Wisuda
Belakangan, jiwa saya agak merengek-rengek. Kadang pelan, kadang kasar. Kadang pagi, kadang malam. Saya tidak tahu, tapi sangat menyiksa rasanya. Rupanya, saya lupa untuk menulis.
Manusia tidak bisa hidup selamanya, tetapi ia bisa menulis. Yang dengan itu, jiwa, semangat dan pemikirannya bisa hidup lebih panjang melampaui usianya sendiri. Oleh karena itulah, saya ingin menulis sampai mati. Khususnya, menulis tentang momentum hidup. Tentang waktu, tentang energi, dan manusia, yang dirasakan dan dinikmati dalam hidup yang sangat diberkahi Tuhan ini.
Manusia tidak bisa hidup selamanya, tetapi ia bisa menulis. Yang dengan itu, jiwa, semangat dan pemikirannya bisa hidup lebih panjang melampaui usianya sendiri. Oleh karena itulah, saya ingin menulis sampai mati. Khususnya, menulis tentang momentum hidup. Tentang waktu, tentang energi, dan manusia, yang dirasakan dan dinikmati dalam hidup yang sangat diberkahi Tuhan ini.
Oh Allah, begitu besar nikmatMu terhadap hambaMu. Bahkan, Engkau tetap berikan nikmat pada hambaMu yang kufur nikmat.
Waktu, energi dan manusia itu, pada tulisan ini akan dikhususkan pada momentum wisuda sarjana. Momentum yang hanya sekali terjadi seumur hidup, yang tidak akan pernah terulangi lagi. Memang, nantipun kita bisa melanjutkan pendidikan hingga mampu merasakan wisuda lainnya. Tapi, adakah wisuda yang lebih mengesankan dibanding wisuda sarjana?
Persahabatan, kejenakaan, perasaan labil-galau, dan segala atribut khas sarjana, tidak akan bisa dirasakan saat wisuda pascasarjana. Oleh karena itulah, saya betul-betul bertekad dalam hati bahwa saya tidak akan melewatkan momentum kehidupan yang luar biasa ini. Yang benar-benar saya, teman dan seluruh keluarga nantikan.
Saya berniat untuk menjalani seluruh prosesi wisuda secara religius. Saat wisuda, kehidupan hanya terbelah menjadi dua: sebelum dan sesudahnya. Sebelum wisuda, saya terus merenung ke belakang sembari ke depan. Mengapa saya merasa terlalu cepat lulus? Saya bersyukur dan menyadari sepenuhnya bahwa empat tahun kuliah adalah standar umum perkuliahan di Indonesia. Hanya saja, saya merasa bahwa saya perkuliahan begitu cepat jalannya. Mungkinkah, ini suatu pertanda, bahwa saya begitu menikmati masa perkuliahan saya? Bukan bermaksud sombong atau apa, tapi saya hanya merasa bahwa baru kemarin siang saya berdiri dan berlari-larian saat ospek mahasiswa baru.
Demi kelas, kantin, perpustakaan, lapangan, dan juga, masyarakat. Dan ruang perkuliahan lain, dan ilmu yang luas.
Rasanya benar bahwa saya benar-benar menikmati Sosiologi. Memang, apapun jurusannya, perlu perjuangan untuk bisa lulus dari UI. Tapi, Sosiologi unik. Saya teringat ada ungkapan menarik untuk menggambarkan Sosiologi, dan saya rasa, ungkapan itu betul sepenuhnya.
Sosiologi: Masuk gampang, keluar susah.
Saya dapat mengatakan bahwa untuk dapat menjadi bagian dari warga Sosiologi UI tidaklah sesulit jurusan-jurusan favorit UI yang lain. Tapi, untuk keluar darinya, untuk bisa lulus dan mendapatkan titel S.Sos di belakang nama kita, itu yang sangat sulit. Sosiologi, rasanya, membutuhkan lebih dari perjuangan, yang saya sendiri tidak bisa menerjemahkannya dengan kata-kata.
Kembali ke wisuda, suatu momentum yang sudah saya nanti-nanti sedari saya berhasil menjadi bagian dari civitas academica UI tahun 2010 lalu. Wisuda, bagi saya, bukan sekedar ritual merayakan keberhasilan mahasiswa. Wisuda adalah petanda waktu. Saya bisa katakan, bahwa hidup adalah apa yang terjadi sebelum dan sesudah wisuda sarjana. Sebelum wisuda, sebagian besar mahasiswa (dan saya sendiri merasakannya) dikatakan belum hidup sepenuhnya. Belum berjuang di kehidupan nyata. Masih di dalam kelas, masih teori, belum praktik. Baru setelah wisuda, mahasiswa menjadi manusia seutuhnya dengan tantangan kehidupan nyata. Dengan profesionalisme, dengan kehidupan orang dewasa yang penuh tanggung jawab dan hitung-hitungan.
Ungkapan itu ada benarnya. Mahasiswa memang merasakan tantangan dalam pelajaran dan kelas yang diikutinya. Tapi, itu tantangan yang semu. Itu hanyalah latihan untuk menghadapi tantangan sesungguhnya yang menanti sesaat setelah berpoto-poto bersama saat wisuda. Setelah wisuda, apa? Sebagian mahasiswa akan mencari kerja. Atau, menunda untuk langsung terlibat dalam lapangan pekerjaan dengan melanjutkan pendidikannya. Bisa juga dengan beristirahat untuk menganggur terlebih dahulu, setelah bertahun-tahun dikejar hidupnya di perkuliahan. Semua itu adalah cara wisuda untuk dengan halus mengatakan: hidup adalah pilihan.
Saya lalu teringat dan bertanya-tanya akan mimpi-mimpi saya saat wisuda. Mungkinkah?
Wisuda menjadi momentum bagi saya untuk siap siaga memasuki kehidupan yang lain. Kehidupan yang menuntut jiwa profesionalisme saya, dan sedikit mungkin kejenakaan dan main-main. Kalaupun mau main-main, maka main-main-lah yang serius dan dibayar orang lain. Begitu kata dunia orang dewasa. Apapun boleh, asalkan bermanfaat, halal, dan menghidupi keluarga.
Sulit juga.
Saya juga bertanya-tanya sesaat sebelum wisuda dimulai: Apa saja acara wisuda itu sebenarnya? Saat masih menjadi mahasiswa baru, tubuh saya merinding saat menyanyikan lagu/hymne kepada para wisudawan. Saya begitu menggebu-gebu dan merasa terhormat bisa terpilih menjadi satu di antara ribuan anak di Indonesia yang ingin bernyanyi bersama di Balairung. Saat itulah, saya mengira-ngiri, bagaimana rasanya bila saya-lah yang dinyanyikan ribuan anak-anak yang merasa terhormat menjadi mahasiswa baru UI tersebut? Bagaimana jiwa saya akan meresponsnya? Bagaimana rasanya energi manusia-manusia hebat itu terkumpul di balairung? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui hingga saya merasakan sendiri betapa dahsyatnya atmosfer Balairung UI saat wisuda.
Sedari awal prosesi wisuda, saya sudah meniatkan diri untuk menjalaninya dengan khidmat. Saya tidak akan melewatkan momentum ini. Dan benar saja. Jiwa memang tidak pernah bohong. Energi yang begitu kuat di Balairung membuat saya tergetar sesaat begitu mendengar nama FISIP UI dipanggil masuk ke dalamnya. Dan begitu kaki saya melangkah masuk ke dalamnya, barulah saya tahu, bahwa Tuhan menciptakan wisuda sebagai tanda keindahan Zatnya.
Upacara wisuda memang ritual dan administratif sifatnya bagi universitas. Saya tidak peduli itu. Bagi saya, yang penting adalah merasakan atmosfer dalam momentum sekali seumur hidup. Siapa yang tidak terharu sekaligus terbakar jiwa akademisnya saat dinyanyikan lagu/hymne khas wisuda oleh ribuan mahasiswa baru UI? Sepanjang saya mengikutinya dengan sadar, saya merinding. Jiwa saya merasakan betul kesyahduan wisuda saat itu.
Hampa adalah sesiapa yang tidak merasakan kesyahduan saat ia di-wisuda...
Saya tidak tahu akan menulis apa lagi. Lagipula, sedari awal tulisan ini memang tidak berkonsep. Rasanya, wisuda lebih indah dinikmati dengan perasaan dan memori yang datang tiba-tiba, bukan kata-kata. Saya akan biarkan otak dan jiwa saya terus menikmati syahdu dan spiritualnya wisuda. Teman-teman mahasiswa yang cantik-cantik dan gagah-gagah, orangtua yang bangga, barisan guru besar serta balairung menyimpulkan itu semua. Sayang sekali rasanya bila saya tidak sempat mencatat dan menuliskan salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya. Saya benar-benar bahagia. Bahagia karena berhasil membuktikan ke orang tua bahwa saya bisa mempersembahkan gelar yang mereka inginkan, yang sayangnya, tidak sempat mereka dapatkan dahulu. Bahagia karena teman-teman saya dan keluarganya juga sangat berbahagia. Bahagia karena jiwa saya merasakannya demikian adanya.
Tuhan Maha Mendengar...
Tuhan Maha Mendengar...
Bagaimanapun saya menuliskan makna tentang wisuda, akan selalu ada makna lain yang luar biasa dari wisuda. Begitulah kebahagiaan: ia tidak habis dituliskan dan dibagikan. Apapun itu, wisuda ada dan telah menjadi salah satu catatan kehidupan yang sangat berkesan. Semoga, semua mahasiswa UI dimampukan Tuhan untuk mendapatkan momentum kehidupan lain yang luar biasa. Semoga, wisuda mampu menjadi petanda positif bagi mahasiswa agar terus dan mampu menjalani kehidupan yang sukses, di dunia dan akhirat.
Vivat academia, vivant professores!
Vivat academia, vivant professores!
*Ditulis oleh Ganggas Wibisono, S.Sos.
Komentar
Posting Komentar