Mereka Yang Memiliki Telinga
Indah sekali rasanya didengarkan dengan sungguh-sungguh. Siapa yang tidak senang didengarkan dengan sungguh-sungguh?
Belakangan, saya merasakan bagaimana kemajuan media sosial telah mengubah interaksi manusia. Manusia era sekarang adalah manusia yang berfokus pada diri sendiri. Istilah lainnya, me-first-generation. Mereka dapat menuliskan apapun yang mereka rasa dan pikirkan. Semua orang memang membacanya, tapi sedikit sekali yang benar-benar membacanya. Hari ini, mereka menuliskan keluh kesah misalnya, lalu mendapatkan balasan terhadap keluh kesahnya, lalu hilang. Esok hari, kejadian itu berulang hingga menjadi sebuah ritual sendiri. Tidak ada kedalaman dalam interaksi seperti itu. Semuanya banal.
Tapi, kejadian itu memang terjadi di dunia maya. Dunia yang tidak riil. Saya tidak terlalu peduli dengan dunia seperti itu. Yang menjadi masalah adalah, ketika dalam interaksi tatap muka yang riil, mereka-mereka ini tetap bersikap me-first itu. Bersikap mau berbicara, tetapi tidak mau mendengar. Dengan bahasa yang lebih kasar, hanya punya mulut, tidak punya telinga. Mereka hanya cerita, cerita dan cerita, tanpa pernah merasa empati apa yang sebenarnya dirasakan oleh lawan bicaranya. Seakan-akan, lawan bicaranya adalah patung pendengar yang patuh terhadapnya. Lawan bicaranya seakan hanya memiliki telinga, tanpa mulut dan otak. Apa yang bisa diharapkan dari interaksi seperti itu?
Manusia memang makhluk yang cenderung egois. Tapi, manusia juga bisa dengan mudah memilih segala kebaikan. Kebaikan tidak pernah mahal. Ia mudah, murah dan selalu tersedia kapan saja. Hanya saja, manusia kadang sulit memilih kebaikan, termasuk mendengarkan dengan seksama. Terkadang, manusia hanya berbicara panjang lebar tanpa pernah mendengar lebih lanjut. Implikasinya, lawan bicaranya tidak mau melanjutkan hubungan pertemanan dengannya. Andaikatapun ada, itu merupakan keajaiban dunia yang lain. Apa enak dan untungnya berteman dengan manusia yang hanya memiliki mulut?
Parahnya, ketidakmampuan mendengar lebih lama ini tidak hanya terjadi pada mereka yang masih muda dan segala kelabilan emosinya. Kemampuan berinteraksi dasar ini juga tidak dimiliki oleh orang-orang penting, pada tokoh masyarakat, sehingga merusak interaksi yang harusnya berjalan lancar. Berapa banyak seorang ustadz yang tidak mau mendengar lebih lama urusan jamaahnya? Berapa banyak seorang dokter yang abai terhadap perasaan pasiennya, memperlakukan mereka seakan-akan pasien hanyalah data dan angka? Berapa banyak intelektual yang merasa lebih hebat dari orang awam? Semua ini merupakan gejala yang berujung pada pentingnya mendengar dengan baik. Semua masalah rasanya lebih mudah diselesaikan andai manusia bisa mendengar lebih lama.
Sesiapa mendengar yang lain, didengar semesta.
Komentar
Posting Komentar