Halaman Pengasingan

Sebenarnya, hidup bukan selalu tentang keluar dari zona nyaman ataupun bertahan di dalamnya. Hidup tidak pernah mengijinkan kita untuk bisa bertahan di zona nyaman. 

Saya akan bercerita sedikit saja, tentang bagian kehidupan saya di pengasingan. Tentang tantangan yang menanti setiap hari. Dan, tentang perjalanan menghadapi tantangan tersebut.

Saya bersama 12 teman CPNS yang lain dididik dalam lingkungan semi militer di Rindam Jaya, Condet. Secara lokasi, Condet memang tidak jauh, apalagi asing, bagi saya. Tetapi, secara cara hidup, as a way of life, kehidupan militer benar-benar asing bagi saya. Cara mereka hidup penuh dengan tata aturan dan kedisiplinan. Berbeda dengan saya yang cenderung santai, mereka benar-benar ditempa di bawah tekanan disiplin.

Catatan yang perlu ditekankan adalah, disiplin merupakan kebebasan bagi mereka.

Saya tidak akan menceritakan kisah hidup saya secara runut, apalagi kronologisnya. Saya hanya akan menceritakan momen-momen yang berkesan bagi jiwa saya, yang menyentuh selubung terdalam perasaan saya, hingga rasanya, saya tidak akan mampu melupakannya. Bagi saya, penulisan cerita secara acak akan lebih membebaskan jiwa dan pikiran. Lagipula, selama disana saya tidak pernah bisa mengekspresikan emosi saya yang terdalam. Boro-boro mau berekspresi, mau makan saja dibatasi!

Pertama kali mendengar Rindam Jaya, hal yang terbayang adalah tentang kedisiplinan, yang sepertinya, menjurus kepada kekerasan militeristik. Terbayanglah akan suatu otot-otot, akan tulang-tulang, yang keras seperti baja dan besi yang dimiliki warga militer, yang siap menimpa otot-otot, tulang-tulang dan lemak-lemak yang lunak milik warga sipil. Ah Tuhan, betapa mengerikannya! Ditambah dengan cerita senior tentang cara mereka membangunkan siswanya di tengah malam.

SISWA MK, BANGUN! DALAM HITUNGAN 10, SIAP! 1, 2, 3….. 10!

Alangkah nerakanya bayangan itu. Hanya membayangkannya saja saya sudah tersiksa. Tapi, saya tetap berani. Laki-laki kelak sendiri, dan untuk itu, ia harus berani.

Rasanya, saya mampu menuliskan sedikitnya tiga tulisan tersendiri mengenai bayangan siswa MK tentang Rindam Jaya. Ya, hanya sekedar bayangan semata, yang menjelma menjadi monster, menjadi leviathan, bagi setiap jiwa kanak-kanak yang masih menghinggapi. Tapi, itu tidak perlu. Karena bayangan bisa jadi salah. Lagipula, apa serunya menuliskan bayangan?

I’m not psychologist, yet.

Untuk keperluan itulah, saya akan menuliskan tentang kenyataan di lapangan. Tentang fakta, tentang apa yang dialami masing-masing siswa, di barak, kelas, hingga kamar mandi. Tentang bagaimana masing-masing mencoba beradaptasi melawan kesepiannya masing-masing. Saya tahu, dan yakin, dengan pasti, bahwa, setegar-tegarnya, semandiri-mandirinya, sekuat-kuatnya seseorang, menghadapi Rindam Jaya, mereka akan mengalami kesepian yang amat dahsyat. Mereka akan menghadapi sisi lain dari mereka. Sisi lain yang bisa saja mengagetkan, mengkhawatirkan sekaligus mendebarkan. Untuk itulah, rasanya, Rindam Jaya dihadirkan.

Mengenai Kebebasan
Semua (CPNS MK 2015) sepakat, bahwa, pendidikan ala militer yang mereka akan alami adalah yang pertama kalinya mereka lakukan. Beberapa bahkan berdoa agar ini menjadi yang terakhir! Setelah melalui pendidikan di bangku kuliah, atau melalui berbagai macam pekerjaan rutin yang telah dilalui, siswa dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka tidak lagi bisa berleha-leha barang sedikitpun. Mungkin terdengar berlebihan, tapi sedikit banyak, ada benarnya. Ketiadaan kemerdekaan, the absence of freedom, itu istilah yang sering terlintas di benak saya begitu menjalani pendidikan militeristik.

Although it all depends on how you define what freedom is.

Sebagai contoh kecil saja, saya akan gambarkan tentang bagaimana kita memulai hari kita di Rindam Jaya. Kita memulai hari pada pukul 04.00 WIB! Terbayangkah oleh kita semua, warga sipil, bahwa kita akan memulai pagi sedini itu? Apa yang akan kita lakukan? Shalat Tahajjud? Qiyamullail?

Bukan itu. Di Rindam Jaya, pukul 04.00 kita harus siap siaga untuk mandi pagi. Tidak ada mandi pagi setelah pukul 04.00. Hari dimulai begitu kita selesai mandi pagi. Sisanya, adalah keringat yang mengalir deras disertai otot yang kejang-kejang. Begitu selesai mandi pagi, kita harus menjalani rangkaian aktivitas lanjutan seperti shalat subuh, senam dan makan pagi. Untuk shalat subuh dan senam, ini mungkin bisa kita tolerir. Tapi, bagaimana dengan makan pagi pada pukul 05.30?

Pada beberapa hari pertama, beberapa teman ‘menyerah’ dengan paksaan ini. Mereka mual, dan terserang berbagai penyakit. Ini adalah momen-momen yang berat, yang memaksa siswa untuk cepat beradaptasi dengan kehidupan di Rindam Jaya. Ada hal-hal yang terlewati begitu saja tanpa pemberitahuan lebih dulu, seperti makan yang terlalu pagi. Sayapun merasa tidak nyaman pada awalnya. Perut seperti dikocok-kocok, dipaksakan untuk menelan makanan yang tidak begitu seberapa. Bahkan, boleh dibilang tidak enak. Siapa sih yang doyan ikan piranha dan sayur kaca?

Bukan piranha dalam artian harfiah. Begitupun dengan kaca. Bisa berdarah-darah mulut kita.

Tapi, kehidupan terus berjalan. The clock is ticking. Seberat-beratnya kita menjalani hari, tetap saja kita harus menjalaninya. Hukum kekekalan waktu, atau kekekalan energi, atau apalah, nampaknya hanya memberi kita sedikit waktu untuk berkontemplasi mengenai apa yang sesungguhnya kita lakukan. Di Rindam Jaya, mereka yang bengong harus diwaspadai. Entah apa alasannya, bisa berupa magis maupun sekedar mitos, bengong yang merupakan sarana kontemplasi patut dihindari disana. Inikah cara militer menghindari kontemplasi dari para siswanya? 

Benarkah, bahwa, kontemplasi bisa dihindari?

Itu tergantung masing-masing orang. Nyatanya, saya melihat banyak sekali, kalau tidak mengatakan semuanya, teman-teman saya terbengong-bengong di tengah kelelahan mereka. Dan saya mengira-ngira, apa yang ada di benak mereka? Apakah keluarga? Kehidupan? Nasib? Kesepian dan kebebasan? Ah itu punya saya sendiri rupanya.

Menarik mengamati teman-teman yang menjalani kehidupan baru mereka di Rindam Jaya. Terutama, emosi mereka. Minggu-minggu pertama, saya tidak merasakan adanya emosi yang menggebu-gebu. Entah itu cinta, kemarahan, kesedihan, kerinduan atau apapun. Rata-rata, stabil dan dapat dikendalikan dengan baik. Tapi, minggu kedua dan ketiga, saya mulai mencium bau-bau emosi yang mulai terasa dengan jelas. Ada yang bete, ada yang mulai terlihat egonya, ada yang kekanak-kanakan, ada pula yang dewasa dan berlagak dewasa. Apapun emosi itu, saya menganggapnya sebagai kemanusiaan yang tidak bisa disembunyikan oleh segala bentuk totalitas hidup yang diinternalisasikan Rindam Jaya. Betapapun Rindam Jaya berupaya membentuk jiwa korsa, disiplin, kebersamaan, maupun embel-embel gombal lainnya, emosi-emosi spontan akan selalu terlihat. Dan itu wajar.

Tantangan demi tantangan yang dilalui, baik itu tantangan jangka pendek seperti games maupun jangka panjang seperti totalitas kehidupan di Rindam, semakin memberi arti bahwa kehidupan kepegawaian nanti akan selalu dipenuhi dinamika tantangan di dalamnya. Akan ada tugas-tugas yang berat, yang rasanya tidak mungkin untuk dilakukan, sehingga menuntut pegawai untuk terus memutar otak dan memberikan yang terbaik bagi lembaga. Akan ada tugas-tugas yang benar-benar tidak mungkin untuk dilaksanakan sehingga akan memberikan rekam jejak emosional yang dalam bagi si pegawai. Juga akan ada tugas-tugas yang rutin, yang dapat dikendalikan tanpa usaha yang banyak. Itu semua merupakan tantangan bagi pegawai dalam membuktikan loyalitas, dedikasi maupun profesionalitasnya kepada lembaga.

Karena kita abdi negara, kita dituntut loyal kepada negara. Berikan jiwa dan ragamu hanya kepada kepentingan negara. Bukan kepada materi. Ya, bolehlah, materi kadang sedikit-sedikit. Asal aman terkendali.

Mengenai tantangan, ada satu tantangan yang akan saya ingat seumur hidup, sepertinya. Tantangan itu adalah menyampaikan informasi hanya kepada yang diinstruksikan untuk disampaikan. Artinya, informasi itu tidak boleh bocor di tengah jalan kepada siapapun! Bahkan kepada Presiden atau Dewa sekalipun! Informasi itu wajib hukumnya, fardhu ain, untuk hanya diketahui oleh kita, sang pembawa pesan, dan dia, sang penerima pesan.

Tantangan ini kedengarannya sederhana. Tapi, pada pelaksanaannya, sulit sekali. Akan ada gangguan, ada halauan, ada ketidaksabaran dan ketidaksadaran, yang siap merobohkan dinding pertahanan rahasia negara tersebut. Mungkin, apabila dibaca dalam kenyataan sosial, gangguan itu bisa berupa uang maupun janji-janji surga lainnya. Sekarang, karena masih kental semangat idealismenya, uang maupun janji-janji itu tidaklah sulit untuk dihiraukan. Tetapi nanti, bagaimana? Ketika istri melahirkan, ketika anak butuh susu, ketika orang tua sakit keras, dan kita tidak punya biaya untuk itu semua, apa yang kita lakukan?

Life is what happens, when you’re busy making plans. Kata tukang bual kesukaan saya, Om Lennon.
Atau dalam bahasa Islaminya, Manusia bisa berencana, Allah yang Menentukan.

Itu juga yang saya alami di game jaga rahasia ini. Saya tidak sengaja membocorkan, walaupun sedikit saja, informasi yang seharusnya tidak saya bocorkan. Yang membuat saya menyesal, saya setengah sadar saat melakukannya. Saya tahu bahwa saya tidak boleh membocorkan informasi, tetapi, seiring perjalanan waktu, saya dengan lugu mengatakan petunjuk yang mampu menjadi penghantar kepada isi informasi itu. Saya menyesal, dan saya belajar untuk tidak menyesal kemudian, untuk kasus yang sama.

Mungkin ada beberapa teman yang saking gigihnya mempertahankan informasi, sampai-sampai tidak menyampaikannya kepada orang yang diharuskan menerima informasi tersebut. Ini kan sama parahnya. Disitulah letak tantangannya: kapan kita bisa menahan informasi sembari memercayai orang lain. Tentunya, dengan kritis. Tidak dengan buta begitu saja mempercayai apa-apa kata orang lain. Apalagi, buta dalam menghadapi uang. Itu yang bahaya.

Tulisan ini tidak akan menemui ujungnya apabila berbicara tentang pembelajaran yang didapat. Tiga minggu di Rindam Jaya adalah tiga minggu pembelajaran tanpa henti mengenai hal-hal baru yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Tapi, saya lebih tertarik pada pembelajaran jalanan, pembelajaran tersirat, yang tidak didapatkan di kelas maupun materi yang telah terjadwal. Buat saya, itu lebih mengasyikkan dan enlightening.

Di antara banyaknya pembelajaran jalanan itu, salah satu yang menarik minat otak saya untuk kemudian menuliskannya lebih lanjut adalah tentang kesederhaan dan pilihan hidup para tentara. Terutama, Cata (Calon Tamtama). Mereka telah memilih untuk menjadi tentara di usia belia, kira-kira 17 tahunan. Itu adalah usia-usia remaja menikmati masa muda mereka dengan bermain musik, berpacaran, dan berebut identitas-identitas yang tiada henti-hentinya mereka perjuangkan. Di usia semuda itu, Cata sudah meneguhkan tekad bahwa mereka akan menjadi barisan terdepan pertahanan negara. Mereka akan mengurangi jatah bermain mereka dengan rekan sebaya. Mereka akan memilih latihan, belajar, dan pendidikan tanpa henti-henti yang menguras tenaga dan pikiran. Ini kan luar biasa.

Bukan hanya itu, tentang gaji dan tunjangan yang diterima. Saya tak habis pikir begitu mendengar gaji dan tunjangan mereka yang telah puluhan tahun mengabdi. Objectively speaking, frankly speaking, sangat kecil. Mereka menutup-nutupinya dengan kata cukup dan alhamdulillah. Rasanya, itu bukan menutup-nutupi, tapi, itu adalah ekspresi syukur yang religius dan dalam. Luar biasa.

Ternyata, menjadi negarawan tidak mesti menjadi elit yang mengurus hal-hal besar mengenai kenegaraan.

Sampai pada tahap ini, saya bingung mengapa saya masih melanjutkan penulisan ini. Rasanya, semua hal di Rindam Jaya ingin saya tuliskan. Tapi saya bingung merangkaikannya ke dalam bentuk tulisan yang utuh. Dan saya yakin, haqqul yaqin, bahwa bukan cuma saya yang merasakan hal ini. Siapa sih yang tidak ingin merekam pengalaman hidup ke dalam tulisan yang orisinil dan tulus? Foto memang bisa merekamnya dengan baik, amat baik. Tapi, ada dimensi-dimensi kenyataan maupun emosi yang lain, yang hanya bisa direkam melalui tulisan dan kata-kata. Untuk alasan pengabadian itulah, saya menulis. Meski tidak terstruktur, sistematis dan massif.

Salah satu keheranan saya, yang rasanya amat disayangkan kalau tidak dituliskan, adalah mengenai cara pelatih maupun guru militer dalam membaca siswa. Mereka layaknya cenayang yang mengetahui karakteristik siswa, dan yang lebih dahsyatnya, masa depan siswa! Ini kan setengah gila. Atau memang kegilaan. Saya tidak tahu mengapa mereka diberkati bakat seperti itu, tapi nampaknya, mereka mendapatkannya setelah bertahun-tahun mengajar siswa dengan berbagai karakteristik. Nampaknya ada pola-pola dari masing-masing orang yang dapat dipetakan dengan mudah sehingga dapat menilai bagaimana kualitas serta kebiasaan sampai selera masing-masing orang. Ini hebat dan mengagumkan. Walau terkadang juga menjengkelkan, saking sok tahunya.

Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?

Saya beri judul tulisan ini halaman pengasingan karena di Rindam Jaya, setiap hari adalah keterasingan. Setiap hari bagaikan halaman-halaman buku yang baru, yang akan dibaca. Kita tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di Rindam Jaya. Memang, ada jadwal pelajaran yang bisa kita lihat. Tapi, demi alasan tertentu, saya memilih untuk tidak melihatnya. Saya membiarkan diri saya masuk ke dalam keterasingan total. A total alienation. 

Lagipula, mereka yang melihat jadwalpun tidak akan mengetahui dengan pasti bagaimana berjalannya kegiatan. Akan selalu ada kebaruan yang menyertai perjalanan hari di Rindam Jaya. Dan kita semua tahu, bahwa, kebaruan tidak hanya terletak pada apa yang terlihat oleh mata kepala, tapi juga yang tidak terlihat olehnya. Dengan kata lain yang lebih mudah dipahami, kebaruan perasaan terhadap sesama teman dan pelatih. Dari prejudice menuju verstehen. Dari biasa saja sampai peduli. Dari bodo amatan hingga cinta. Rasanya, ini tidak bisa ditolak. Ini adalah kebenaran universal bagi siapapun mereka yang menjalani harinya bersama-sama. 

Apabila makan, mandi, nyanyi, shalat hingga berak pun kita bersama, apalagi yang menghalangi kita dari saling memahami satu sama lain? Apalagi yang membuat kita tidak peduli terhadap yang lain? Bagaimanapun permulaannya, akhirannya selalu sama: solidaritas.

Ah, saya terlalu mellow rupanya. Tapi, sulit rasanya untuk tidak mellow ketika bicara Rindam Jaya. Pengasingan ini terlalu syahdu untuk disesali. Saya, dan teman-teman yang lain, benar-benar menikmati keterasingan ini. Terima kasih untuk kebaruan hidup yang benar-benar unik, Rindam Jaya.


HORMAAAAT SEEEEEEEENJATAAAA........ GRRRRAK!!!
24 Februari 2015




Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang