampaknya, ini juga yang membedakan orang kaya dan orang biasa saja. Saya tidak ingin menggunakan bahasa kelas atas atau menengah. Orang kaya selalu bersikap sederhana di luaran, tetapi hebat di dalam. Mereka tidak perlu memamerkan barang-barangnya yang mewah, juga tidak membelikan anak-anaknya yang masih TK Iphone versi terbaru (inilah yang membuat saya yakin orang kaya sejati selalu idealis). Mereka memilih untuk menginvestasikan uangnya demi kejayaan masa depannya. Dengan kata lain, mereka memiliki mata yang penglihatannya jauh ke depan. Mereka tidak berharap hasil yang instan.
Tetapi, seberapa banyak sih di Indonesia orang kaya sejati? Kan orang biasa-biasa aja yang bikin seru kehidupan sosial di Indonesia. Orang biasa-biasa aja ini berkomentar tentang apapun, mereka mengomentari kelas di atasnya, di bawahnya, bahkan kelasnya sendiri. Kenapa? Karena mereka punya banyak waktu luang!
Sebelum terlalu jauh luntang lantung dalam bahasa, saya sebenarnya ingin menuliskan kegelisahan diri sendiri. Nampaknya, pengaruh negatif masyarakat modern, terutama mentalitas instannya, terlalu jauh masuk ke dalam diri saya.Walaupun saya juga tahu, saya tidak sendirian.
Setidaknya, saya masih punya teman yang orisinil. Mereka dikenal dengan nama penjudi.
Setidaknya, saya masih punya teman yang orisinil. Mereka dikenal dengan nama penjudi.
Komentar
Posting Komentar