Tantangan itu Ada di Luar Masjid
Marhaban yaa Ramadhan...
Tulisan ini merupakan suatu refleksi terhadap tingkah laku, terhadap habitus, muslim Indonesia yang ketika memasuki bulan Ramadhan, sekonyong-konyong alim. Tiba-tiba, yang tadinya bolong-bolong shalat dan ibadah lainnya, menjadi rajin dan khusyuk. Ini tentu baik sekali apabila berlanjut di 11 bulan selanjutnya. Tetapi, sulit sekali rasanya untuk tetap berada pada jalur kekhusyukan dan kedekatan, seperti yang dirasakan saat Ramadhan.
Tulisan ini juga merupakan refleksi terhadap kebertuhanan yang dianut. Sebenarnya, bagaimana muslim memandang Tuhannya? Bagaimana muslim memaknai Allah? Apakah sekedar memaknainya sebagai zat yang maha sempurna, sebagaimana tercantum dalam asmaul husna? Atau, lebih? Karena, aneh rasanya ketika muslim menyembah Allah yang Maha Kaya dan Maha Melindungi saat di masjid, berubah menyembah setan yang Maha mengganggu dan menyusahkan saat di luar masjid. Implikasinya adalah sendal jepit yang seringkali hilang, justru di saat muslim belum lama menyembah Tuhannya yang Maha Kaya. Masih di dalam masjid yang sama, muslim sudah berani mengambil apa yang bukan miliknya, bukan haknya.
Apa yang sebenarnya disembah? Allah yang Maha Kaya atau Setan yang Maha Mencuri?
Benarkah kita menyembah Allah?
Seorang filsuf pernah menjelaskan mengenai realitas. Kalau tidak salah, katanya, ada realitas utama dan pinggiran dalam kehidupan. Sayang sekali saya lupa namanya. Dengan begitu, realitas utama manusia adalah yang terdekat dialaminya, yaitu kehidupan sehari-harinya yang dapat ia observe. Dengan begitu, ketika beribadah, manusia berpindah ke realitasnya yang lain. Ketika beribadah, manusia berpindah dari realitas utamanya ke yang lain dengan menggunakan kehidupan dan bahasa yang benar-benar berbeda, meskipun masih terikat ruang dan waktu yang sama dengan realitas sehari-hari.
Apakah, ketika mengalami perpindahan realitas itu, sebagian manusia ada yang gagal dan yang lainnya sukses? Yang gagal, adalah mereka yang memilih mencuri sendal jepit itu. Yang gagal mengambil hikmah dari beribadah, dari perpindahan realitas yang reflektif. Mereka yang tidak mendapatkan apa-apa, terutama pencerahan dan penguatan mental, dari ibadah yang dilakukannya. Sedangkan yang sukses, adalah mereka yang memilih tidak mengambil sendal jepit itu meskipun kondisi mendesak. Atau, mereka yang semakin baik ketika berada di luar masjid. Yaitu, yang tercermin dalam tingkah laku kesehariannya. Dalam tutur bahasa dan tingkah laku ke orang lain yang semakin baik dan menyayangi.
Tapi, di dalam Islam, bukankah realitas ultim, realitas utama itu, adalah Allah itu sendiri? Bukankah, manusia-manusia hanyalah ciptaan-Nya yang diciptakanNya agar mengenal dan menyembahNya?
Memang, sulit sekali menjaga konsistensi tutur kata dan tingkah laku sesuai anjuran Allah. Kata Dewa 19, manusia memang tidak bisa lari dari kenyataan, yaitu, tempatnya salah dan dosa. Dari kenyataan ini, ada beberapa orang yang memilih untuk apa adanya. Untuk blak-blakan. Buat apa menjaga tutur kata dan tingkah laku, toh Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam hati kita? Sajadah panjang itu berarti manusia menyembah Tuhan bukan hanya beberapa menit saja dalam hari-harinya ketika mereka melakukan ritual, tapi setiap detik. Itu berarti, di luar shalat misalnya, muslim harus terus beribadah. Termasuk, ketika mereka bekerja ataupun sekedar bermain. Mungkin, bersikap apa adanya dianggap sebagai bentuk ibadah tertinggi seorang hamba. Walaupun, ada di antara jenis orang ini yang memilih untuk bertutur kata dengan seenaknya, bertingkah laku seasyiknya, dengan dalih tidak munafik dan apa adanya. Tidak bertopeng. Orang-orang yang menjaga tutur kata dan tingkah lakunya, disebut munafik.
Ada juga, beberapa orang yang memilih untuk menjaganya. Beberapa orang ini justru berbeda dengan yang sebelumnya. Karena sadar Tuhan Maha Mengetahui, bahkan yang ada di dalam isi hati terdalam, mereka memilih berhati-hati dalam ucapan dan tingkah laku. Andaikatapun mereka salah dan dosa, mereka buru-buru memohon ampun. Manusia pada dasarnya suci, lingkungan yang membentuknya kotor. Oleh karena itu, sebisa mungkin manusia menyucikan dirinya. Tuhan Maha Suci. Tipikal hamba seperti ini melihat dengan menjaga tutur kata dan tingkah laku, hamba itu sedang beribadah secara benar dan tidak main-main.
Terakhir, ada juga orang yang menjadi penengah di antara dua itu. Rasanya lebih banyak orang masuk ke dalam kategori terakhir ini. Mereka kadang apa adanya dan blak-blakan. Tetapi di lain waktu berhati-hati. Istilahnya, tau konteks. Ketika berhadapan dengan teman sebaya yang asyik, orang-orang ini bersikap asyik. Ketika berhadapan dengan orang yang dihormati, mereka pun berhati-hati dan respek. Ketika berhadapan dengan Tuhan, mereka kadang berhati-hati dan kadang apa adanya. Pokoknya, tidak ekstrem. Semuanya bisa dinegosiasikan sesuai konteks dan keadaan.
Kembali kepada tantangan itu di luar masjid. Rasanya, tidak letih-letih seorang penceramah memberikan anjuran positif kepada muslim agar semakin takwa, semakin rendah hati dan semakin ikhlas. Itu semua begitu indah saat di dalam masjid. Anjuran normatif itu untuk sementara waktu mengobati kegalauan duniawi yang keras dan menyiksa, bagi beberapa. Namun, begitu seorang muslim alias fulan ke luar dari majelis dan masjid itu, pesan luhur yang diberikan penceramah rasanya menguap ke udara. Pesan itu tidak mampu ditindaklanjuti, tidak mampu diaplikasikan, tidak tercermin dari tingkah laku si fulan. Belakangan, rasanya semakin lumrah saja kita melihat tingkah pencurian, perkosaan dan segala jenis kejahatan lainnya dilakukan seorang muslim di Indonesia. Ini benar-benar gejala sosial yang perlu ditangani lebih serius. Ada apa dengan muslim di Indonesia?
Saya pernah membaca penelitian tentang negara yang Islami. Dari beberapa negara di dalamnya, ironisnya, negara Islam tidak menempati nomor pertama. Jangankan pertama, 5 besar saja tidak. Saya bertanya-tanya, mengapa di saat pesan-pesan Islam terus diberikan ke muslim di negara Islam, muslim tidak mampu hidup dengan Islami? Mengapa, justru negara-negara non-muslim-lah yang menempati peringkat satu? Di luar validitas penelitian itu, rasanya lebih bijak bagi kita untuk melakukan refleksi diri kehidupan muslim.
Tidak usah jauh-jauh. Jika anda ingin mencoba mengukur keislamian kehidupan di Indonesia, khususnya Jakarta dan kota besar lainnya, cobalah tinggalkan laptop atau handphone anda di suatu tempat yang ramai lalu lalangnya. Tinggalkan lima menit saja. Apa yang anda rasakan? Tenang atau was-was? Jika anda merasa was-was, maka itu merupakan indikator dari tidak Islaminya kehidupan bermasyarakat. Mencuri dan mengambil yang bukan hak-nya jelas merupakan tindak setan, bukan seorang hamba yang mukhlis dan takwa. Harusnya, nilai-nilai Islam yang luhur itu hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Nilai Islam tidak hanya berlaku bagi muslim saja: Ia rahmatan lil alamiin. Yang berarti, nilai Islam itu universal. Nilai Islam juga relevan bagi penganut Kristen, Buddha, Hindu dan Konghucu di Indonesia. Hanya ketika nilai Islami, yang substansial itu dibandingkan simbol-simbol keislaman lain, dapat diterapkan dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari, saat itulah kejayaan Islam akan dicapai. Semua orang akan merasakan bahwa nilai Islam memang relevan untuk kehidupan modern dan setelahnya.
Terus terang, saya ingin merasakan hidup dalam kota yang Islami. Dalam negara yang Islami.
Jika saja muslim mampu menghidupi Islam dalam tutur kata dan tingkah lakunya, saya yakin Indonesia tidak lama lagi menjadi negara yang diberkahi Allah. Bayangkan saat muslim tidak lagi mempermainkan Allah. Maksud saya, muslim tidak lagi belagak alim di depan Allah. Padahal, kealimannya hanya saat di masjid saja. Di luar masjid, ia zalim. Tirulah Rasulullah yang alim di dalam dan di luar masjid. Lihat tingkah lakunya saat berbisnis, ia dijuluki Al Amin karena terpercaya oleh konsumennya. Ia tidak mencurangi timbangan, sebagaimana yang beberapa muslim Indonesia lakukan demi keuntungan yang tidak seberapa. Lihat tingkah lakunya saat berinteraksi dengan orang lain, ia tidak pernah menyakiti hati orang lain. Ia begitu lembut dan halus kepada anak-anak dan hormat kepada yang lebih tua. Bukankah dalam hati yang terdalam kita selalu senang andai bisa berinteraksi dengan orang seperti itu?
Daripada berandai-andai, ciptakanlah sendiri karakter seperti itu. Yang alim, baik dan takwa di dalam dan luar masjid. Insya Allah, denganNya, kita akan dimampukan. Aamiin...
Komentar
Posting Komentar