Berharap Pendidikan Kritis
Entah mengapa dan bagaimana anginnya, belakangan saya sering mendengar wacana pendidikan kritis. Setelah lama tenggelam, wacana itu rasa-rasanya mengudara kembali. Ada apa?
Saya tidak tahu banyak konsep pendidikan kritis ala Freire. Tapi saya tahu inti pemikirannya bahwa pendidikan tidak boleh menjadikan siswa sebagai objek. Siswa adalah subyek. Kiranya begitu dengan segala prakondisi lain di sekolah.
Lantas, banyak yang mengkritik pendidikan di Indonesia kurang kritis, menekankan hapalan dan bukan pemahaman. Dan banyak kritik lainnya yang intinya bermuara pada satu hal: pentingnya pendidikan bermakna bagi siswa. Tapi, apakah bisa? Di Indonesia, dengan siswa-siswa yang jauh lebih modern?
Saya melihat, argumen pentingnya pendidikan kritis itu bias kelas menengah, dan, bias siswa rajin. Untuk siswa kelas bawah dan malas, apakah relevan pendidikan kritis itu? Lha wong untuk bisa masuk sekolah saja sudah bagus! Kok mengharap kritis. Nampaknya, itu perbedaan konteks pendidikan di Brazil yang Freire alami dengan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia mandek, tidak naik tidak turun. Bahkan, ada yang bilang semakin mengalami penurunan. Saya lebih setuju pada argumen kedua, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan kualitas.
Menurut saya, pendidikan yang baik itu yang mampu memberikan relevansi dengan kehidupan nyata. Terutama, masalah-masalahnya. Di Indonesia, malah sebaliknya. Saya diajarkan bertahun-tahun matematika yang menyebalkan, fisika yang membosankan dan biologi yang tidak begitu saya pahami struktur kurikulumnya. Di luar itu, saya belum merasakan manfaat dari belajar yang sulit-sulit itu. Tapi, itu kurikulum nasional yang harus diajarkan. Saya terpaksa tunduk pada pendidikan Indonesia, yang agak menyesatkan itu.
Atau, hanya saya yang merasakan ini?
Semoga saja...
Kembali ke pendidikan kritis. Sebenarnya, bagaimana penerapan pendidikan kritis itu? Saya merasa, di Indonesia, pendidikan kritis itu baru bisa diterapkan ketika siswa sudah bisa berpikir dewasa dan logis. Artinya, pendidikan kritis tidak relevan bagi siswa-siswa yang untuk bertemu guru saja sudah malas-malasan. Pendidikan kritis tidak bisa diaplikasikan pada siswa yang sedari awal masuk sekolah sudah berharap pulang. Pendidikan kritis, baru bisa diaplikasikan pada level kuliah. Bagaimana pendidikan kritis dijalankan pada konteks siswa SMA malas-masalan seperti itu?
Atau, mungkin ada jawaban lain. Justru dengan diadakan pendidikan kritis itulah, siswa jadi betah sekolah. Siswa jadi berteman dengan guru dan bersemangat belajar. Guru bukan lagi master pengetahuan tetapi teman diskusi yang apik dan ciamik. Dengan begitu, siswa tidak akan mengharapkan pulang sekolah pada istirahat pertama. Dengan kata lain, belajar di sekolah tidak lagi urusan hapalan, bukan juga urusan siapa paling cerdas (dalam artian sebenarnya, siapa paling menarik perhatian guru!). Belajar di sekolah menjadi benar-benar edukatif, mengembangkan karakter dan kemampuan berpikir yang logis dan harapan-harapan ideal lainnya. Sekolah menjadi bermakna.
Itu juga kemungkinan. Saya juga mendukung kemungkinan ini.
Sebagai penutup, saya sih tidak berharap muluk-muluk siswa mampu menjadi kritis di sekolah, apalagi SMP - SMA. Bukan apa-apa, anak kuliah saja, yang seharusnya sudah dewasa secara pemikiran, banyak yang kritisnya nyebelin karena tidak tahu konteks! Hidup kan bukan hanya salah - benar tetapi juga pantas dan tidak pantas. Itu, kata Cak Nun, namanya estetika.
Yah, jangan berharap pendidikan kritis berdasarkan kurikulum sekolah. Sejauh ini, harapan yang lebih realistis kiranya adalah melihat siswa di Indonesia memilih baca buku saja di rumah ketimbang nonton tv atau bermain yang tidak penting...
Toh, nanti juga kritis dengan sendirinya.
Komentar
Posting Komentar